Tunas Baru Lampung Pasang Target Konservatif - Harga CPO Masih Turun

NERACA

Jakarta – Seiring merosotnya harga komoditas dunia, seperti kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) memberikan imbas terhadap penjualan PT Tunas Baru Lampung Tbk. Oleh karena itu, tahun ini perseroan lebih konservatif dan tidak mematok target pertumbuhan pendapatannya terlalu tinggi.

Wakil Direktur Utama PT Tunas Baru Lampung Tbk, Sudarmo Tasmin mengatakan, penurunan harga menyebabkan perseroan tidak optomis untuk realisasi target penjualan tahun ini, “Jika dibandingkan Maret tahun lalu dengan tahun ini, harganya turun 20%. Hal ini menyebabkan kita hanya targetkan sedikit diatas tahun lalu yaitu Rp 4 triliun sedangkan tahun lalu target kita Rp 3,8 triliun,”katanya di Jakarta kemarin.

Sementara untuk Bottom line juga tidak berubah banyak, jika tahun lalu Rp 242 miliar untuk tahun ini berubah sedikit menjadi Rp 300 miliar. Kemudian untuk gross marhin terus tergerus dan tahun ini hanya mencapai 20-23%, ditambah panen juga tidak sebagus tahun lalu.

Hingga Maret 2013, target penjualan CPO masih menjadi fokus perseroan dan ditargetkan berkontribusi sebanyak 180 ribu ton. Tahun 2012 lalu, komposisi pendapatan perseroan sebanyak 31% dari CPO, minyak goreng 29%, PKO 17%, Sterin 10%, sisanya lain-lain.

Kemudian untuk produk minyak goreng hampir semua dijual di pasar domestik, namun sudah mulai merambah ke pasar internasional. Perseroan juga telah selesai membangun dermaga dengan panjang sekitar 100 meter di Pelabuhan Panjang, Lampung yang diharapkan akan menambah pendapatan perseroan.

Belanja Modal

Tahun ini, perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 670 miliar yang akan digunakan sebagai capex rutin Rp 100 miliar, pembangunan pabrik kelapa sawit di Lampung, penanaman kelapa sawit dengan lahan baru yang ditargetkan sekitar 4.000 – 5.000 Ha, “Kapasitas pabrik saat ini sekitar 45 ton/jam nantinya akan menjadi 270 ton/jam. Investasi dalam 1 hektarlahan berkisar Rp 55 juta selama 4 tahun, tahun pertama biasanya habiskan 30%,”ungkapnya.

Saat ini realisasi capex hingga Mei sudah mencapai Rp 200 miliar yang digunakan untuk tebu dan perkebunan CPO. Dana tersebut didapat dari kas internal dan pinjaman, namun untuk capex rutin, dihasilkan dari kas internal.

Kata Sudarmo Tasmin, kendala ekspansi usaha perseroan adalah kesulitan mendapatkan lahan. Pasalnya, dari target 5000 hektar baru tercapai sekitar 1000 hektar. Disamping itu, hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) kemarin juga menyetujui membagikan dividen sebesar 30% dari laba bersih atau sekitar Rp73,13 miliar dengan dividen interim sebesar Rp 59,23 miliar dan Rp 13,89 miliar akan dibagikan kepada pemegang saham. Sementara sebanyak Rp 500 juta disimpan sebagai dana cadangan dan sisanya akan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional perseroan yang dimasukan dalam pos saldo. (nurul)

Related posts