Waspadai Kenaikan Indeks Sesaat

NERACA

Jakarta- Lebih banyaknya sentimen negatif telah mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) longsor sepanjang Juni sehingga tak ayal membalikkan Indeks ke level Februari. Bahkan, harapan IHSG untuk kembali menguat karena telah berada di area oversold dinilai belum cukup meyakinkan.“Sentimen yang ada belum sepenuhnya positif. Tetap waspada dengan sentimen regional dan dalam negeri serta perhatikan volume perdagangan sebelum memutuskan untuk entry level. Jangan sampai kenaikan yang terjadi hanya kenaikan sesaat. jelas Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Minggu (16/6).

Menurutnya, meskipun posisi penutupan IHSG di akhir pekan mencapai target support 4737-4812 seperti diprediksi sebelumnya, belum mengkonfirmasikan akan terjadinya upreversal signifkan ke depan. “Diperkirakan pada pekan depan, IHSG akan berada pada rentang support 4480-4570 dan resisten 4945-4978.” ucapnya.

Meskipun demikian, kata dia, banyak saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar, antara lain SMGR, MAPI, INDF, ARNA, NIKL, SMCB, BAJA, RALS,TLKM, CPIN, AISA, PGAS, MAIN, GJTL, KLBF, ASII, ROTI, UNVR, INTP, dan MNCN.

Disebutkan Reza, pada perdagangan sepekan IHSG mengalami penurunan sebanyak 104,58 poin atau turun sebesar 2,15% di atas pekan sebelumnya yang turun dalam -203,31 poin atau sebesar 4,01%. Penurunan ini juga terjadi pada indeks utama lainnya dimana indeks DBX memimpin penurunan -5,22% dan diikuti indeks ISSI dan MBX yang masing-masing anjlok sebesar -1,95% dan -1,65%.

Laju indeks sektoral pun ikut terkena koreksi, namun masih ada beberapa sektor yang mampu bertahan positif antara lain indeks aneka industri, industri dasar, dan perkebunan yang masing-masing mengalami kenaikan +2,51, +2,22%, dan +0,02%.

Aksi jual yang dilakukan investor asing, lanjut dia, sejauh ini sudah mulai berkurang, terutama di akhir pekan. Meskipun selama sepekan asing mencatatkan nett sell sebesar Rp9,144 triliun lebih tinggi dari pekan sebelumnya Rp5,094 triliun. Sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi tidak nyaman, yaitu masih rendahnya nilai tukar tupiah, turunnya nilai cadev dalam lima bulan terakhir, dan belum jelasnya waktu kenaikan harga BBM.

Selain itu, ketergantungan pelaku pasar terhadap berita stimulus membuat banyak pelaku pasar sakaw sehingga adanya berita negatif terkait penarikan stimulus direspon langsung dengan melakukan aksi jual. Di sisi lain, rilis penurunan outlook pertumbuhan global oleh Bank Dunia dari 2,4% menjadi 2,2% dan pertumbuhan China dari 8,4% menjadi 7,7% juga ikut menambah sentimen negatif bagi laju bursa regional.

Beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen ke depan, antara lain Interest rate decision India; House price China; Current account and GDP New Zealand; RBA buletin Australia; Industrial production and trade balance Jepang; Balance of trade Italia; Balance of trade Spanyol; Inflation rate, price producer index, BoE meeting, and retail price index Inggris; ZEW economic sentiment Jerman. (lia)

Related posts