Grup Bakrie Masih Enggan Lunasi Utang - Laba dan Pendapatan Meningkat

NERACA

Jakarta - Meski pendapatan dan laba Group Bakrie sepanjang tahun 2012 meningkat tajam, namun kelompok usaha milik keluarga Aburizal Bakrie ini tampak belum memiliki itikad baik untuk melunasi utang-utangnya. Sampai saat ini, kelompok usaha Bakrie masih memiliki kewajiban terhadap nasabah Bakrie Life dan korban lumpur Lapindo. Padahal dalam tahun ini, pendapatan tiga anak usaha yang non listed saja sudah mencapai US$ 226,92 juta atau setara dengan Rp 2,23 Triliun. Belum lagi anak usahanya yang lain.

Menurut analis saham dari Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo, meskipun rasio utang Bakrie cukup tinggi, namun sebenarnya Group Bakrie mampu membayar utangnya lewat likuidasi aset. Hanya saja, Bakrie harus memiliki itikad baik untuk itu. \"Keuntungan yang diperoleh Group Bakrie tumbuh sebesar 70%. Bakrie bukan tidak mampu membayarkan utangnya,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (12/6).

Untuk mengukur itikad Bakrie memperbaiki kinerjanya dengan melakukan pelunasan utang, lanjut dia, bisa dilihat dengan mencermati kinerja harga sahamnya di pasar modal. Sejauh ini, beberapa saham Bakrie dinilai negatif oleh pelaku pasar. \"Harga saham BNBR misalnya, yang berada di level 50. Artinya, masyarakat tidak menyambut baik dan masih menilai negatif BNBR. Ini bisa menjadi bahasa bahwa apa yang dilakukan manajemen belum maksimal,” jelasnya.

Dia memaparkan, dengan rasio utangnya yang cukup tinggi, dan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami koreksi, ditambah terjadinya perlambatan ekonomi, manajemen Bakrie tampaknya memilih menahan dananya daripada untuk membayar utang.

\"Manajemen Bakrie tampaknya tidak mau ikut dalam pelemahan tersebut, di mana perusahaan Bakrie sangat erat dengan kondisi negara dan politik. Saya pikir Bakrie masih mampu untuk melunasi utangnya,\" Katanya.

Terkait kinerja anak usaha yang non listed, menurut dia, tidak bisa dikaitkan dengan perusahaan yang listed. \"Bakrie seharusnya tidak mengharapkan subsidi silang dari perusahaan yang non listed, melainkan dengan melakukan optimalisasi kinerja keuangan atas perusahaan-perusahaan tercatat dengan asas good corporate governance,\" ucapnya.

Hal senada juga disampaikan analis Trust Securities, Reza Priyambada, jika memang mereka mau bayar kerugian melalui keuntungan yang didapat dari anak usaha lain tentu bisa. \"Kalau mereka mau ya bisa, kewajiban ke otoritas bursa hanya menyampaikan laporan jadi tidak halangan. Nantinya hanya persoalan pencatatannya saja,” tuturnya.

Hanya saja, perolehan keuntungan dari anak usaha Grup Bakrie tidak bisa menutupi utang induknya jika dilakukan pencatatan konsolidasi, “Sebenarnya tidak bisa dari anak usaha menggantikan kerugian anak usaha lain kecuali melalui transaksi afiliasi,” paparnya.

Namun, Reza menyimpulkan bahwa jika suatu perusahaan kegiatan utamanya sudah tidak lagi memungkinkan, adalah hal yang biasa untuk menjual aset demi mencukupi pendanaan mereka.

Rugikan Investor

Sementara analis pasar modal dari AM Finance Viviet Savitri menambahkan, investor dikecewakan oleh perusahaan-perusahaan Bakrie yang listing di pasar modal, padahal perusahaan-perusahaan non-listed nya membukukan keuntungan yang cukup besar. “Seakan-akan beberapa perusahaan Bakrie yang listing itu seperti kendaraannya untuk meraup dana dari investor. Itu terlihat dari aksi rights issue besar-besaran. Memang kalau perusahaan listing itu lebih mudah kalau mau rights issue ketimbang yang tidak listing,” terang Dia.

Viviet mengutarakan, beberapa anak usaha grup Bakrie yang tercatat di pasar modal memiliki prospek bagus. Tetapi malah melakukan aksi korporasi besar-besaran seperti menggadaikan sahamnya sehingga merugikan pemegang saham. Untuk membereskan utangnya, dia keluarkan rights issue, sehingga harga sahamnya turun. “Ini tidak fair, karena beberapa perusahaan dia yang cukup bagus, tapi kok mendadak ada utang. Agak mengecewakannya karena seolah-olah dia listed cuma meraup dana,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama & CEO BNBR, Bobby Gafur Umar mengatakan, anak usaha BNBR yakni PT Bakrie Building Industries (BBI), PT Bakrie Tosanjaya (BTJ) dan PT Bakrie Pipa Industries (BPI) dalam beberapa tahun terakhir justru mampu menjadi kontributor utama pendapatan usaha perseroan, “Perolehan anak usaha meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun 2011,\" ujarnya.

Oleh karena itu, imbuh Dia, BNBR menargetkan dapat mengurangi hutangnya sebanyak 15 hingga 25% tahun ini dengan ditopang perolehan anak usaha. Salah satunya, perseroan berencana membayar hutang dengan mendivestasi salah satu anak usahanya, PT Bakrie Pipa Industries (BPI).

Tahun lalu, nilai buku PT Bakrie Building Industries mencapai US$ 47,47 juta, PT Bakrie Tosanjaya US$ 30,17 juta, dan PT Bakrie Pipe Industries US$ 149,28 juta. Semuanya meningkat dibanding tahun 2011. Sementara pada saat yang sama, portofolio perseroan yang tercatat di bursa efek, memberikan kontribusi sebesar 187,05 juta. Selain itu, tahun 2012, portofolio non-listed juga memperlihatkan pertumbuhan volume penjualan mencapai 21-34% dibandingkan tahun sebelumnya.

Related posts