BCA: Ketersediaan Rupiah Tergantung Kebutuhan - Tak Buka Cabang di Perbatasan

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, mengaku kalau perseroan memiliki beberapa kantor cabang (kacab) di daerah, pelosok maupun pedalaman. Namun tidak untuk perbatasan. “Kantor cabang ada beberapa seperti di Tarakan Kalimantan Timur dan Palangkaraya Kalimantan Tengah. Tapi kalau di perbatasan, saya kira itu bukan daerah bisnis, jadi kita tidak ada (kantor) cabang di sana,” kata Jahja di Jakarta, Senin (10/6).

Menanggapi pernyataan Bank Indonesia (BI) bahwa rupiah penyebarannya tidak sampai ke daerah pelosok dan perbatasan, Jahja mengatakan bila peredaran rupiah di daerah tergantung dari kebutuhan masyarakat di sana. “Sebenarnya itu bukan tugas kita untuk menyuplai rupiah. Namun tergantung kebutuhan. Kalau banyak transaksi menggunakan rupiah, seharusnya rupiah tersedia dari mana pun asalnya. Misalkan dari kota terdekat,” jelas Jahja.

Hingga Mei 2013, BCA berhasil menggelontorkan kredit sekitar Rp8 triliun. Jahja mengatakan, hal ini merupakan perolehan yang cukup baik namun tidak berlebihan. Untuk target perolehan kredit, dirinya menargetkan tumbuh sekitar 20%-22%. “Kredit sebaiknya tidak tumbuh lebih tinggi dari dana pihak ketiga (DPK). Target DPK kami tahun ini masih lebih rendah dari kredit, yaitu 18%,” ungkapnya.

Jahja menambahkan, pihaknya akan berusaha untuk menjaga stabilitas pertumbuhan kredit pada porsi normal. Hal ini dilakukan karena ke depan, likuiditas perbankan yang akan semakin mengetat. Selain menjaga, BCA juga akan mengeluarkan inovasi baru agar dapat mengumpulkan DPK lebih banyak. Dia memberi contoh untuk deposito, di mana BCA memberikan suku bunga yang tinggi untuk nasabah. “Sebenarnya saat ini kita tidak ada yang digenjot. Hanya dahulu bunga deposito 3,5% lalu kita naikkan menjadi 5%. Ini tujuannya untuk menyeimbangkan,” katanya.

Lebih lanjut Jahja menjelaskan, BCA kini sedang menyiapkan anak usaha dibidang asuransi bernama BCA Life. “Kami masih menunggu izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk jalankan bisnis ini. Perkiraan kami akhir tahun 2013 sudah jadi dan sudah siap (operasi),” tuturnya. Untuk mengembangkan BCA Life, perseroan menggelontorkan dana modal sebesar Rp100 miliar. “Kami lebih memilih untuk mendirikan asuransi ketimbang mengakuisisi perusahaan lain,” tukas Jahja. [sylke]

Related posts