Kemenperin Siap Bantu Kemendag Awasi Barang Impor

NERACA

Bandung - Derasnya barang impor yang beredar di dalam negeri nampaknya sudah sangat mengkhawatirkan. Pasalnya barang - barang impor tersebut banyak juga yang tidak sesuai standar yang ditetapkan oleh Pemerintah. Terlebih lagi kita akan menghadapi ASEAN Economic Comunnity, (AEC) 2015 nanti.

Menteri Perindustrian mengungkapkan Safe guard dan kewenangan mengawasi peredaran barang impor ada di Kemendag (Kementerian Perdagangan). “Dan selama ini kami (Perindustrian) belum intensif melakukan kewenangan tersebut. Akan tetapi, kami siap apabila diminta untuk ikut mengawasi barang yang beredar di masyarakat,” Hidayat saat menghadiri acara Forum Ekonomi Jawa Barat, akhir pekan lalu di Bandung.

Menjelang AEC 2015,lanjut Hidayat pengawasan barang beredar yang ada dimasyarakat harus dilakukan dengan tindakan low inforcement dan barang barang yang tidak sesuai standar wajib atau standar nasional Indonesia (SNI) tidak boleh beredar dan harus segera di reekspor.

\"Untuk itu peningkatan pengawasan di pelabuhan agar penegakkan hukum dilakukan. Sanksi tegas harus diberikan terhadap pelanggaran-pelanggaran dengan tindakan low inforcement dan menggunakan aparat negara yg lain,\"jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, mantan Ketua Kadin ini meminta seluruh stakeholder dalam Forum Ekonomi Jabar (FEJ) bersinergi agar bisa mendorong perekonomian lebih maju lagi. Hidayat mengatakan peningkatan ekonomi Jabar melalui akselerasi pembangunan akan berhasil jika masyarakat,akademisi dan Pemerintah mempunyai tekad yang sama. “Partisipasi swasta diharapkan lebih dominan 80%,” kata Menperin.

Menurut Hidayat FEJ ini, pemerintah dalam hal ini lebih bersifat fasilitator dalam penyediaan berbagai infrastruktur dan berbagai regulasi untuk mendukung iklim usaha yang kondusif. Dirinya berharap FEJ dapat mengawal program-program akselerasi pembangunan ekonomi Jabar.Sehingga hasil dari program tersebut dapat mendorong peningkatan peranan dan pertumbuhan ekonomi Jabar 2013-2018.

Langkah Antisipasi

Di tempat yang sama,Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal Sutisno mengatakan terkait agenda AEC 2015 semua pihak harus melakukan sejumlah langkah antisipasi. “Kawasan Asean akan menjadi kawasan paling penting dalam ekonomi dunia,” kata dia.

Menurutnya terbukanya kawasan ekonomi Asean harus diantisipasi oleh pemerintah dan pengusaha juga akademisi. “Mari bersama-sama bahu membahu menghadapi tantantangan ini,” katanya.

Terkait pembentukan FEJ, Agung menilai pihaknya berharap banyak dalam rangka percepatan ekonomi Jawa Barat. “Saya berharap FEJ bisa mendorong akselerasi pembangunan ekonomi di Jabar,” katanya. Agung mengatakan peran FEJ jika sukses bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.“FEJ bisa menjadi lokomotif bagi daerah lain,” katanya.

Forum Ekonomi Jabar (FEJ) berkomitmen untuk mendorong perekonomian Jawa Barat dalam menghadapi tantangan kedepan, dimana masyarakat dan para pelaku usaha dihadapkan pada moment perjanjian kerjasama internasional masyarakat ekonomi Asean 2015.

Terkait itu FEJ pun berencana menggelar seminar dengan tema Akselerasi Pembangunan Jawa Barat menghadapi masyarakat ekonomi Asean 2015 melalui sinergitas pemerintah, pelaku usaha dan akademisi di Trans Convention Centre Jln. Gatot Subroto Bandung.

Sekjen Forum Ekonomi Jabar Harso Waluyo mengatakan, FEJ berkomitment mendorong pengembangan ekonomi Jawa Barat. Hal itu dilakukan melalui kajian kajian akademisi bersama dengan para pelaku usaha di Jawa Barat, dimana hasil dari kajian tersebut akan direkomendasikan kepada pemerintah.

\"Kajian tersebut bisa menjadi salah satu masukan untuk pemerintah, baik itu pemerintah provinsi, maupun kabupaten kota dalam mendorong pengembangan ekonomi di Jawa Barat,\" jelas Harso.

Menurutnya, para pelaku usaha, akademisi dan pemerintah perlu memiliki persepsi yang sama dalam mendorong perekonomian Jawa Barat. Apalagi saat ini para pelaku usaha dan masyarakat dihadapkan pada persaingan yang cukup ketat seiring dengan moment masyarakat ekonomi Asean pada tahun 2015.

\"Moment masyarakat ekonomi Asean sendiri merupakan tantangan yang harus dihadapi, dan harus dipersiapkan dari sejak dini,\" jelasnya.

Menurutnya, tantangan tersebut cukup berat apalagi saat ini para pelaku usaha Jawa Barat sendiri berlum siap menghadapinya. Namun demikian terlepas dari itu, para pelaku usaha dan masyarakat harus siap menghadapinya.

Hal senada pun diungkapkan Wakil Sekjen Forum Ekonomi Jabar Januar P.Ruswita. Dikatakannya, tantang para pelaku usaha dan masyarakat Jawa Barat pada Asean Economic Community memang sangat berat. Terlebih Indonesia khususnya Jawa Barat akan menjadi salah satu tujuan perdagangan dari para pelaku usaha di Asean. Sehingga perdagangan pun akan semakin bebas, dan iklim persaingan usaha pun akan semakin ketat.

Related posts