Awas, Depresiasi Rp dan Inflasi

Melihat pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belakangan ini yang kian terdepresiasi, hal ini menunjukkan adanya korelasi positif dengan faktor eksternal dari krisis global, di samping faktor internal seperti ketidakpastian kenaikan harga BBM dan semakin melebarnya defisit perdagangan Indonesia.

Seperti kita ketahui Eropa dan Amerika Utara saat ini menghadapi krisis ekonomi. Terlihat Inggris dan Italia selama 2012 mengalami pertumbuhan negatif dalam PDB. Juga penurunan pertumbuhan yang signifikan dialami pula oleh sejumlah negara lain seperti Jerman, Perancis dan Kanada meski masih berada pada angka positif. Sementara China dalam waktu yang sama mengalami perlambatan pertumbuhan ekonominya.

Kontraksi output di negara-negara ini, faktanya telah pula dibaringi dengan ketidakstabilan harga di pasar domestik yang ditandai dengan lonjakan inflasi masing-masing negara. Hal ini kemudian mengurangi daya serap pasar domestik di negara yang terkena krisis. Akibatnya, lonjakan inflasi diprediksi kembali terjadi pada 2013 akibat berbagai faktor internal dan eksternal, baik faktor ekonomi mapun politik.

Inflasi pada tingkat yang relatif tinggi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi, memperlemah daya beli kelompok penduduk berpendapatan tetap, memperlebar ketimpangan pendapatan dalam masyarakat dan menimbulkan inefisiensi dalam alokasi faktor-faktor produksi.

Ketika tingkat inflasi tinggi, otoritas moneter menaikkan suku bunga nominal jangka pendeknya dengan tujuan mengurangi jumlah uang yang beredar dalam perekonomian sehingga dapat menurunkan inflasi. Apabila kebijakan disinflasi yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia (BI) dapat berjalan secara konsisten, maka dampak kenaikan suku bunga terhadap penurunan likuiditas pada sektor riil akan direduksi dengan menurunnya harga-harga barang konsumsi.

Namun dalam praktiknya, suku bunga nominal jangka pendek diatur untuk mengarahkan pergerakan suku bunga perbankan. Apabila kenaikan suku bunga nominal direspon oleh suku bunga tabungan dan kredit pada bank umum (suku bunga kredit naik di atas tingkat BI Rate), peningkatan suku bunga tersebut dapat menurunkan investasi di sektor riil sehingga berdampak pada penurunan output. Penurunan output merupakan dampak dari kenaikan biaya produksi karena tingginya suku bunga yang berlaku, sehingga dapat memicu kenaikan harga dan semakin menekan inflasi.

Lalu muncul inefisiensi penggunaan faktor produksi yang setiap saat dapat terjadi, akibat kenaikan harga sangat didominasi oleh peran kenaikan harga BBM misalnya, atau beberapa sektor produksi tertentu yang menyebabkan penurunan penggunaan faktor produksi terutama modal dan tenaga kerja akibat penurunan permintaan konsumen terhadap sektor tersebut. Atau dengan kata lain, lonjakan inflasi cenderung menimbulkan stagnasi atau produksi kontraksi output (PDB), menurunkan permintaan total secara riil, dan dapat kembali menaikkan jumlah penduduk miskin.

Menurut penelitian Abdullah (2003), tantangan utama yang dihadapi oleh kebijakan moneter Indonesia adalah bagaimana mempertahankan kestabilan nilai rupiah dalam perekonomian terbuka, di mana pass-through effect nilai tukar signifikan mempengaruhi inflasi. Pass-through nilai tukar terhadap inflasi di Indonesia diperkirakan sebesar 0,2 yang artinya setiap nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan harga sebesar 0,2%.

Patut disadari, sejak Indonesia menerapkan flexible exchange rate system, pergerakan nilai tukar rupiah menjadi tak menentu. Ketidakpastian tersebut dapat mempengaruhi stabilitas tingkat harga dan dapat memicu inflasi. Ketakutan tersebut terbukti karena pada saat kurs rupiah terhadap US$ melemah, maka shock tersebut dapat berimbas pada kenaikan harga domestik melalui harga barang impor. Depresiasi nilai rupiah mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih mahal dan berimbas pada kenaikan harga di dalam negeri.

Related posts