Jamsostek Bangun Pusat Pelatihan dan Kajian Jaminan Sosial di Bogor

NERACA

Jakarta - PT Jamsostek (Persero) segera merealisasikan pembangunan pusat pelatihan yang berlokasi di kota Bogor, Jawa Barat. Nantinya, pusat pelatihan untuk meningkatkan profesionalitas dan kapabilitas seluruh jenjang pimpinan dan karyawan Jamsostek yang berjumlah 3.200 orang, sekaligus menjadi pusat kajian tentang jaminan sosial di Indonesia. \"Melalui pembangunan gedung pusat pelatihan yang dimiliki sendiri, maka PT Jamsostek akan bisa menghemat 40%-50% dari biaya-biaya pelatihan yang selama ini dikeluarkan,\" kata Direktur Umum dan Sumberdaya Manusia (SDM) PT Jamsostek, Amri Yusuf, di sela-sela meninjau stan PT Jamsostek di arena Pekan Raya Jakarta, Selasa (11/6).

Dijelaskannya, menjelang transformasi PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada 1 Januari 2014, maka diperlukan peningkatan profesionalitas dan kapabilitas seluruh jenjang pimpinan dan karyawan PT Jamsostek dalam bidang jaminan sosial. \"Kita sudah memperoleh persetujuan untuk pembangunannya yang ground building-nya akan segera dilakukan bulan Juli depan di atas tanah seluas 6.000-7.000 meter,\" ujar Amri. Dia menambahkan, investasi yang dibutuhkan bagi pembangunan pusat pelatihan dan studi Jaminan Sosial itu berkisar Rp50 miliar-Rp60 miliar.

Nantinya, lanjut Amri, pusat pelatihan bagi para karyawan Jamsostek itu diharapkan juga menjadi pusat pengembangan akademis jaminan social. “Kami harapkan modul sistem jaminan sosial akan terus berkembang sehingga bisa menjadi mata ajar akademis di kampus-kampus,” terangnya. Dijelaskannya, prioritas pertama adalah membangun pusat pelatihan sendiri di Bogor. Namun, di lain waktu, bisa saja dikembangkan pusat pelatihan yang dibagi per zona, sehingga pelatihan tetap bisa di wilayah-wilayah kantor cabang sendiri. Dia juga mengungkapkan, Jamsostek dalam waktu dekat akan menambah lagi sekitar 300-400 karyawan baru. Namun, pelamarnya sudah membludak mencapai 80 ribu orang. “Kami menyerahkan penilaian pada lembaga independen sehingga bisa obyektif dalam menyaring karyawan,” jelasnya.

Menurut dia, nantinya ketika Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan, karyawan yang sudah ada memerlukan tambahan lagi, mengingat cakupan wilayah yang begitu luas. Terkait dengan pendirian pusat pengembangan jaminan sosial, Amri mengungkapkan praktik perekonomian yang terkesan liberal akan terasa manusiawi jika saja praktik jaminan sosial bisa berjalan dengan baik. \"Ini menjadi antitesis dari ekses-ekses dari suatu praktik ekonomi,\" terangnya. Di bagian lain, Amri juga mengungkapkan, PT Jamsostek telah mengusulkan pada pemerintah, dalam transformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bisa tetap menggunakan call sign Jamsostek. \"Jadi bentuknya bisa Badan Penyelenggara Jamsostek. Karena, kita sudah lama melakukan sosialisasi tentang Jamsostek. Artinya, Jamsostek kan sama saja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja jadi tidak terlalu ada masalah,\" pungkasnya. [kam]

Related posts