Marak Aksi Beli, IHSG Mulai Pulih Dari Tekanan

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham Rabu sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 87,936 poin (1,91%) ke level 4.697,884. Sementara Indeks LQ45 lompat 20,251 poin (2,67%) ke level 777,527. Penguatan indeks BEI ditopang aksi beli yang didominasi investor lokal di tengah penjualan bersih investor asing senilai lebih dari Rp 2 triliun.

Menurut analis Trust Securities, Reza Priyambada, penguatan indeks BEI dipicu aksi beli investor yang kembali ramaikan pasar, “Indeks BEI berada di area positif menyusul kembali menguatnya saham-saham di dalam negeri, meski asing masih melepas saham,”katanya di Jakarta, Rabu (12/6).

Dia menambahkan, secara teknikal tekanan jual juga sudah mulai terbatas sehingga tidak menambah keterpurukan saham-saham di BEI yang sudah berada dalam area jenuh jual (oversold). Berikutnya, indeks BEI Kamis diproyeksikan akan bergerak menguat seiring mulai pulihnya aksi beli investor.

Sementara itu, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, pasar modal Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup tinggi menyusul maraknya pengajuan pendaftaran penawaran umum saham perdana (IPO), \"right issue\"dan obligasi korporasi.

Pada perdagangan kemarin, indeks pun berhasil rebound berkat aksi borong saham di saham-saham yang sudah murah. Aksi beli ini didominasi investor domestik. Delapan dari sepuluh sektor industri di lantai bursa pun berhasil naik ke zona hijau.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 2,181 triliun di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 225.439 kali pada volume 6,485 miliar lembar saham senilai Rp 10,574 triliun. Sebanyak 151 saham naik, sisanya 125 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Pada perdagangan kemarin,IHSG rebound meninggalkan bursa-bursa regional di zona merah. Sedangkan pasar saham China dan Hong Kong hari ini tidak berdagang menyambut hari libur nasional.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Unilever (UNVR) naik Rp 2.550 ke Rp 29.450, Astra Agro (AALI) naik Rp 1.500 ke Rp 20.950, Lion Metal (LION) naik Rp 1.450 ke Rp 13.500, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 1.250 ke Rp 16.550.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 1.750 ke Rp 7.250, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 950 ke Rp 25.700, Mandom (TCID) turun Rp 900 ke Rp 11.000, dan Mayora (MYOR) turun Rp 800 ke Rp 30.400.

Sebaliknya perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 59,266 poin (1,29%) ke level 4.550,682. Sementara Indeks LQ45 amblas 10,302 poin (1,36%) ke level 746,974. Satu sektor industri mulai berhasil menanjak ke zona hijau, yaitu sektor industri dasar. Tapi sembilan sektor lainnya masih melemah, dipimpin sektor finansial gara-gara saham bank kelas berat terkoreksi.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 112.226 kali pada volume 3,004 miliar lembar saham senilai Rp 4,532 triliun. Sebanyak 65 saham naik, sisanya 185 saham turun, dan 69 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia mengalami nasib yang serupa dengan IHSG, terjebak di zona merah. Aksi jual investor asing juga marak terjadi di regional. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 1.450 ke Rp 13.500, Indocemetn (INTP) naik Rp 650 ke Rp 21.250, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 550 ke Rp 15.850, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 150 ke Rp 2.550.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 1.900 ke Rp 81.000, Mayora (MYOR) turun Rp 1.200 ke Rp 30.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 950 ke Rp 25.700, dan Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 700 ke Rp 8.300.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka terkoreksi turun 31,55 poin atau 0,68% ke posisi 4.578,40, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 7,96 poin (1,05%) ke level 749,32, “Secara teknikal belum ada tanda-tanda untuk penguatan bagi indeks BEI, kondisi makro ekonomi global yang dirasa belum kondusif akhirnya membuat penilaian negatif sehingga tekanan jual masih berlanjut,\" kata Reza Priyambada.

Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias sempat memperkirakan IHSG akan bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan menguat menyusul potensi kenaikan pada saham-saham domestik di sektor yang telah melemah signifikan yakni properti, konstruksi, konsumer dan semen.

Selain itu, dia menambahkan langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga deposit facility (FasBI) sebesar 25 basis poin (bps) untuk memberikan sentimen positif khususnya di nilai tukar rupiah dapat berimbas pada pergerakan indeks BEI Rabu.

Tercatat bursa regional di antaranya indeks Hang Seng, dibuka melemah 260,43 poin (1,20%) ke level 21.354,66, indeks Nikkei-225 turun 244,54 poin (1,82%) ke level 13.075,86, dan Straits Times melemah 15,22 poin (0,47%) ke posisi 3.198,41. (bani)

Related posts