Pasar Jeblok, OJK Dinilai Lepas Tangan

NERACA

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku tidak dapat mengintervensi atau mengambil tindakan khusus untuk mengatasi tekanan yang terjadi di pasar modal seiring runtuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). \"Peran OJK selaku regulator dan pengawas keuangan. Khusus untuk pasar modal, sifatnya market driven. Jadi OJK sifatnya mengawasi, dalam undang-undangnya pun tidak ada kewenangan atau tindakan untuk mengintervensi. Namun, kita akan melakukan pengawasan secara lebih intens.\" jelas Kepala Eksekutif OJK untuk Pasar Modal, Nurhaida di Jakarta, Rabu (12/6).

Menurutnya, dewan komisioner telah melakukan rapat untuk mecermati tekanan yang terjadi di pasar modal. OJK juga sudah berbicara dengan Bursa Efek Indonesia (OJK) sebagai penyelenggara pasar modal yang mengawasi pergerakan pasar modal untuk mengawasi lebih dekat dinamika yang terjadin baik di pasar primer maupun sekunder.

Pihaknya mencatat, laju IHSG per 31 Mei -11 Juni mengalami tekanan yang ckup kuat, di mana terjadi penurunan sebesar 9%. Namun, secara year to date pada dasarnya IHSG mengalami kenaikan positif sebesar 6,7%. Dibandingkan regional pun, kinerja indeks berada pada posisi keempat setelah Tokyo, Filipina, dan Cina dengan pertumbuhan sebesar 6,8%.

Dalam kondisi yang terjadi saat ini, lanjut dia, optimisme pelaku pasar juga masih cukup tinggi terlihat dari banyaknya perusahaan yang menyatakan pernyataan pendaftaran untuk melakukan aksi korporasi. Untuk penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) misalnya, per 31 Mei masih ada sebanyak 6 emiten, dan sebanyak 15 emiten yang berada dalam proses. \"Right issue ada sebanyak 8 yang efektif dan 8 yang sedang proses. Obligasi korporasi sebanyak 18 telah efektif dan 19 dalam proses. Dari kondisi tersebut optmisme pasar terhadap market masih ckup tinggi.\" jelasnya.

Dia menilai, investasi di pasar modal tidak dapat dilihat dengan pergerakannya yang terjadi dalam jangka pendek karena bersifat fluktuasi. Namun, juga perlu diperhatikan pertumbuhannya dalam jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir, IHSG mengalami peningkatan dari 2.534,36 di tahun 2009 menjadi 4.609,95 pada Juni 2011. Sementara rata-rata harian perdagangan saham dari Rp4.046,51 miliar menjadi Rp6.830,19 miliar. Nilai kapitalisasi pasar meningkat dari Rp2.019,38 triliun menjadi 4.522 triliun.

Untuk memacu pertumbuhan pasar modal ke depan, kata dia, OJK pun telah menyiapkan beberapa startegi. Salah satunya, peningkatan jumlah emiten, pengembnagn basis investor, pengembangan produk dan infrastruktur, serta pengembangan pasar surat utang dan sukuk.

Dalam peningkatan jumlah emiten, OJK akan berupaya menyederhanakan persyaratan IPO, mengembangkan e-registration sehingga penyertaan pendaftaran dapat dilakukan secara elektronik. Ditargetkan, bisa selesai pada akhir tahun 2014. Selain itu, juga akan melakukan rasionalisasi kewajiban keterbukaan bagi emiten, baik dari sisi frekuensi atau jumlah keterbukaan informasi. \"Saat ini dipublikasikan di media, apakah nantinya dimungkinkan di web saja. Kita juga telah merevisi peraturan IX.C.11, di mana informasi emiten dipublikasikan melalui koran dan website BEI.\" jelasnya.

OJk juga telah berbicara dengan asosiasi pengusaha Indonesia (KADIN). Pasalnya, ada sebanyak 100 perusahaan yang berpotensi untuk menjadi perusahaan publik. Semakin banyak perusahaan yang masuk ke pasar modal maka akan meningkatkan instrumen investasi sehingga pasar menjadi likuid dan dapat meningkatkan investor. Dalam waktu dekat ini OJK juga akan melakukan sosialisai ke beberapa kota, antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Medan. (lia)

Related posts