Minim Sentimen, Cermati Empat Sektor

NERACA

Jakarta- Belum jelasnya kebijakan The Fed dan tarik ulur proses keputusan kenaikan harga BBM menjadi salah satu sentimen yang memaksa pelaku pasar berbondong-bondong melakukan aksi jual sehingga laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun menjauh dari level psikologis 5000. Pada pekan depan, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 4737-4812 dan resisten 4992-5115.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, IHSG membentuk pola menyerupai seperti black marubozu sentuh middle bollinger bands. MACD cenderung menurun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William\\\'s %R, dan Stochastic melanjutkan downreversal menuju area oversold.

“Posisi IHSG yang berada di bawah target support kami sebelumnya di kisaran 5052-5085 masih memberikan posisi yang kurang nyaman. Pelaku pasar pun kemungkinan panik sehingga apabila tidak adanya sentimen positif di pekan depan akan membuat koreksi akan berlanjut.” jelasnya di Jakarta, Minggu (9/6).

Menurutnya, dalam pelemahan IHSG yang terjadi kemarin ditengarai akibat ketidakjelasan sentimen yang ada di bursa global maupun kondisi internal. Sehingga, tidak ayal mendorong investor asing selama sepekan mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp5,094 triliun, atau lebih tinggi dari pekan sebelumnya senilai Rp 4,395 triliun. IHSG pun mengalami penurunan sebanyak 203,31 poin atau 4,01%, jauh dari pekan sebelumnya yang juga turun sebanyak 86,47 poin atau 1,68%.

Padahal, kata dia, jika dilihat secara teknikal, posisi IHSG telah berada di area oversold. Namun, belum terlihat adanya tanda-tanda upreversal secara signifikan. Penguatan yang terjadi sebelumnya juga tidak mengkonfirmasi adanya kenaikan lanjutan seperti yang diharapkan dan dimanfaatkan untuk profit taking.

Penurunan ini juga terjadi pada indeks utama lainnya, di mana indeks LQ45 memimpin penurunan sebesar 4,54% dan diikuti indeks IDX30 dan JII yang masing-masing anjlok -4,46% dan -4,33%. Di sisi lain, laju indeks sektoral pun tidak jauh berbeda. Tidak ada satu pun yang menguat, bahkan indeks properti, industri dasar, dan konsumer merupakan tiga besar yang anjlok sangat dalam dengan penurunan masing-masing -8,41, -6,38%, dan -6,12%.

Laju koreksi ini, lanjut dia, diharapkan masih dapat tertahan pada pekan depan. Mengingat, sudah oversoldnya posisi IHSG sehingga masih ada harapan untuk kembali mengalami penguatan (rebound). Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati sentimen regional dan dalam negeri serta memperhatikan volume perdagangan sebelum memutuskan untuk entry level. “Cermati sektor industri dasar, konsumer, keuangan, dan manufaktur.” ujarnya.

Sejumlah saham yang dapat diperhatikan, menurut Reza, antara lain PT Semen Indonesia Tbk (SMGR,) PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), PT Charoen Pokpand Indonesia Tbk (CPIN), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)

Related posts