Bukopin Belum Ingin Menaikkan Suku Bunga

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk, Glen Glenardi, mengaku pihaknya belum akan menaikkan suku bunga kredit terkait dengan keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75% menjadi 6%. \"Kami belum akan menaikkan suku bunga), karena masih melihat situasi terlebih dahulu,\" kata dia di Jakarta, Kamis (13/6). Glen menuturkan pihaknya akan lebih berhati-hati untuk menaikkan suku bunga kredit demi menjaga loyalitas nasabah. \"Jangan sampai naiknya rate (bunga) menyusahkan nasabah,\" tambahnya. Kebijakan kenaikan suku bunga kredit, lanjutnya, dikhawatirkan akan turut menaikkan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) di Bukopin.

\"Kita akan evaluasi terlebih dahulu,\" tuturnya. Per kuartal I 2013, NPL Bukopin sendiri tercatat 2,38%, lebih kecil dibandingkan NPL pada akhir 2012 sebesar 3,46%. \"Kami akan terus jaga NPL di bawah tiga persen,\" kata Glen. Sebelumnya, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, kemarin, memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%, dengan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing tetap sebesar 4,25% dan 6,75%. Bank sentral menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk secara pre-emptive merespon meningkatnya ekspektasi inflasi serta memelihara kestabilan makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global.

Selain itu, Glen menyatakan sudah melakukan koreksi rencana bisnis bank (RBB) terkait dengan diperkirakan melonjaknya inflasi sebagai dampak kenaikan harga BBM Bersubsidi. \"Kami sudah lakukan koreksi RBB sejak awal tahun 2013 dan kenaikan harga BBM juga kami masukkan dalam perhitungan,\" kata dia. Glen menuturkan, koreksi tersebut lebih terkait ke hal-hal minor yakni seperti jumlah outlet. \"Misal jumlah outlet, ada yang dikurangi dan ada yang ditambah,\" jelasnya. Menurut Glen, rencana bisnis bank yang telah disusun tersebut dipredisikan masih relevan dengan kondisi terkini. \"Perkiraan kita RBB masih relevan dengan periode akhir semester pertama dan memasuki akhir 2013 ini,\" kata dia.

Ketidakpastian kenaikan harga BBM Bersubsidi yang saat ini sedang dibahas oleh pemerintah dan DPR, dinilai menjadi penghambat bank-bank dalam menyiapkan draft rancangan bisnis bank yang harus disetorkan kepada Bank Indonesia pada Juni. Pemerintah juga didesak untuk secepatnya memutuskan kebijakan kenaikan BBM karena kepastian kebijakan tersebut jelas akan berdampak kepada naiknya inflasi. [ardi]

Related posts