Terkoreksi Tajam, Peluang Untuk Akumulasi Saham Murah

NERACA

Jakarta – Terus terkoreksinya indeks Bursa Efek Indonesia (BEI) ke level paling dalam lantaran derasnya aksi jual investor asing, seharusnya disikapi dengan tenang dan sebaliknya kondisi tersebut menjadi peluang emas untuk mengakumulasi saham-saam yang murah.

Menurut Kepala Riset eTrading Securities, Betrand Raynaldi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang cenderung melemah dapat dimanfaatkan investor untuk mengakumulasi saham, “\"Kondisi itu, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh investor domestik untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental baik namun memiliki harga yang sudah terdiskon,”katanya di Jakarta, Senin (10/6).

Hal senada juga disampaikan, analis dari PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, ketika IHSG BEI mengalami pelemahan cukup signifikan, hal itu dapat dimanfaatkan investor untuk tetap mengakumulasi saham, karena saham-saham domestik diperkirakan dapat kembali berbalik menguat, “Sentimen positif juga datang dari Indeks saham Dow Jones AS yang kembali mengalami penguatan,”ujarnya.

Dia memperkirakan, sebelum kenaikan bahan bakar minyak (BBM) direalisasikan oleh pemerintah, indeks BEI cenderung mengalami pelemahan. Rencananya, kenaikan BBM akan diumumkan pada 17 Juni mendatang.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menambahkan mayoritas saham-saham domestik secara teknikal sudah berada di bawah area jenuh jual (oversold), “Pelaku pasar dapat mencermati volume perdagangan terhadap beberapa saham yang masih dalam posisi jual oleh investor asing,\" katanya.

Sentimen Rupiah

Sebelumnya, pengamat pasar modal, Budi Frensidy menilai, aksi jual (net sell) investor asing saat ini tercatat cukup besar didorong adanya sentimen pergerakan nilai tukar rupiah yang belum menunjukkan penguatan. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar asing khawatir mempertahankan posisinya di pasar saham. \"Nilai tukar rupiah saat ini yang dikhawatirkan karena pergerakan tidak jelas akan ke berapa.”jelasnya.

Dibanding negara-negara lain, lanjut dia, saat ini Indonesia menempati posisi kedua terlemah setelah Jepang. Sementara negara-negara lainnya mengalami penguatan. Karena itu, investor asing berpikir untuk memindahkan dananya ke negara lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. \"Mereka tentu mencari bursa lainnya yang memberikan return lebih tinggi.\" ucapnya.

Pemicu lainnya, kata Budi, yaitu posisi IHSG sudah cukup tinggi dengan melewati angka psikologisnya dan beberapa saham berada di area overbought sehingga mendorong investor asing melakukan profit taking. Tidak heran jika IHSG semakin tertekan dan menyebabkan saham-saham blue chip untuk saat ini rawan koreksi. Mengingat, kebanyakan investor asing banyak bermain di saham-saham tersebut, seperti IDX30 maupun LQ45.

Dia menambahkan, dalam kondisi seperti ini investor dapat mengakumulasi saham-saham yang memiliki prospek bagus dan tercatat berfundamental kuat. Artinya, bukan sekadar memburu saham-saham yang bervaluasi rendah, namun juga dikenal memiliki kinerja yang positif.

Sebaliknya, Direktur Utama PT Makinta Securities, Made Windi Wijaya menilai, penarikan dana asing saat ini masih dalam toleransi wajar dan belum mengkhawatirkan. Pasalnya, tidak ada tempat yang menguntungkan berinvestasi selain di Indonesia dan hal ini terlihat maraknya perusahaan melaksanakan IPO, “Penarikan dana asing bukan bubble dan ini tidak mengkhawatirkan,”tegasnya.

Dirinya menuturkan, optimisme prospek pasar modal tahun depan masih bagus dan kuncinya sejauhmana pemerintah menjaga stabilitas keamanan politik saat pemilu nanti. Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri pernah bilang, ada potensi bubble terjadi di pasar modal lantaran terus derasnya dana asing yang masuk, “Kemarin IHSG bisa naik sampai 5.200, di satu sisi ini baik. Tapi kalau tidak diantisipasi, itu bisa create yang namanya bubble price, di mana harga asetnya naik terus,” jelasnya.

Awal pekan kemarin, IHSG BEI ditutup turun 87,96 poin atau 1,53% ke posisi 4.777,98. Pelaku pasar saham asing membukukan penjualan bersih (nettsel) mencapai Rp1,232 triliun. Tercatat transaksi perdagangan saham di BEI sebanyak 166.163 kali dengan volume mencapai 4,045 miliar lembar saham senilai Rp6,009 triliun. Saham yang menguat 66, sementara yang melemah sebanyak 236 saham, dan 77 saham tidak bergerak nilainya. (bani)

Related posts