BI Masih Mampu Menjaga Rupiah - Meski Kurs Terdepresiasi

NERACA

Jakarta - Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp10.108 per dolar AS pada Senin (10/6) sore. Namun, penjagaan Bank Indonesia (BI) di pasar uang mampu menahan pelemahan nilai tukar rupiah lebih dalam, sehingga hanya tertekan sebesar 35 poin menjadi Rp9.822 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.787 per dolar AS. Sementara kurs tengah BI juga tercatat rupiah bergerak melemah tipis menjadi Rp9.806 dibanding sehari sebelumnya yang di posisi Rp9.790 per dolar AS. Prediksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) jika kurs mata uang rupiah bakal menembus level Rp10 ribu per dolar AS, sempat menjadi kenyataan. Berdasarkan data Reuters menyebut rupiah ditutup di posisi Rp10.105 per dolar AS. Sementara Bloomberg menjelaskan kurs tengah rupiah melemah 201 poin atau 2,03% menjadi Rp10.087 per dolar AS, di mana pergerakan harian berada pada kisaran Rp9.809-Rp10.174 per dolar AS.

Peneliti Indef Eko Listiyanto, mengatakan semakin merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat kecenderungan kurs yang terdepresiasi. \"Perkiraan nilai tukar Rp10 ribu per dolar AS itu bukan mengada-ada. Bisa terjadi jika mengingat tren rupiah itu terdepresiasi,\" kata dia di Jakarta. Eko menjelaskan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa hari terakhir selalu berada di atas Rp9.700. Hal ini semakin diperburuk oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang berkontribusi terhadap laju inflasi.

Selain itu, lanjut dia, ekspor Indonesia yang belum memiliki fundamental kuat saat ini juga akan menyebabkan nilai tukar selalu berada di kisaran tersebut, atau sulit mencapai angka yang diasumsikan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2013 sebesar Rp9.600 per dolar AS. \"Barang-barang ekspor Indonesia itu bahan bakunya mayoritas masih didatangkan dari luar negeri sehingga ekspor kita akan sangat tergantung pada kondisi yang terjadi di internasional. Sulit memprediksi apa yang akan terjadi pada tataran ekonomi global,\" kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menilai, secara rata-rata, pihaknya memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tahun ini berada di kisaran Rp9.750-Rp9.800, dengan kemungkinan terburuk melemah ke posisi Rp10 ribu dibandingkan asumsi RAPBN-P 2013 yang hanya Rp9.600 per dolar AS. \"Asumsi pemerintah Rp9.600 per dolar AS itu akan sulit tercapai karena melihat adanya defisit Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) yang akan terus terjadi dan tampaknya tidak akan mengalami surplus,\" jelas Enny.

Kuat sentimen negatif

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan BI masih menjaga nilai tukar rupiah. Namun kuatnya sentimen negatif eksternal belum mendorong rupiah menguat. \"Dolar AS cenderung menguat terhadap mata uang Asia seiring merebaknya optimisme akan keberlanjutan pemulihan ekonomi AS,\" kata dia. Ariston mengemukakan, dolar AS kembali pulih dari penurunan tajam pada sesi sebelumnya paska laporan pemerintah AS menunjukkan laju pertumbuhan lapangan kerja yang cukup sehat pada Mei 2013. Sentimen positif terhadap dolar AS, lanjut Ariston, bertambah setelah data Jumat (7/6) akhir pekan lalu, memberikan sinyal akan berlanjutnya perlambatan ekonomi China.

Menteri Keuangan Chatib Basri menganggap pelemahan rupiah ini merupakan hal yang biasa. Pasalnya, dalam situasi global yang masih belum menentu, wajar jika nilai tukar dan indeks masih bisa bergerak naik dan turun. \"Saya tetap melihat bahwa situasi global uncertainty (ketidakpastian) masih begitu tinggi, dan itu akan berpengaruh pada persepsi investor mengenai ini,” klaim Chatib.

Sekadar informasi, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia turun US$2 miliar bulan lalu menjadi US$105,2 miliar dari posisi April yang sebesar US$107,2 miliar. Akibatnya, BI pun melakukan intervensi untuk mengurangi volatilitas rupiah. Gubernur BI Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, menilai penurunan cadev itu lantaran dampak dari kebijakan bank sentral yang mengintervensi mata uang rupiah supaya tetap stabil. \"Benar. (Cadev) turun menjadi US$105,2 miliar. Ini wajar, karena efek samping dari intervensi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Apalagi kondisi perekonomian global masih melambat,” ujar Agus Marto, pekan lalu. [ardi]

Related posts