BI Musnahkan Rp6,8 Triliun Uang Kartal - Limbah Dapat Didaur Ulang

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengaku telah melakukan pemusnahan uang kartal sebesar Rp6,8 triliun atau 382,9 juta bilyet lembar di sepanjang April 2013 lalu. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI, Lambok Antonius Siahaan, mengatakan hasil pemusnahan uang yang dilakukan otoritas moneter ini dimanfaatkan untuk bahan kesenian. \"Hasil pemusnahan itu mulai digunakan untuk bahan kesenian yang didaur ulang untuk membuat tas, atau pernah juga sebagai bahan pembakaran. Sepanjang bulan April, aktivitas outflow (aktivitas keluar) sebanyak Rp24,4 triliun sedangkan inflow (aktivitas masuk) mencapai Rp 29,7 triliun. Uang yang beredar bulan April sekitar Rp392,9 triliun, naik 12,2% dari bulan April 2012 Rp348,3 triliun,” kata Lambok di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengatakan proses pemusnahan uang kartal di bank sentral berlangsung setiap hari dan limbah uang hasil pemusnahan uang kartal itu menurut dia, tidak akan disalahgunakan oleh pengrajin karena sudah berstatus sampah. \"Limbah uang yang biasa digunakan itu Rp50 ribu nanti hasilnya warnanya biru. Kalau Rp100 ribu merah bata. Kita kerja sama dengan yayasan tertentu untuk mendaur ulang limbah ini, dan kita bangga (daur ulang limbah) bisa digunakan lagi, khususnya untuk pelaku industri kreatif,\" jelasnya. Pemusnahan itu, lanjut Lambok, dilakukan terhadap uang yang sudah tidak layak edar, dengan tingkat kelusuhan tertentu yang bisa dideteksi melalui mesin. Dia mengharapkan masyarakat bisa menjaga kondisi uang beredar dengan menaruhnya di tempat semestinya sehingga uang bisa bertahan lama.

\"Kami berharap media bisa sama-sama melakukan sosialisasi bagaimana menggunakan rupiah dengan semestinya. Jangan di remas-remas, jangan ditempatkan di tempat yang bukan semestinya. Apalagi dikibas-kibas sama pedagang ikan basah, misalnya, sebagai penglaris,\" ungkapnya. Beberapa waktu lalu, Deputi Gubernur BI Ronald Waas mengatakan uang yang diedarkan hingga Mei 2013 sebanyak Rp403 triliun atau meningkat 15%-16% per tahun. Sementara pecahan uang yang paling banyak dimusnahkan yakni pecahan di bawah Rp20 ribu. “Pecahan yang kecil itu merupakan uang yang paling cepat lusuh, kalau Rp100 ribu atau Rp50 ribu kondisinya masih relatif baik,” imbuh dia.

Bebas biaya transaksi

Lambok juga menambahkan, untuk mendorong efisiensi perbankan, BI bersama 120 bank umum telah menyepakati Bye Laws Nasional Transaksi Uang Kartal Antar Bank (TUKAB). Dia mengatakan, jika dahulu bank yang kelebihan uang kartal harus menyetorkan ke BI, lalu dari BI uang tersebut didistribusikan ke bank yang kekurangan. “Sekarang tidak. Pagi hari bank-bank itu melaporkan posisi mereka seperti apa. Di BI ditampung untuk kemudian di-broadcast (diumumkan). Sore harinya juga demikian. Mana (bank) yang kelebihan (uang kartal) dan mana yang kekurangan. Nanti mereka bisa bertransaksi langsung,\" papar Lambok. Untuk biaya pengiriman, dia mengatakan besarannya diserahkan kepada masing-masing bank. “Tidak ada fee, hanya biaya handling saja. Besarannya sesuai kesepakatan bank masing-masing, tidak ada ketentuan dari BI,\" jelasnya. Selain itu, BI juga tidak mematok batasan jumlah uang yang ditukar.

\"Tidak ada batasan jumlah uang, silahkan saja,\" tambah Lambok. Namun jika terjadi pembatalan, bank yang membatalkan akan dikenakan biaya sebesar Rp250 ribu, tujuannya untuk melindungi bank yang dirugikan akibat pembatalan. “Kecuali ada force majeure atau peristiwa yang di luar kemampuan, maka pengajuan klaim ini dilakukan 5 hari sejak tanggal transaksi,” jelas Lambok. Adapun klaimnya dilakukan dengan nota debet atau dimungkinkan secara tunai. Sebaliknya, jika bank pemberi uang yang gagal menyerahkan uang kartal, maka wajib mengembalikan sejumlah dana melalui sistem BI Real Time Gross Settlement (RTGS) kepada bank penerima di hari yang sama. [sylke]

Related posts