Pasar Cenderung Berpandangan Keliru - Respon Terhadap BI Rate

NERACA

Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Eko Listiyanto, mengatakan pandangan pasar terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) terkadang mengalami kekeliruan, baik dari sisi sebab dan akibat. \"Pasar cenderung menilai bahwa kenaikan inflasi itu harus direspon menggunakan BI Rate. Itu sebenarnya keliru,\" kata Eko di Jakarta, Senin (10/6). Menurut dia, sebenarnya BI Rate ditetapkan oleh bank sentral untuk menggiring atau mengarahkan inflasi ke depan. Hubungan sebab-akibat ini kadang menjadi terbalik-balik. Dia mengatakan bahwa BI Rate merupakan instrumen yang dapat digunakan BI untuk menjadi panduan bagi pasar, sekaligus memberikan sinyal atas kemungkinan inflasi ke depan.

Terkait dengan adanya rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan dilakukan pemerintah, Eko berharap tidak direspon bank sentral dengan kenaikan BI Rate. \"Sebab dampaknya akan membebani biaya dana atau cost of fund perbankan dan sulit mendorong sektor riil untuk bergerak,” ungkap Eko. Dia mengatakan inflasi akibat kenaikan harga BBM masih dapat direspon bank sentral dengan menerapkan kebijakan dalam pasar uang. \"BI itu umumnya selalu menerapkan bauran kebijakan dalam merespon segala hal dalam perekonomian, jadi tidak hanya BI rate saja,\" kata dia.

Sebelumnya, Gubernur BI Agus DW Martowardojo, akan melakukan bauran kebijakan dalam merespon Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013. Salah satu bauran kebijakan itu jika diperlukan menurutnya adalah melalui BI Rate. Jika sedikit merunut ke belakang, posisi BI Rate bertahan di level 5,75%, sejak 9 Februari 2012 hingga 14 Mei 2013 lalu. Namun, meskipun BI Rate bertahan, sepertinya sudah tak layak lagi disebut sebagai suku bunga acuan. Pasalnya, tetap saja suku bunga kredit perbankan nasional masih di atas langit alias masih di kisaran dua digit, yaitu 11%-15% per tahun.

Tak heran, bila pengamat perbankan Farial Anwar melihat hal itu sebagai sebuah bentuk keanehan dunia perbankan di Indonesia. “Kalau di dunia maju, suku bunga acuan benar-benar menjadi panutan. Apa pun bentuk industri keuangannya, patokannya adalah suku bunga acuan. Di negara maju, pasti ada aturan yang membatasi suku bunga kredit di atas bunga acuran, sementara di Indonesia tidak ada. BI Rate ini memang unik. Harusnya bank tidak bisa semaunya soal penentuan bunga,” kata Farial, belum lama ini. [ardi]

Related posts