BEI Klaim Investor Sudah Cerdas - Mei dan Juni Siklus Jual

NERACA

Jakarta – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 10%, tidak bisa hanya menyalahkan asing yang terus melakukan net sales. Dapat dikatakan bahwa akhir Mei dan Juni merupakan siklusnya asing lakukan aksi jual, “Bisa jadi ini memang trend asing untuk jual seperti tahun 2012 lalu, nantinya Juni akan masuk lagi, “ujar Friderica Widyasari Dewi, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (11/6).

Meski saat ini market turun 10%, lanjutnya, diawal tahun juga ada kenaikan 20%. Kata Friderica, pertumbuhan indeks tidak bisa hanya dilihat dari harian saja tapi dari tahun ke tahun atau misalnya 5 tahunan, “Dalam periode tersebut kita masih bagus. Selain itu, jika melihat laporan keuangan emiten saya nilai cukup bagus,”ungkapnya.

Dirinya mengklaim, saat ini investor domestik juga tidak lagi panik saat melihat banyak investor asing yang menarik investasinya dari Indonesia. Alasannya, investor dinilai sudah pintar. Oleh karena itu, derasnya dana asing yang keluar sekitar Rp 6 triliun pada bulan ini karena faktor luar dan bukan fundamental ekonomi dalam negeri.

Baginya, BEI sendiri tidak bertugas menstabilkan pasar. Pasalnya, ketika pasar sedang turun justru pihaknya menyerukan para investor membeli saham-saham yang bagus dengan harga murah. “Walaupun sedang turun, namun sebagai regulator edukasi tetap kita lakukan guna menahan kondisi pasar,”tuturnya.

Jika memperhatikan indeks pada periode yang sama tahun lalu, tekanan jual kembali melanda pasar saham di BEI pada transaksi (4/6/2012). IHSG turun 121,3 poin (3,19%) ke posisi 3.678,41. Level tersebut merupakan posisi IHSG terendah kedua sejak 29/11/2011 yang berada di kisaran 3.687.

Penurunan tajam IHSG sudah mulai terlihat sejak awal Mei 2012, meski kemudian bergerak fluktuatif. Saat itu, dua hari setelah mencatat rekor tertingginya, IHSG sudah mulai tergerus 57,8 poin (1,37%) dan kembali melemah 52 poin (1,24%) dua hari kemudian. IHSG akhirnya terkoreksi di bawah level 4.000 pada pertengahan Mei 2012, setelah terpangkas 65,1 poin (1,61%) ke posisi 3.980,49. Selanjutnya, indeks bergerak variatif dan sempat berbalik menguat 80,99 poin untuk kembali ke level 4.000-an.

Namun saat itu, pelemahan IHSG memang cenderung dipengaruhi faktor eksternal di bursa global dan Asia karena terpicu krisis utang zona euro dan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS. Sehingga, sentimen negatif global tetap menjadi faktor penggerak negatif pada pasar saham dan komoditas.

Indeks bursa saham AS berakhir dengan penurunan lebih dari 2% dan membawa indeks Dow Jones Industrial Average ke zona negatif. Kondisi itu seiring laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pertumbuhan kecil pada Mei 2012.

Selain itu, dia juga mengungkapkan, di pasar modal orang yang memiliki lisensi dan izin serta kualitas untuk praktek masih sangat minimn. Karena itu, perusahaan – perusahaan sekuritas sebagai anggota bursa (AB) kesulitan jika akan membuka cabang di luar kota, “Kendala yang dihadapi AB adalah kurangnya pekerja berlisensi, sehingga jika akan membuka di daerah mereka alami kendala,”tandasnya. (nurul)

Related posts