Dharma Satya Nusantara Siapkan Capex US$ 270 Juta - Targetkan Produksi 330 Ribu Ton

NERACA

Jakarta – Guna memperkuat modalnya dalam tiga tahun kedepan dari tahun 2013-2015, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menganggarkan belanja modal sebesar US$ 270 juta, “Nanti setiap tahun masing dialokasikan US$ 90 juta. Dana tersebut sebagian besar untuk perkebunan kelapa sawit,”kata Wakil Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk, Andrianto Oetomo di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia mengungkapkan, untuk pembiayaan capex tahun ini diperuntukkan penamanan baru dan pembangunan dua pabrik dengan mengkombinasikan sumber pendanaan antara dana dari IPO dan pinjaman bank.

Dirinya menegaskan, perseroan tengah mengoptimalkan biaya produksi per ton CPO seefisien mungkin. Bila tahun lalu rata-rata umur tanaman 7,1 tahun, tahun ini naik 7,8 tahun. Artinya ada kenaikan yield dari luas lahan dan dampaknya jumlah volume TBS (tandan buah segar) juga meningkat, volume CPO juga naik, “Diharapkan volume naik ,maka cost produksi per ton lebih rendah,\"tuturnya.

Kata Andrianto, tahun ini perseroan menargetkan volume CPO sekitar 320 - 330 ribu ton atau naik dari capaian tahun lalu sebesar 252 ribu ton, “Jika sumbangan CPO tahun lalu mencapai 58% dari total pendapatan korporasi, tahun ini ditargetkan 60% - 62% dari total pendapatan korporasi,”ungkapnya.

Menurutnya, hal ini juga dipengaruhi dengan harga CPO. Saat ini memang harga mulai merangkak naik dan espektasi seberapa cepat, perseroan belum bisa memastikan. Adapun target pendapatan tahun ini tumbuh di level 15% dari capaian tahun lalu sebesar Rp3,4 triliun. \"Tahun ini revenue ditargetkan tumbuh 15%. Botom line juga di level yang sama,”tuturnya.

Soal kenaikan upah buruh dan kenaikan harga komoditas, lanjutnya tidak begitu berpengaruh pada kinerja perseroan. Paslanya, para pekerja perseroan sudah menerima upah lebih tinggi dari UMR. Karena hampir semua pekerja menerima upah berdasarkan performace, besaran hasil panen. Jadi impact kenaikan UMR tidak banyak. Demikian juga fluktuasi rupiah, menurutnya, selama ini pemasaran perseroan di lokal jadi harga ditentukan trading lokal.

Luas Lahan

Untuk ekspansi, Direktur Utama DSNG, Djojo Boentoro menjelaskan, perseroan tidak menambah jumlah lahan dengan membeli lahan baru, mengingat DSNG mempunyai cadangan lahan yang cukup. \"Cadangan lahan kita 120 ribu hektar belum ditanam. Ini cukup untuk rencana tanam 7-8 tahun ke depan. Demikian dengan kayu, kita hanya proses dan ekspor. Kita beli kayu sengon dari hutan masyarakat,\"tegasnya.

Secara total, cadangan lahan DSN mencapai sekitar 181.104 Ha dengan total area tertanam sekitar 61.052 Ha. Dengan catatan produksi yang ada, DSN merupakan salah satu perusahaan yang terdepan di industrinya untuk hasil TBS dan OER.

Hasil produksi TBS DSN mencapai 22,9 Ton/Ha, sementara OER stabil di level 24% selama tiga tahun terakhir, melampaui perusahaan sejenis di Indonesia dan Malaysia. Sementara untuk bisnis kayu, DSN adalah pemain produk kayu yang mapan dan ter-diversifikasi. Ini terlihat dari penyebaran pasar antara lain, Asia (non-Jepang) 27%, Jepang 21%, Indonesia 14%, Amerika Utara 14%, Timur Tengah 11%, dan Eropa 7%.

Sebagai informasi, debut pertama di pasar modal saham perseroan langsung dibuka menguat ke harga Rp1.890 per saham, meningkat dari harga penawaran sebesar Rp1.850 per saham. Peningkatan harga tersebut hasil dari 132 transaksi pembuka, dengan nilai mencapai Rp.4 miliar. Ada pun saham yang dilepas DSN ke pasar sebesar 275 juta lembar saham baru atau 12,97% dari modal yang ditempatkan, pasca IPO. Jumlah tersebut terkoreksi hingga 225 juta lembar saham dari rencana awal yang sekitar 500 juta lembar saham. \"Itu pertimbangan kita (underwriter) guna menyeimbangkan posisi saham Perseroan di pasar, sehingga perlu kita kurangi,\" jelas Ferry Budiman Tanja, Direktur Utama PT Ciptadana Securities. (bani)

Related posts