BUMI Masih Optimis Penjualan Capai 74 Juta Ton

NERACA

Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan penjualan batu bara tetap 74 juta ton pada 2013, meski proses penambangan di dua area milik anak usahanya, yaitu PT Arutmin Indonesia di Senakin dan Setui berhenti sementara. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Direktur PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava mengatakan, kontraktor pertambangan PT Thiess Contractors Indonesia telah secara sepihak menghentikan operasi di tambang Senakin dan Satui dari PT Arutmin Indonesia.

PT Arutmin Indonesia telah membayar Thiess untuk semua pembayaran yang tertulis dalam persyaratan kontrak. PT Arutmin Indonesia menyatakan kekecewaan terhadap Thiess yang telah memutuskan kewajibannya dalam kontrak yang ditetapkan.

Padahal perseroan telah bekerja sama dengan Thiess selama 12 tahun. Selama ini, pihaknya telah mampu menyelesaikan semua perselisihan sebelumnya tanpa ada tindakan drastis seperti itu. Selain Thiess, Arutmin dan KPC menegaskan, tidak dalam sengketa dengan salah satu kontraktor pertambangan lainnya.

Menurut manajemen PT Bumi Resources Tbk, tindakan Thiess tersebut telah menyebabkan dan membahayakan perekonomian lokal. Manajemen PT Bumi Resources Tbk menyatakan, pihaknya telah memulai proses hukum di Mahkamah Agung Queensland pada 2 April 2013.

Hal itu dilakukan untuk memperjelas legalitas kontrak jasa pertambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia. Penjelasan itu dilakukan mengingat ada perubahan dalam Undang-undang pertambangan di Indonesia mulai berlaku pada 1 Oktober 2012.

Sebagai informasi, pada kuartal pertama penjualan perseroan tercatat US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 13 triliun, turun 11% dibanding periode sama tahun lalu sebesar US$ 1,46 miliar. Disebutkan, penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) batu bara menjadi US$ 73 per ton dari sebelumnya US$ 92,7 per ton menjadi pemicunya.

Perusahaan batu bara termal terbesar nasional itu mencetak kenaikan volume penjualan sebesar 20,6 persen menjadi 19,1 juta ton dari 15,8 juta ton. Adapun produksi tercatat melonjak 23,7% menjadi 19,7 juta ton dari 15,9 juta ton.

Dileep pernah bilang, penurunan produksi dinilai wajar karena pada produksi kuartal I biasanya rendah, seiring tingginya curah hujan. Namun, tahun ini, perseroan mengklaim berhasil mencetak rekor produksi kuartal I tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Dileep menegaskan, stok batu bara perseroan juga cukup tinggi, yakni sebesar 5,5 juta ton. Hal itu mampu menopang volume penjualan. (bani)

BERITA TERKAIT

Kapitalisasi Pasar di BEI Capai Rp 7 Triliun - IHSG Sepekan Tumbuh 1,07%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin atau priode 16 hingga…

Baramulti Suksessarana Bagi Dividen US$ 42 Juta

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan kinerja keuangan yang positif dengan pertumbuhan pendapatan 61,79% dari US$ 242,6 juta menjadi US$ 392,57…

First Media Optimalkan Jaringan Yang Ada - Diproyeksikan Masih Merugi

NERACA Jakarta - Kerjasa keras PT First Media Tbk (KBLV) untuk menekan efisiensi masih berlanjut di tahun ini karena derita…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Dicatatkan di Singapura - Garuda Optimis Bond Mampu Diserap Pasar

NERACA Jakarta – Danai pelunasan utang, PT Garuda Indonesia (Persero) bakal menerbitkan global bond dan hingga US$ 750 juta. Aksi…

OJK Edukasi Pasar Modal Syariah di Bekasi

  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengintensifkan sosialisasi seputar pasar modal berbasis syariah guna meningkatkan pengetahuan dan penerimaan masyarakat seperti dilakukan…

META Bagikan Dividen Rp 2,5 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) bakal membagikan dividen interim kepada seluruh pemegang saham sebesar Rp 2,5 per…