Pertumbuhan Indonesia Dipertanyakan

Pemerintah pada setiap kesempatan selalu mengungkapkan angka pertumbuhan yang positif selalu di atas 6% dalam lima tahun terakhir ini. Namun, pada tahun ini walau tingkat pertumbuhan Indonesia masih di level 6,2%, ternyata masih kalah dengan negara tetangga kita, Filipina, yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di ASEAN yaitu 6,6%.

\"Di ASEAN itu hanya Filipina yang tumbuh 6,6%,” ujar Menkeu Chatib Basri di gedung DPR, pekan lalu. Kendati demikian, dia menilai pertumbuhan ekonomi RI masih relatif lebih baik ketimbang Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Meski Indonesia bisa memacu ekonomi tumbuh 6,02% pada triwulan I-2013 dibanding setahun lalu, apakah pertumbuhan ekonomi kita cukup berkualitas? Pasalnya, lembaga internasional OECD memperkirakan pertumbuhan Indonesia 2013 sebesar 5,8% di tengah prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 6,2%.

Kita juga merasa heran dengan paparan data BPS soal tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang cenderung menurun. Pada Februari 2012 TPT mencapai 6,32%, Agustus 2012 turun menjadi 6,14% dan pada Februari 2013 sekitar 5,92%.

Dari gambaran tersebut, apakah pertumbuhan Indonesia selain berkualitas juga bisa sustainable?

Kita melihat data pertumbuhan PDB sebesar 6,02% dimana berasal dari konsumsi pemerintah yang hanya menyumbang 0,03%, sementara pilar utamanya masih konsumsi rumah tangga sebesar 2,87%, menunjukkan bukti pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh kekuatan konsumsi domestik yang cukup besar.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia (NPI) hingga April 2013 tercatat defisit US$1,62 miliar, yang akhirnya menggelembungkan defisit secara kumulatif (Januari/s/d April 2013) sebesar US$1,85 miliar. Ini sebuah warning bagi pemerintah di tengah kondisi global yang tidak menentu belakangan ini.

Penurunan tajam nilai ekspor sepanjang April tersebut dipicu oleh masih memburuknya harga sejumlah komoditas ekspor nonmigas di pasar internasional. Menurut data BPS, nilai ekspor April mengalami penurunan 9,11% dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi US$14,7 miliar.

Lalu bagaimana dengan kondisi impor? Jika mencermati data BPS, nilai impor April 2013 mengalami penurunan 3,68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$16,31 miliar. Namun jika dibandingkan dengan Maret 2013, terjadi lonjakan impor migas 9,5% dari US$3,6 miliar menjadi US$3,9 miliar. Impor nonmigas juga meningkat 15,75% dari US$10,98 miliar menjadi US$12,71 miliar.

Persoalan lain yang tak kalah peliknya, adalah terjadi lonjakan harga sejumlah barang konsumsi yang membuat rakyat makin miskin dan industri kian terpukul. Belum lagi impor BBM yang melonjak, sehingga neraca perdagangan defisit dan menekan nilai tukar rupiah. Apabila nilai rupiah sampai menembus batas psikologis Rp 10.000 per dolar AS atau lebih, kepercayaan pasar bisa terganggu dan ini dapat memicu pembalikan modal asing besar-besaran (sudden reversal).

Menghadapi problem kompleks seperti ini, sudah saatnya pemerintah Indonesia segera melakukan reformasi jilid II untuk mempertahankan kualitas pertumbuhan ekonomi yang sustainable. Antara lain melakukan perbaikan drastis birokrasi seperti mempermudah pemberian izin usaha, kecepatan pelayanan masyarakat, dan berantas pungutan liar (Pungli). Kepastian hukum harus menjadi “panglima” di negeri ini supaya investor merasa aman dan nyaman menanamkan investasi di sektor riil di tengah persaingan negara tetangga kita merebut pasar investasi. Semoga!

Related posts