Dana Asing Pulang Kampung, IHSG Makin 'Letoy'

NERACA

Jakarta – Selama sepekan penarikan dana asing di pasar modal cukup deras dan ditaksir sudah mencapai Rp 8 triliun. Dampak eksodusnya dana asing keluar dari pasar modal, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terus terkoreksi dari level 5000 hingga terjun di level 4.607,663 pada penutupan perdagangan saham Kamis (13/6) kemarin.

Pengamat pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Agus Irfani mengatakan, terpuruknya IHSG ke level terendah sejak Maret 2013 ini tidak terlepas pula dari akumulasi net sell (nilai jual bersih) investor asing yang mencapai Rp15 triliun selama Juni 2013, “Kondisi ini akan terus berlangsung hingga akhir Juni, kecuali BI bisa menstabilkan moneter dan pemerintah berhasil memperbaiki neraca perdagangan serta mengatasi dampak maju mundurnya kenaikan BBM. Selain itu juga semua harus didukung dengan sentimen negatif global yang juga mereda,\" katanya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (13/6).

Dia menjelaskan, realitas empirik pasangsurutnya IHSG sebagai indikator utama kinerja teknikal BEI tersebut tidak terlepas dari masih lemahnya kinerja fundamental BEI terkait dengan jumlah emiten, jumlah investor lokal, nilai kapitalisasi bursa, lemahnya minat perusahaan-perusahaan Indonesia untuk melakukan initial public offering (IPO).

Dia mengungkapkan, fenomena rentannya pergerakan IHSG tersebut menunjukkan bahwa bursa saham Indonesia masih terlalu tergantung pada peran investor asing yang hingga kini masih mencapai kisaran 56%-67%. “Hal ini pulalah yang diduga menjadikan kinerja BEI terlalu sensitif terhadap kondisi perekonomian global dan regional,” papar.

Menurut Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, tahun ini merupakan sejarah dimana dana asing ke luar dari pasar modal selama bulan Februari tembus hingga capai Rp 18 triliun besarnya, ”Ini merupakan sejarah di mana investor asing melakukan aksi beli bersih cukup besar di tengah maraknya berita negatif,” katanya.

Sebut saja, mulai dari sentimen negatif downgrade peringkat surat utang dari Standard & Poor\'s, serta The Fed yang akan mengurangi quantitative easing. Disusul kebijakan BBM yang urung dilakukan, pertumbuhan ekonomi yang hanya 6,08 % dibawah angka konsensus 6,2-6,4 %, serta inflasi yang sulit dikendalikan karena korupsi dan kinerja emiten kuartal pertama 2013 tidak sesuai harapan masih menjadi pemicu dana asing akan terus keluar dari pasar modal.

Oleh karena itu, Satrio memprediksi, indeks BEI kedepan bisa menyentuh titik terendahnya di level 4.500. ”Bottom indeks akan tercapai pada dua minggu ke depan dari sekarang,” paparnya.

Titik terendah koreksi indeks BEI, lanjutnya, bisa terus lebih buruk apabila nilai tukar rupiah terus terjadi. Kendatipun demikian, dirinya menilai meskipun dana asing keluar tiap harinya mencapai Rp 1 triliun akan tetap kembali masuk ke pasar Indonesia. Bahkan tahun depan, lanjutnya, IHSG bisa naik lagi ke 5.800 atau nailk 15% dibanding tahun ini.

Bergerak Cepat

Sedangkan analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto mengatakan, untuk mengembalikan saham ke posisi rebound seharusnya pemerintah bisa bergerak cepat untuk memprediksi apa yang akan terjadi ketika saham mulai terkoreksi. \"Hal ini dilakukan agar orang juga dapat memprediksi, namun kepastian soal kebijakan-kebijakan juga harus segera diselesaikan,\" tegasnya.

Guntur menjelaskan, kejadian terkoreksi ini mungkin terjadi hanya sementara, karena investor asing melihat Indonesia yang kurang kompetitif. \"Bisa saja dibilang dollar pulang kampung, ini karena kondisi makro di Indonesia lagi goyang akibat BBM mengakibatkan masih tertekan,” tuturnya.

Sedangkan sektor yang berpeluang besar untuk kembali rebound menurutnya adalah properti dan batubara. Sedangkan yang melemah dia mengatakan batubara salah satunya.

Sebaliknya, Kepala Eksekutif OJK untuk Pasar Modal, Nurhaida pernah bilang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tidak dapat mengintervensi atau mengambil tindakan khusus untuk mengatasi tekanan yang terjadi di pasar modal seiring runtuhnya IHSG. “Peran OJK selaku regulator dan pengawas keuangan. Khusus untuk pasar modal, sifatnya market driven. Jadi OJK sifatnya mengawasi, dalam undang-undangnya pun tidak ada kewenangan atau tindakan untuk mengintervensi. Namun, kita akan melakukan pengawasan secara lebih intens,” jelasnya.

Menurutnya, dewan komisioner telah melakukan rapat untuk mencermati tekanan yang terjadi di pasar modal. OJK juga sudah berbicara dengan Bursa Efek Indonesia (OJK) sebagai penyelenggara pasar modal yang mengawasi pergerakan pasar modal untuk mengawasi lebih dekat dinamika yang terjadi baik di pasar primer maupun sekunder.

Related posts