Pekan Ini, Indeks BEI Masih Terkoreksi Aksi Jual

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup terkoreksi lebih dalam 135,897 poin (2,72%) ke level 4.865,324. Sementara Indeks LQ45 ditutup menukik 29,750 poin (3,58%) ke level 801,342. Pelemahan indeks BEI dipicu aksi jual investor yang sangat tinggi dan ditambah sentimen negatif datang dari bursa-bursa regional yang kompak melemah dengan koreksi cukup dalam.

Menurut analis eTrading Securities, Bertrand Raynaldi, pelemahan indeks BEI lebih dipengaruhi aksi jual investor, “Tercatat investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar saham reguler sebesar Rp1,763 miliar,\" katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, saham yang cukup aktif terkena aksi jual itu yakni Semen Indonesia (SMGR), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Unilever (UNVR). Secara teknikal, lanjut dia, pelemahan IHSG BEI pada akhir pekan ini menghasilkan sinyal pelemahan pada beberapa indikator yaitu MACD (Moving Average Convergence/Divergence).

Berikutnya, Senin awal pekan ini, dirinya memproyeksikan pelemahan indeks BEI masih berlanjut, “Indeks BEI masih berpotensi melanjutkan koreksinya di kisaran 4.800-4.985 poin,”ungkapnya.

Saham-saham yang layak di koleksi awal pekan ini, kata Bertrand, yakni Astra International (ASII), Malindo Feedmill (MAIN), Perusahaan Gas Negara (PGAS). Pada perdagangan kemarin, aksi jual didominasi oleh investor asing. Dimana para pemodal asing yang sudah menanam dana sejak awal tahun mulai menarik hasil investasinya.

Seluruh indeks sektoral di lantai bursa memerah, dipimpin oleh sektor industri dasar yang jatuh lebih dari empat persen. Rata-rata koreksi indeks sektoral ini lebih dari dua persen. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 161.736 kali pada volume 4,635 miliar lembar saham senilai Rp 7,706 triliun. Sebanyak 43 saham naik, sisanya 241 saham turun, dan 71 saham stagnan.

Bursa-bursa regional tak berdaya jatuh ke zona merah menutup perdagangan akhir pekan. Padahal ada sentimen positif dari pasar global. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya United Tractor (UNTR) naik Rp 900 ke Rp 17.500. Apexindo (APEX) naik Rp 575 ke Rp 2.900, Dyviacom (DNET) naik Rp 240 ke Rp 1.210, dan Sinar Mas (SMMA) naik Rp 225 ke Rp 4,725.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 4.500 ke Rp 210.500, Unilever (UNVR) turun Rp 2.100 ke Rp 28.900, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.550 ke Rp 51.500, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.450 ke Rp 28.050.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 95,604 poin (1,91%) ke level 4.905,617. Sementara Indeks LQ45 jatuh 20,160 poin (2,43%) ke level 810,932. Aksi jual awalnya dilakukan oleh investor asing, tak lama investor domestik pun ikut-ikutan. Alhasil, indeks terus-terusan bergerak ke bawah.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 87.672 kali pada volume 2,354 miliar lembar saham senilai Rp 3,662 triliun. Sebanyak 33 saham naik, sisanya 218 saham turun, dan 63 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Apexindo (APEX) naik Rp 575 ke Rp 2.900, Multi Prima (LPIN) naik Rp 250 ke Rp 5.950, Dyviacom (DNET) naik Rp 240 ke Rp 1.210, dan United Tractor (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 16.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Prima (MLBI) turun Rp 11.000 ke Rp 1,18 juta, Merck (MERK) turun Rp 4.500 ke Rp 210.500, Unilever (UNVR) turun Rp 1.700 ke Rp 29.300, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.450 ke Rp28.050.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 16,99 poin atau 0,34% ke posisi 4.984,32, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 4,26 poin (0,51%) ke level 826,83. Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, pergerakan indeks BEI masih dibayangi oleh berlanjutnya aksi jual investor asing, Selain itu, sentimen negatif dari defisit perdagangan untuk periode April lalu juga membayangi pasar saham.

Karena itu, dirinya sempat memproyeksikan IHSG BEI akan bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada akhir pekan di kisaran 4.907-5.030 poin. Sementara analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung menambahkan, pelemahan saham-saham di Indonesia seiring dengan bursa Asia yang dibuka melemah khususnya bursa Jepang.\"Tekanan jual investor asing diperkirakan masih akan terjadi di akhir pekan seiring masih tingginya volatilitas nilai tukar rupiah dan koreksi yang terjadi di pasar obligasi domestik,\" katanya.

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 121,34 poin (0,56%) ke level 21.717,09, indeks Nikkei-225 turun 132,92 poin (1,01%) ke level 12.773,10, dan Straits Times melemah 1,20 poin (0,04%) ke posisi 3.191,66. (bani)

Related posts