Kemasan Produk Mamin Harus Ditingkatkan - Tarik Minat Konsumen

NERACA

Jakarta - Tingginya tingkat konsumsi masyarakat diyakini sebagian pengamat ekonomi sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk itu, industri makanan dan minuman di dalam negeri harus bisa mengemas (packaging) hasil dari produk mereka semenarik mungkin.

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah menyatakan, industri makanan dan minuman (Mamin) khususnya IKM harus meningkatkan kualitas packaging untuk menarik minat konsumen. “Masalah pada IKM makanan dan minuman adalah kemasan yang masih kurang menarik. Pelaku IKM bisa berkonsultasi dengan pihak Kemenperin untuk membuat desain kemasan yang bagus dan tidak dipungut biaya,” terang Euis.

Lebih jauh lagi Euis mengatakan Industri makanan dan minuman, menduduki posisi strategis dalam penyediaan produk siap saji yang sehat, aman, higienis, bergizi dan bermutu.“Aspek utama dalam industri makanan seperti keamanan, bergizi dan bermutu selayaknya telah dipenuhi oleh para produsen makanan dan minuman karena berhubungan langsung dengan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya,” papar Euis usai acara penandatangan nota kesepakatan antara Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) dengan Koperasi Mitra Otima UKM di Jakarta, Kamis (13/6).

Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut Euis, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 18 2012 tentang pangan dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. “Pemerintah telah mengambil langkah dengan mendorong penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), Food Hygiene, Food Safety, Food Sanitation, penerapan Standar Pangan Internasional (CODEX Alimentarius) yang menjamin bahwa perusahaan menerapkan cara pengolahan dan sistem manajemen keamanan pangan yang baik mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, serta distribusi dan perdagangannya,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Suryo Alam mengatakan hal yang senada. Dia menilai, usaha kecil dan menengah (UKM) nasional harus menghasilkan produk yang berkualitas dalam menghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015. “Arus masuk barang akan meningkat pada saat penerapan AEC 2015 dan UKM nasional harus memiliki daya saing yang tinggi. Keunggulan produk, sangat ditentukan dengan kualitas bahan baku seperti gula rafinasi,” kata Suryo.

UKM, menurut Suryo, sebaiknya mendapatkan pasokan bahan baku dengan mutu yang bagus. Selama ini, UKM pangan sangat kesulitan dalam mendapatkan bahan baku gula rafinasi. “Sudah bertahun-tahun UKM mengalami hambatan memperoleh bahan baku gula. Kami berharap pasokan gula rafinasi bisa membantu kelangsungan UKM di dalam negeri,” paparnya.

Sebagai informasi, selain keunikan dan cita rasa makanan, kemasan sebuah produk pun tidak bisa dianggap sepele. Bisnis makanan tak hanya cukup enak dirasakan, tapi harus dikemas cantik dan bagus untuk menarik perhatian konsumen. Selain menjadi ciri khas, sebuah produk makanan kemasan yang menarik dan unik dapat menunjang promosi dan menjadi identitas produk itu sendiri.

Kemasan pun harus disesuaikan dengan konsep makanan yang akan dijual. Memesan kemasan yang ramah lingkungan. Pemesanan kemasan dilakukan dalam jumlah yang cukup banyak agar harganya lebih murah. Harga untuk 10.000 cup kemasan ramah lingkungan ini adalah Rp5 juta. kemasan menarik juga merupakan strategi promosi yang ampuh.. Dengan melihat kemasannya, calon konsumen akan langsung penasarandan tertarik membeli.

Namun, jika Anda adalah pengusaha pemula yang tidak memiliki cukup modal untuk membuat kemasan khusus Yang terpenting kemasan haruslah bersih dan higienis. Pasalnya, untuk menciptakan kemasan dan desain tentulah diperlukan biaya lebih.

Related posts