Menristek Imbau Pelaku Industri Nasional Berbenah - Hadapi MEA 2015

NERACA

Jakarta - Menjelang penerapan pasar tunggal Asia Tenggara atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015 mendatang, kalangan pelaku industri nasional diharapkan dapat segera bersiap dengan segala kemungkinan perluasan pasar ke negara-negara ASEAN. Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengatakan, untuk memulai ekspansinya ke pasar ASEAN, para pelaku usaha juga diminta untuk tidak melupakan potensi besar yang dimiliki Indonesia, sehingga tidak justru dikuasai oleh pelaku usaha asing.

“Sebelum semua sibuk bersaing di tingkat regional dan bahkan global, kita perlu memenangkan persaingan di tingkat nasional, karena di sinilah basis kita. Memenangkan persaingan di tingkat nasional adalah awal sekaligus modal untuk memenangkan (persaingan) di tingkal global,” ujar Gusti di Jakarta, kemarin. Lebih lanjut dia menuturkan, pentingnya memenangkan pasar nasional tersebut sebagai upaya seluruh pengusaha nasional agar pasar nasional nantinya tidak dikuasai oleh produk impor.

Dengan demikian, lanjut Gusti, masyarakat secara perlahan diharapkan semakin dekat dan merasa memiliki terhadap produk nasional. “Jepang saja yang merupakan salah satu negara maju, misalnya, warganya tidak melebih-lebihkan, tidak memuja produk Amerika Serikat (AS). Bahkan ketika mereka hidup di AS atau sedang berwisata di negara lain, mereka akan tetap memiliki produk dari negara mereka sendiri. Itu karena mereka (warga Jepang) sudah dekat dan memiliki produk domestik Jepang,” ungkapnya.

Buah dari strategi tersebut merupakan fakta bahwa kendaraan bermerek Toyota hingga saat ini masih menempati urutan teratas dalam hal penjualan mobil di Amerika Serikat (AS). Selain harus memenangkan pasar nasional terlebih dahulu, kata Gusti, para pelaku usaha Indonesia diharapkan dapat cekatan dan sigap dalam beradaptasi terhadap pasar luar negeri, termasuk menyesuaikan syarat-syarat dan standard produk yang telah dimiliki oleh negara lain.

“Dalam konteksi global atau regional, daya saing sebuah bangsa dapat dipahami sebagai kemampuan bangsa itu agar dapat diterima sebagai pemain dalam rantai produksi dan transaksi global serta regional. Untuk dapat bersaing dalam rantai produksi dan transaksi global, sebuah bangsa harus mampu memenuhi persyaratan yang telah diatur dalam pasar global dan internasional,” tandasnya. [ardi]

Related posts