Mobil Murah Yang Berbalut Masalah

Bagi sebagian kalangan, kabar disahkannya aturan produksi mobil murah boleh jadi setara dengan hembusan angin surga. Lebih dari sekedar menyejukkan, kabar yang menyeruak sejak minggu lalu tersebut seperti memancarkan harapan yang gegap gempita. Paling tidak, hal itu dirasakan oleh mereka yang bermimpi segera punya mobil namun hanya berduit pas-pasan.

Kementerian Perindustrian sebagai pihak “yang punya hajat” bahkan jauh-jauh hari telah merasa yakin sebanyak 60 juta orang pengendara motor bakal berpindah tunggangan dengan membeli mobil murah yang, kabarnya, dipatok dengan harga di bawah Rp 100 juta per unit ini. Harga semurah ini, tentu saja akan membuat produk ini laris manis di pasar otomotif, bak kacang goreng.

Di pihak lain, produsen jenis ini, yang tak lain dan tak bukan merupakan raksasa otomotif asal Jepang, sudah pasti panen keuntungan. Keuntungannya pun ganda, bahkan berlipat-lipat. Dikatakan demikian lantaran regulasi yang dikemas dalam program Low Cost and Green Car (LCGC) itu memberi fasilitas berupa penghapusan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) yang biasanya dipatok antara 10-70%. Dalam waktu yang bersamaan, produsen otomotif akan menikmati harga jual yang kompetitif sehingga secepat kilat bakal disambar oleh pasar.

Lantas, siapa yang dirugikan dengan program ini? Hmmmm.... Ternyata banyak. Satu, negara akan dirugikan dengan menguapnya potensi pajak (PPnBM) yang oleh kalangan pemerhati otomotif ditaksir sekitar Rp 10 triliun per tahun. Celakanya, diskon pajak yang fantastis ini hanya akan dinikmati oleh investor asal Jepang yang notabene hingga saat ini dan pada masa yang akan datang menjadi penguasa otomotif di Indonesia.

Dua, masyarakat pengguna jalan di kota-kota besar. Kemacetan yang sudah kronis di Jakarta, misalnya, akan semakin parah oleh kedatangan mobil murah ini. Jakarta, yang oleh Masyarakat Transportasi Indonesia jalanannya sudah diramal akan lumpuh di 2014, apa jadinya kalau ditambah dengan ratusan ribu mobil murah ini.

Tiga, neraca perdagangan luar negeri Indonesia yang sudah babak belur karena meroketnya angka impor sudah pasti semakin jeblok dengan program ini. Prediksi itu terkait dengan impor komponen yang bakal melangit seiring dengan produksi mobil murah. Di tengah merosotnya kinerja ekspor yang terinfeksi oleh krisis global, meningginya angka impor komponen otomotif niscaya hanya akan membuat napas neraca perdagangan luar negeri semakin kembang kempis.

Empat, subsidi BBM. Apa jadinya APBN yang oleh pemerintah saat ini saja sudah dipersepsikan “tercekik” oleh besarnya subsidi BBM dengan datangnya mobil murah ini. Kuota BBM yang dipatok APBN akan jebol, anggaran subsidi kianmembengkak, dan pemerintah menjerit-jerit. Lima, rupiah pasti akan semakin tertekan oleh program ini. Dasar pikirnya sederhana, yakni permintaan dollar Amerika yang terus meningkat seiring dengan importasi komponen dan BBM untuk menggulirkan program ini.

Sejatinya kelima anasir tersebut hanyalah secuil dari balutan persoalan yang menyertai produksi LCGC. Hanya karena keterbatasan ruang sempit ini, permasalahan lain tak mampu untuk dieja satu persatu. Namun yang jelas, lima masalah tersebut sedikit memberi penjelasan, bahwa program mobil murah masih berbalut masalah.

Related posts