Pertamina Gelar Operasi Pasar Elpiji - Redam Gejolak Harga

NERACA

Jakarta - Harga gas elpiji 12 kg sempat tak terkendali. Di beberapa daerah mengalami kelangkaan gas elpiji, meskipun ada, harganya bisa mencapai Rp90 ribu sampai Rp120 ribu padahal harga resminya hanya Rp78 ribu. Untuk mengatasi kelangkaan dan kenaikan gas, PT Pertamina (Persero) akan memasok secara serentak elpiji 12 kilogram di Pulau Jawa bagian barat.

Juru bicara Pertamina Ali Mundakir menyatakan, kegiatan operasi pasar elpiji ini menggandeng 130 agen gas. Sebanyak 12.500 tabung elpiji 12 kg digelontorkan ke pasaran. \"Tujuan pelaksanaan operasi pasar Elpiji 12kg adalah untuk segera memulihkan harga di pasaran yang sampai saat ini dilaporkan masih ada yang menjual dengan harga tinggi,\" ungkap Ali dalam keterangan tertulis di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dari total 12.500 tabung yang disebar, 3.500 tabung disalurkan ke wilayah Jabodetabek, sedangkan 9.000 tabung didistribusikan untuk daerah-daerah non Jabodetabek. Ali menyatakan, dua hari lalu pihaknya sudah memasok tambahan 3.500 tabung elpiji 12 kg. Namun, tingkat serapannya di konsumen akhir rumah tangga sangat kecil, sehingga harga tetap tinggi. \"Hasil evaluasi kami dari operasi pasar kemarin menunjukkan tingkat penyerapan oleh masyarakat hanya sekitar 410 tabung atau sekitar 12 persen dari total tabung yang kami sediakan,\" ungkapnya.

Supaya tidak ada lagi spekulan, seperti yang sempat dituduhkan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, perusahaan pelat merah itu meminta masyarakat agar melaporkan agen yang menjual elpiji jauh di atas harga normal. Laporan masyarakat dapat dilakukan dengan menghubungi telepon Pertamina di 021-500000 atau sms ke 0815-9-500000. Ali meminta konsumen langsung mengadu ke polisi jika meyakini ada penjual atau agen yang menimbun gas untuk bahan bakar kompor tersebut.

Selain gas 12 kg, masyarakat pekan lalu mengeluhkan harga gas subsidi 3 kilogram yang turut melonjak. Di Jakarta Timur dan Barat, banyak pedagang eceran menjualnya dengan harga Rp 16.000 per tabung. Bahkan, ada juga yang menjual dengan harga Rp 30.000 per tabung.

Atas kenaikan yang tidak terkendali itu, Karen Agustiawan enggan disalahkan. Dia justru menuding banyaknya agen-agen elpiji nakal yang memainkan pasokan dan harga. Hal itu yang akhirnya membuat elpiji di pasaran menjadi langka.

Karen menegaskan pihaknya sudah memetakan dan siap menindak tegas agen-agen nakal tersebut dengan mengurangi jatah kuota elpiji agen nakal. \"Dan kuotanya sudah kami hukum, kami kurangi (kuota agen). Ada beberapa agen yang kami mau putus,\" kata Karen.

Kelangkaan Elpiji

Ketua Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Kota Depok Muhammad Athar Susanto mengatakan memang telah terjadi kelangkaan elpiji 12 kilogram. Namun, hal itu bukan disebabkan tersendatnya pengiriman tabung dari pihak Pertamina.

Athar mengatakan, distribusi gas 12 kg tersebut dari agen ke pengecer tetap normal sesuai dengan permintaan yang sudah ditetapkan. Namun, karena adanya pembelian mendadak atau panic buying di sejumlah tempat di Depok membuat terkesan gas 12 kg susah dicari.

\"Ini isu lama. Kuota pengecer itu sudah ditetapkan bersama. Jadi ketika pengecer kehabisan gas 12 kg dalam sehari, harus menunggu kiriman lagi. Agen juga kan dikirim dari Pertamina sesuai kuota yang sudah ditetapkan. Jadi harus menunggu. Kalau terlambat beberapa jam wajar mungkin macet di jalan. Tapi jika lapor ke kami pasti akan dipasok,\" ujarnya.

Athar menambahkan, Hiswana Migas sudah melakukan operasi pasar untuk gas 12 kg. Sementara untuk pasokan gas 3 kg, kata Athar, kondisinya aman bahkan hingga tiga hari ke depan.

Tak hanya itu, munculnya produk gas baru dari Pertamina berupa bright gas (12 kg) dan ease gas (9-14 kg) berdampak terhadap sulitnya konsumen menengah ke atas membeli tabung gas biru 12 kg. Namun, Athar membantah jika sulitnya memperoleh tabung gas biru 12 kg karena strategi Pertamina. \"Tidak, Pertamina tidak salah. Sulitnya konsumen memperoleh gas 12 kg itu akibat panik buying dari masyarakat. Hal itu berdampak pengecer kehabisan gas 12 kg dalam waktu yang cepat,\" tegasnya.

Athar menyarankan kepada konsumen gas menengah ke atas untuk beralih ke gas bright dan ease gas jika kesulitan memperoleh gas 12 kg tabung biru. Untuk bright gas harganya Rp 90.000 dan ease gas (9-14) Rp 115.000. Di Depok gas tersebut sudah disebarkan dibawah 20.000 tabung. \"Mudah kok, bawa saja gas 12 kg tabung biru, kemudian ditukarkan ke bright dan ease ke pengecer. Harganya sudah ditetapkan,\" tutupnya.

Related posts