BEI Masih Kaji Batasan Aturan Free Float

NERACA

Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong keluarnya aturan terkait batas minimal pelepasan perdana saham atau initial public offering (IPO) calon emiten sebesar 15% dari modal disetor. BEI juga tengah mengkaji batas minimal porsi saham yang beredar di publik (free float).“Kami tengah mengkaji untuk menerapkan batas minimal porsi saham free float calon emiten, walaupun untuk jumlahnya belum kami putuskan karena masih dikaji,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen di Jakarta akhir pekan kemarin.

Sebagai informasi, free float adalah saham yang beredar di publik yang biasanya dimiliki investor ritel. Jumlah saham free float inilah yang menentukan likuiditas perdagangan saham suatu emiten di BEI. Saat ini ada beberapa calon emiten yang melaksanakan IPO dengan melepas 10% saham ke publik namun free float-nya hanya 2%.

Alhasil, pergerakan saham emiten tersebut diperkirakan akan kurang likuid ditransaksikan investor. Kata Hoesen, pihaknya juga tengah mengupayakan agar revisi aturan ini dapat berlaku surut. Artinya, harus diterapkan tidak hanya oleh emiten baru namun oleh emiten yang telah mencatatkan sahamnya di BEI. “Nantinya dalam penerapannya, kami akan memberikan waktu bagi emiten untuk menyesuaikan aturan ini dan wajib diterapkan oleh seluruh emiten,”tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Ito Warsito menuturkan, kekecewaannya dengan hasil riset beberapa sekuritas yang pesimis dengan proyeksi IHSG hingga akhir 2013. Namun, BEI menganggap hal tersebut adalah kebijakan dari setiap sekuritas dan semuanya diserahkan kepada pasar untuk menilainya. “Analis sekuritas boleh saja membuat prediksi apapun terkait IHSG, namun harus ingat bahwa ada kepercayaan nasabah disana. Jika prediksi mereka tidak sesuai dengan realitas pasar tentu akan mengurangi kepercayaan nasabah,”ujarnya.

Ito juga menghimbau kepada sekuritas untuk membuat asumsi level IHSG di akhir tahun ini yang masuk akal dengan kondisi pasar. Sebelumnya, Kepala Riset PT Mandiri Sekuritas John Rahmat, berbeda pandangan terkait target level IHSG di akhir 2013. “Kami menilai target akhir tahun IHSG akan melemah ke level 4.000 poin,” jelasnya.

Menurut John, kenaikan IHSG yang sebelumnya terjadi yang sempet menembus level 5.200 poin lebih dikarenakan oleh aliran dana asing dan bukan pengaruh dari fundamental. Prediksi IHSG ini sendiri diperkirakan akan terjadi karena ada dua faktor, pertama adalah tekanan nilai tukar Rupiah dan diturunkannya peringkat utang Indonesia karena pemerintah tidak memberikan ketegasan terkait harga BBM bersubsidi. “Faktor lainnya adalah berkurangnya likuiditas di pasar global karena berkurangnya dana dari program stimulus ekonomi (quantitative easing) yang dilakukan oleh negara-negara maju,” jelas John. (bani)

Related posts