Pemerintah Diingatkan Adanya Pelarian Modal

NERACA

Jakarta – Standard Chartered mengemukakan bahwa Indonesia berisiko terkena pelarian modal. Sampai dengan akhir Mei 2013, investasi asing di obligasi pemerintah Indonesia dan SBI mencapai US$31 miliar. Sementara itu, investor asing menguasai hampir sekitar 40% dari kapitalisasi bursa saham Indonesia, yaitu US$505 miliar per akhir Mei 2013, walaupun lebih dari separuh investasi asing ini adalah investasi jangka panjang. “Risiko pelarian modal selalu ada karena krisis finansial global terjadi, yang mendorong investor global untuk beralih ke aset-aset yang lebih aman,” kata Senior Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan di Jakarta, Kamis (13/6).

Menurut Fauzi, penting bagi Bank Indonesia (BI) untuk terus meningkatkan cadangan devisa yang dimilikinya untuk meminimumkan risiko pelarian modal. Cadangan devisa Indonesia memang dalam kenyataannya terus meningkat. Pada 2008, 2009, dan 2010, cadangan devisa Indonesia berturut-turut sebesar US$52 miliar, US$66 miliar, dan US$96 miliar. Jumlahnya terus meningkat pada 2011 dan 2012, yaitu US$110 miliar dan US$113 miliar. Data terakhir, per 31 Mei 2013, cadangan devisa Indonesia adalah sebesar US$105 miliar.

Dengan jumlah cadangan devisa tersebut, Indonesia terbilang aman. Menurut ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus, cadangan devisa Indonesia aman karena jumlahnya lebih dari nilai 5 bulan impor Indonesia. Namun begitu, cadangan devisa tersebut berisiko terkuras untuk mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Apalagi nilai tukar rupiah sudah menembus angka Rp10 ribu per dolar AS.

Fauzi mengatakan, dalam jangka pendek, rupiah rentan terhadap gejolak eksternal yang memicu pelarian modal dari pasar finansial Indonesia. “Intervensi valas oleh BI sangat penting untuk menjamin stabilitas jangka pendek. Apalagi defisit neraca transaksi berjalan yang besar menambah tekanan terhadap rupiah. Kami memperkirakan BI akan menahan BI rate di 5,75% sepanjang tahun ini, namun menaikkan FASBI rate sedikitnya 4,50% di akhir tahun 2013. Jika pelarian modal memburuk, BI mungkin akan lebih agresif dalam menaikkan suku bunga,” jelas Fauzi.

Dia juga mengungkapkan kekuatirannya bahwa akan terjadi pelarian modal investor kembali ke negara maju. Kekuatiran tersebut berdasar pada pulihnya ekonomi Amerika yang kemudian mengakhiri kebijakan quantitive easing bank sentralnya. Investor global menilai risiko krisis finansial di Eropa dan Amerika sudah jauh mengecil dari sebelumnya, sehingga ada kemungkinan modal berpindah dari Indonesia ke kedua negara tersebut.

“Kekuatiran ini juga didorong dari fakta bahwa revolusi shale gas di Amerika membatasi pulihnya harga komoditas energi dan positif bagi dolar Amerika. Peran China dan India sebagai motor pertumbuhan ekonomi Asia pun rawan tetap lemah. Modal investor global bisa keluar dari emerging markets ke negara maju, terutama Amerika,” jelas dia. Adanya revolusi shale gas di Amerika, lanjut Fauzi, akan menekan harga energi dunia. Ini berdampak negatif pada harga komoditas yang menjadi rendah. Ujung-ujungnya, memperlemah neraca pembayaran Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengemukakan bahwa nilai ekspor Indonesia menurun bukanlah karena jumlah ekspornya yang menurun, tetapi karena nilai ekspornya yang menurun akibat penurunan harga-harga komoditas di pasar global. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab Indonesia mengalami defisit perdagangan dalam beberapa waktu terakhir. [iqbal]

Related posts