Kinerja Emiten Melorot Picu Asing Keluar

NERACA

Jakarta – Aksi jual yang dilakukan investor asing diperkirakan masih berlanjut sepanjang, rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi belum jelas.

Kepala Riset PT Universal Broker Securities mengatakan, ada dua faktor lain yang menjadi faktor penyebab investor asing terus menarik dananya yaitu antisipasi terhadap likuiditas global dan kinerja emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, “Faktor tersebut menjadi pemicu terkoreksinya indeks disamping ketidak jelasan pemerintah menaikkan harga BBM, “katanya di Jakarta, kemarin.

Kendatipun demikian, menurut Satrio, penarikan dana asing itu merupakan hal yang wajar karena dana asing memang sifatnya tidak menetap, come and go. “Kerugiannya tidak akan terlalu berdampak hanya saja menimbulkan koreksi. Investor domestik juga tidak akan terlalu terpengaruh dengan aksi jual investor asing tersebut, karena saat ini merekatidak lagi tergantung kepada asing. Mereka punya pendapat sendiri,”ujarnya.

Satrio juga menjelaskan mengenai kinerja emiten pada kuartal I yang jauh dari ekspektasi pasar. Penurunan kinerja emiten tersebut langsung menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak akhir Mei hingga kini. “Dari seluruh emiten yang tercatat hanya 23,1% yang mampu mencapai kinerja laba bersih di atas ekspektasi pelaku pasar. 15,1% yang mencetak penjualan sesuai yang diharapkan.

Lanjutnya, dapat dikatakan sebanyak 80% lebih emiten kinerjanya di bawah IHSG. Hal ini yang membuat investor asing men-downgrade level IHSG cukup dalam pada akhir Mei hingga awal Juni. Dia juga menyebutkan beberapa saham yang kinerjanya di atas ekspektasi pelaku pasar eperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). “Contoh BRI, dari penjualan atau laba bersihnya, nilai laba bersih per saham (earning per share/EPS) perseroan tercatat Rp 212,02 tumbuh 6,3%, padahal para analis perkirakan Rp 199,53. Sedangkan nilai EPS Bumi Serpong Damai tercatat tumbuh 162,7% menjadi Rp 71,06 dari estimasi Rp 27,05. Namun yang menarik, kinerja Perusahaan Gas Negara mengalami penurunan dibandingkan kuartal I 2012, tetapi nilai EPS-nya justru tumbuh 24% menjadi Rp 106 dari nilai estimasi Rp 85,51”, jelas dia.

Selain itu, menurutnya kinerja emiten pada kuartal I yang di bawah ekspektasi pelaku pasar antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).“Kinerja Astra International alami tekanan akibat sentimen negatif dari dalam negeri seperti ketidakjelasan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Hasil penjualan Astra International turun 8,4%, sehingga nilai EPS-nya hanya Rp 106. Akan tetapi yang paling buruk adalah kinerja Mitra Adiperkasa nilai EPS-nya turun 54,6% menjadi Rp 37 dari nilai estimasi Rp 81,54”, ungkap dia. (nurul)

Related posts