BTPN Kembangkan Kredit Prapensiunan PNS

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk mengembangkan program kredit prapensiunan bagi pegawai negeri sipil (PNS) dengan menawarkan pinjaman maksimal hingga Rp350 juta dengan tenor sepuluh tahun. Kepala BTPN Jawa Timur, Syukran, melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (7/6) pekan lalu, menyebut kredit yang ditawarkan bersifat multiguna dan bisa digunakan untuk berbagai keperluan. \"Kredit digunakan untuk persiapan masa pensiunan, biasanya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif,\" kata Syukran. Program kredit prapensiunan ini, lanjut dia, didasarkan pada kebutuhan para pegawai menjelang masa pensiun seperti untuk pembelian rumah, bagi pegawai yang sebelumnya tinggal di rumah dinas.

Syukran mengatakan kredit prapensiunan selain bisa digunakan membeli rumah juga bisa dimanfaatkan untuk perdagangan, bisnis persewaan mobil hingga membuka warung ataupun rumah makan. Program prapensiunan BTPN ini, kata Syukran, berlaku bagi pegawai yang akan pensiun dari setahun hingga lima tahun. Dia mengatakan, respon dari program ini sangat bagus termasuk dari PNS yang pensiunnya masih lama, karena tingginya kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan di masa pensiun.

PNS yang ikut kredit prapensiun ini, jelas Syukran, akan mendapat pelatihan hingga bimbingan wirausaha meliputi dasar-dasar berdagang, membuka pasar, membuat merek, hingga bimbingan atas berjalannya bisnis nasabah. Untuk jumlah nasabah pensiun BTPN Jawa Timur I saat ini mencapai 86 ribu orang, dengan rata-rata pertumbuhan 10% per tahun. Program pensiunan Jawa Timur memberikan kontribusi 15% untuk nasional dengan rata-rata kenaikan 22%. Regional Jawa Timur I ini meliputi Surabaya, Madura, Bali, NTB, dan NTT.

Secara nasional, penyaluran kredit BTPN tumbuh 28% per 31 Maret 2013. Pada 31 Maret 2013, kredit BTPN tercatat Rp41,1 triliun, atau naik Rp9 triliun dibanding periode yang sama 2012 sebesar Rp32,1 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) BTPN melalui program Sinaya tumbuh 25% secara year on year (yoy), dari Rp37,2 triliun per 31 Maret 2012 menjadi Rp46,6 triliun. Adapun rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) netto 0,4%, sama dengan posisi pada Maret 2012. Dari total kredit Rp41,1 triliun, kredit pensiunan mendominasi hingga 70% atau Rp28,9 triliun, disusul UMKM 23% serta kredit syariah enam persen. [ardi]

Related posts