Chaves, Cristina, Morales, dan Gaddafi

Chaves, Cristina, Morales, dan Gaddafi

“Kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politik, tapi soal bagaimana menjadikan manusia yang di dalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya.” Itulah pernyataan Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno saat menerima pengunduran diri Moh Hatta sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956.

Pernyataan Bung Karno dipertegas lagi saat dia minta Menteri Keuangannya Djuanda membuat regulasi tentang pengelolaan minyak. “Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia. Saya ingin modal asing ini dihentikan, dihancurleburkan dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri. Bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya. Coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak.”

Hingga akhirnya terbitlah Undang-Undang (UU) Nomor 44 Tahun 1960 yang antara lain isinya menyebutkan, “Seluruh minyak dan gas alam dikelola negara atau perusahaan negara”. UU itu tentu membuat geram pihak asing.

Masih banyak contoh pemimpin di banyak negeri yang juga bisa dijadikan contoh bagaimana dia mau memakmurkan rakyatnya. Di kawasan Amerika Latin memiliki setidaknya tiga pemimpin yaitu Presiden Venezuela Hugo Chavez yang telah meninggal pada 5 Maret 2013 lalu, Presiden Bolivia Evo moralles, dan Presiden Argentina Christina Fernandez Kirchner. Dari belahan dunia lainnya terdapat Muammar Gaddafi, presiden Lybia yang gugur ditembak mati tentara pemberontak pada 20 Oktober 2011.

Chavez berhasil menasionalisasi 11 proyek pengeboran minyak yang dikuasai Helmerich & Payne dari AS di kawasan Monagas, Anzoategui, dan Zulia. Proyek itu kini dikuasai Pertaminanya Venezuela, yaitu Petroleos de Venezuela (PDVSA). Di tangan Chavez pula, nasionaliasi dilakukan terhadap perusahaan telepon CANTV milik Verizon (AS), perusahaan pembangkit listrik Electricidad de Caracas yang dikuasai AES (AS), perusahaan pembangkit listrik Electrica Seneca (CMS Energy, AS).

Ladang minyak Orinoco Belt senilai US$ 30 miliar yang dioperasikan oleh 13 perusahaan asing seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips (AS), Total SA (Prancis), StatoilHydro ASA (Norwegia), Inggris BP Plc, dan Chevron Corp.

Nasionalisasi juga berlaku bagi perusahaan besi dan baja, Orinoco Ternium-Sidor serta Amazon Consortium, Banco de Venezuela (Spanyol), pabrik beras Cargills Inc (AS), pabrik pupuk nitrogen Fertinitro, perusahaan daging Vestey (Inggris), dan pabrik baja Siderurgica de Venezuela SA, hingga industry penambang emas Rusoro Mining Ltd (Rusia).

Mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen Argentina, Presiden Cristina berhasil mengambil alih saham Repsol (Spanyol) di perusahaan minyaklokal Yacimientos Petroliferos Fiscales(YPF).Sedangkan Morales telah menasionalisasi perusahaan tambang milik Colquiri Sinchi Huayra, anak perusahaan Glencore (Swiss) pada 21 Juni 2012.

Sedangkan Gaddafi yang dicap diktator oleh Barat, diakui justru banyak membantu mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan dan kebodohan. Di antara yang sudah dilakukan Gaddafi adalah seluruh rakyat Libya menerima keuntungan dari penjualan minyak yag langsung ditransfer ke rekening masing-masing. Bank di Libya tak menganut bunga, seluruh warga memiliki rumah, petani mendapat tanah dan bibit secara gratis, listrik dan biaya pendidikan gratis. Setiap temanten baru mendapat haiah 60 ribu Dinar. Dan, Libya tak memiliki utang luar negeri. (saksono)

Related posts