Kadin Minta Pemerintah Genjot KUR - Kompensasi Kenaikan BBM

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah memberikan sinyal atas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Disamping akan menaikkan harga BBM, pemerintah juga akan memberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) kepada masyarakat miskin. Namun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Koperasi Erwin Aksa meminta kepada pemerintah untuk menggenjot Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menurut dia, selain masyarakat miskin, pelaku UKM juga akan terkena imbasnya dari kenaikan harga BBM tersebut. Oleh karena itu, UKM juga membutuhkan bantuan seperti KUR. “Selain ada kepastian, UKM kita butuh bantalan. Tapi bukan bantuan tunai, melainkan akses modal yang lebih mudah dari perbankan,” kata Erwin di Jakarta, Kamis (13/6).

Berdasarkan data yang dimilikinya, deitur KUR hingga Maret 2013 mencapai 8.254.737 orang. Dari jumlah tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) paling banyak menyalurkan KUR atau mencapai 92,33%. \"Saya kira perbankan lain juga harus menggenjot penyaluran KUR, utamanya bank-bank penyalur KUR,” ujar Erwin.

Sementara itu, menurut dia, pelaku UKM meminta kepastian kepada pemerintah terkait kenaikaan harga BBM. Pasalnya, pelaku UKM saat ini kesulitan membuat rencana bisnis karena ketidakpastian harga BBM telah berlangsung hampir tiga bulan.

Palaku UKM menilai, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menaikkan harga BBM, sebelum Ramadhan dan Lebaran. Pasalnya, ingkat resistensi dari partai politik dan masyarakat akan kenaikkan harga BBM sudah rendah. Jika tidak dilakukan saat ini, dia khawatir, momentum ini akan lewat Seiring dengan inflasi yang terus meningkat dan beban hidup masyarakat semakin tinggi.

Senada dengan Erwin, Anggota Komisi XI DPR RI Arif Budimanta mengatakan UKM khususnya industri makanan, merupakan sektor yang paling terpengaruh oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. \"Ada beberapa sektor UKM yang akan terkena dampak dari kenaikan BBM. Namun, yang paling terpengaruh pertama kali adalah sektor industri makanan,\" kata Arif.

Menurut dia, UKM yang bergerak dalam industri makanan dapat menjadi sektor yang terkena dampak paling besar karena biaya produksinya bisa bertambah sekitar 15 hingga 20 persen ketika harga BBM dinaikkan. \"Selain itu, ada juga dampak lanjutannya, yaitu harga makanan pun ikut naik, karena di dalamnya termasuk ongkos delivery (antar) yang ikut terpengaruh oleh kenaikan harga BBM,\" kata Arif.

Selain industri makanan, lanjut dia, jasa transportasi merupakan sektor UKM kedua yang diperkirakan akan terkena dampak kenaikan tersebut. \"Jasa transportasi akan jadi sektor UKM kedua yang terkena dampak kenaikan BBM, karena bahan bakar merupakan komponen utama dalam biaya produksi sektor tersebut. Sehingga, diperkirakan dampak kenaikan harga sekitar 30-40% terhadap biaya produksi,\" katanya.

Arif mengungkapkan bahwa secara keseluruhan, kenaikan harga BBM pasti akan mendorong biaya produksi, termasuk biaya pengangkutan. \"Untuk UMKM yang memiliki modal pas-pasan, maka kemungkinan akan mengalami gangguan dalam proses produksinya. Tak hanya itu, kebangkrutan pun juga akan ikut mengancam,\" katanya.

Arif menambahkan, adanya gangguan dalam proses produksi atau ancaman kebangkrutan akan dapat mengakibatkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran dan akhirnya menimbulkan masalah sosial lain yang jauh lebih kompleks.

Paket Bantuan

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syariefuddin Hasan mengungkapkan adanya kenaikan harga BBM otomatis akan mendorong inflasi. Untuk UKM, ia akan memberikan paket-paket bantuan pembiayaan agar kenaikan harga BBM tidak berdampak ke pelaku UKM. \"Itu kurang lebih 7,2% inflasi naik, nggak apa-apa kita tinggal menjaga UKM bisa bersaing lagi satu sisi bagaimana stimulasi mereka, caranya? Program pembiayaan, pelatihan, itu yang paling penting,\" cetusnya.

Bagi kalangan pengusaha muda Indonesia, Ketua BPD HIPMI Jaya Andika Anindya Wiguna mengatakan pihaknya mendukung keputusan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ia berpendapat kenaikan harga BBM tidak berpengaruh banyak kepada pengusaha terutama pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). \"Kenaikan harga BBM itu kan tidak begitu besar hanya Rp 6.500/liter jadi dampakya juga tidak terlalu besar bagi pelaku UKM,\" tutur Andika.

Menurutnya sektor usaha yang akan terkena dampak besar dari adanya kenaikan harga BBM adalah sektor logistik dan distribusi. Namun ia memastikan sudah ada perhitungan yang matang dari pengusaha dengan adanya kenaikan harga BBM. \"Jadi tegantung jenis usaha juga. Distribusi dan logistik juga sisi usaha transportasi yang paling kena dampak. Setiap perusahaan harus cari solusi. Namun BBM naik sektor usaha masih bisa berjalan. Yang penting kepastian untuk menaikan harga BBM itu ada. Kita perhitungkan mulai harga jual sekian,\" katanya.

Related posts