Harga Patokan Ekspor CPO Akan Mengacu Bursa Komoditas Jakarta - Kebijakan Kemendag

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan akan membuat refrensi Harga Patokan Ekspor (HPE) untuk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Nantinya harga CPO asal Indonesia akan mengacu pada bursa berjangka komoditas di Jakarta. Selama ini, dalam menetapkan harga ekspor selalu mengacu dari bursa komoditas di Rotterdam dan Kuala Lumpur.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengungkapkan dengan kebijakan baru maka pembobotan referensi HPE CPO akan lebih banyak mengacu pada bursa berjangka di Jakarta dengan porsi 60% lalu diikuti dengan bursa Kuala Lumpur dan Rotterdam masing-masing 20%. “Sebelumnya, untuk HPE CPO diambil berdasarkan harga rata-rata yang tidak memiliki pembobotan dan semua sumber data yang diperlakukan sama,” ungkap Bayu di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bayu mengatakan Kemedag menginginkan harga CPO bisa mencermikan dinamika dari sisi produksi kelapa sawit. Untuk urusan ini, Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara penghasil CPO terbesar dimana porsi Indonesia menjadi ekportir terbesar dunia. Pada kenyataannya, harga CPO selama ini justru banyak ditentukan di pasar Eropa yang merupakan konsumen.

\"HPE merupakan instrumen kita sendiri dan hubungannya dengan perusahaan di Indonesia sendiri dengan penerimaan negara bukan pajak, jadi tidak ada hubunganya dengan yang lain jadi kenapa harus menggunakan referensinya ke Eropa yang nadanya masih cenderung negatif pada sawit,\" katanya.

Dengan berubahan aturan ini, Indonesia dapat menjadi referensi bagi sawit dunia mengingat Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar. \"Kami ingin mengubah itu. Kalau yang lain masih ingin menggunakan harga Rotterdam silahkan saja, tetapi kita ingin menggunakan harga kita,\" kata dia.

Ternyata Indonesia tidak hanya membuat untuk HPE CPO saja, melainkan juga atas produk pertanian dan kehutanan yang akan dikenakan Bea Keluar (BK). Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 17/M-DAG/PER/4/2013 dan Permendag Nomor 18/M-DAG/PER/4/2013 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.

Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar adalah CPO, Biji Kakao, Kayu dan Kulit. Penetapan HPE CPO didasarkan pada Harga Referensi CPO US$ 838,02/MT yang turun sebesar US$ 13,37 atau 1,59% dari periode bulan sebelumnya yaitu US$ 851,39/MT, sehingga didapat HPE CPO sebesar US$ 767/MT yang turun US$ 13 atau 1,69% dibandingkan periode bulan sebelumnya yaitu US$ 780/MT.

“Untuk penetapan Bea Keluar (BK) CPO sebesar 9% tercantum pada kolom 2 lampiran III PMK 75 Tahun 2012. Ini berarti terdapat perubahan BK dari periode bulan sebelumnya 10,5%,” seperti dikutip dari siaran pers Kemendag.

Sedangkan Harga Referensi Biji Kakao untuk penetapan HPE Biji Kakao mengalami peningkatan sebesar US$ 90,26 atau 4,10% yaitu dari US$ 2.109,59/MT menjadi US$ 2.199,85/MT, sehingga berdampak pada penetapan HPE Biji Kakao yang juga meningkat sebesar US$ 88 atau 4,6% dari US$ 1.832/MT pada periode bulan sebelumnya menjadi US$ 1.920/MT. Namun, BK Biji Kakao tidak berubah dibandingkan periode bulan sebelumnya, yaitu sebesar 5%. Hal tersebut tercantum pada kolom 2 lampiran II PMK 75 Tahun 2012.

Sementara, untuk HPE maupun BK komoditas Kayu dan Kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya. Penurunan harga dunia untuk produk pertambangan berpengaruh terhadap HPE Produk Pertambangan periode Mei 2013, dibandingkan dengan HPE Produk Pertambangan periode April 2013.

Produk pertambangan yang mengalami penurunan adalah bijih besi sebesar 8,32% setiap 1% kadar Fe, bijih kromium sebesar 39,22% setiap 1% kadar Cr2O3, bijih nikel rata-rata sebesar 3,48%, bijih mangan rata-rata sebesar 30,24%, bijih aluminium sebesar 4,32% dan bijih zirconium sebesar 0,76%.

Pasar Membaik

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan pasar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan membaik menjelang Ramadhan. Hal ini dipengaruhi peningkatan permintaan beberapa negara.

Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan stok CPO Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan menjadi andalan karena produksi yang menurun. Diharapkan prediksi tersebut bisa mendongkrak harga CPO di pasar dunia.

“Kami berharap pasar akan lebih bergairah pada Juni dan Juli. Harga CPO pada akhir Mei dan Juni masih akan bergerak di kisaran harga US$830-US$870 per metrik ton. Adapun, harga CPO Rotterdam diperkirakan sekitar US$842 per metrik ton dengan HPE [Harga Patokan Ekspor] sekitar US$770 dan bea keluar 9%,” kata Fadhil.

Prediksi ini diharapkan bisa mengkompensasi pasar ekspor CPO yang mengalami penurunan sejak awal tahun ini. Ekspor CPO dan turunannya pada April sebesar 1,49 juta ton terus mengalami penurunan sejak Januari, yaitu dari 2,05 juta ton (Januari) menjadi 1,92 juta ton (Februari) dan 1,7 juta ton (Maret).

Fadhil menambahkan penurunan ini dipengaruhi oleh penurunan produksi, permintaan pasar dunia yang lemah sebagai akibat krisis ekonomi Eropa dan belum pulihnya pertumbuhan ekonomi AS yang berdampak pada perekonomian China dan Pakistan.

Selain itu, lanjutnya, hambatan perdagangan terhadap minyak sawit seperti pengetatan regulasi impor minyak nabati di China dan isu minyak sawit yang tidak ramah lingkungan khususnya di Uni Eropa, serta pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat turut berkontribusi.

Related posts