Pemkot Mengajak Investor Berinvestasi di Samarinda

NERACA

Samarinda - Iklim investasi di Samarinda semakin meningkat seiring dengan hadirnya pasar modern, Alfamart, dan Hotel Harris di ibukota Provinsi Kalimantan Timur tersebut. Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang, menuturkan pemerintah kota (pemkot) tengah giat membangun infrastruktur, sarana dan prasarana di Kota Tepian itu.

\"Kehadiran pasar modern dan investor yang bergerak di bidang perhotelan menunjukkan bahwa iklim investasi di Samarinda memiliki prospek cerah serta dampak luas bagi masyarakat. Kami ingin Kota Samarinda maju dan terus berkembang menjadi kota metropolitan berbasis lingkungan dan pro ekonomi rakyat,\" jelas Syaharie, pekan lalu.

Investasi di sektor retail di Kota Samarinda, lanjut dia, terus tumbuh begitu pula properti kelas nasional dan internasional maupun sektor perbankan juga terus hadir. \"Ini menunjukkan Kota Samarinda yang saat ini berpenduduk 938 ribu jiwa dan dikelilingi kabupaten/kota yang kaya, sangat strategis dan potensial bagi investor untuk menanamkan modalnya, khususnya yang bergerak di sektor perhotelan dan retail,” terangnya.

Syaharie lalu memberi contoh banyak kalangan pebisnis yang beraktivitas di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), namun mereka berbelanja maupun mencari hiburan di Samarinda sehingga sekitar 10% dari transaksi tersebut masuk PAD (pendapat asli daerah) Samarinda. Dia pun menegaskan, pemkot selalu terbuka kepada semua investor yang akan menanamkan modalnya di sini.

\"Kota Samarida tidak memiliki sumberdaya alam (SDA) yang melimpah seperti beberapa kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur, tetapi karena berada di tengah-tengah sehingga posisi ini cukup strategis bagi daerah ini sebagai tempat investasi,\" ungkapnya.

Pemancangan tiang Hotel Harris, menurut dia, akan semakin menambah perkembangan yang baik bagi Kota Samarinda. Saat ini terdapat 49 hotel melati, empat hotel berbintang, termasuk hotel Harris, yang akan memberikan nuansa berbeda. \"Saya pastikan, ini satu-satunya hotel yang menghadap ke Sungai Mahakam, dan kemungkinan tidak lama lagi akan hadir pula mal besar, termasuk pusat perbelanjaan premium, Sogo,\" kata Syaharie Jaang.

Impor mendominasi

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi serta UMKM (Disperindagkop) Kalimantan Timur, M Djailani, menyebutkan impor Kalimantan Timur melalui Kabupaten Nunukan dari Malaysia setiap tahunnya lebih besar dibanding ekspor atau mengalami defisit, seperti tahun 2012 sebesar Rp3,15 miliar.

\"Defisit Rp3,15 miliar itu berasal dari impor ke Tawau sebesar Rp3,31 miliar, sedangkan ekspor melalui Nunukan hanya Rp157,26 juta,\" ujar M Djailani. Nunukan, yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu merupakan pintu masuk barang-barang dari Tawau, Sabah, Malaysia bagian timur, termasuk barang kebutuhan pokok.

Djailani yang didampingi Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindagkop Kaltim Restiawan Baihaqi ini mengatakan, angka tersebut diperoleh berdasarkan catatan Kantor Bea Cukai Kabupaten Nunukan yang dikirim ke Disperindagkop Kaltim.

Menurut dia, nilai ekspor dari Nunukan yang berbatasan langsung dengan Tawau dengan besaran Rp157,26 juta hanya berupa buah kelapa sawit. Sementara impor Nunukan dari Tawau cukup bervariasi seperti bubuk kakao, minyak kelapa sawit, kentang, minuman ringan, perkakas dapur/masak dan makan, tepung, jaring ikan, kasur, dan paku.

Selain itu ikan segar, ikan segar campur, ikan beku, makanan ringan, bawang merah, kompor gas, berbagai jenis sayur, berbagai jenis buah, gergaji rantai dan barang campuran lain. Sejumlah komoditas yang diimpor dari Tawau itu, selain dikonsumsi masyarakat Nunukan juga dikirim ke Tarakan dan Malinau, tetapi kedua daerah itu tidak memiliki Kantor Bea Cukai sehingga pencatatan perdagangan lintas antarnegara ini tidak dapat dilakukan secara detil.

Selama ini, kata Djailani, perdagangan lintas batas Nunukan-Tawau hanya dibatasi untuk barang-barang kebutuhan sehari-hari pada wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia Timur, namun jumlahnya dibatasi dengan nilai US$650 per kepala keluarga setiap bulan sehingga dianggap terlalu kecil.

Oleh karena itu, pihaknya ingin meningkatkannya sehingga dalam beberapa kali pertemuan Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo), sering diusulkan untuk menaikkan nilai perdagangan itu hingga US$1.500, tetapi hingga kini belum disetujui kedua pemerintah.

Jika dilihat dari grafik nilai ekspor-impor tiap bulan, maka impor dari Tawau ke Nunukan yang tertinggi terjadi pada Januari dengan besaran Rp396,90 juta, sedangkan ekspor dari Nunukan ke Tawau tertinggi terjadi pada September yang sebesar Rp23,54 juta. [ardi]

Related posts