VIVA Tanggapi Dingin Soal Akuisisi ANTV

NERACA

Jakarta-Beredar kabar PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang akan melego sahamnya kepada dua perusahaan media besar ditanggapi dingin oleh manajemen VIVA. Namun, seolah membuka luas ruang spekulasi, manajemen VIVA hanya berkomentar, “Belum ada rencana itu. Semuanya masih spekulasi. Saya mengarah supaya VIVA kinerjanya bagus, saham naik, dan pemegang saham happy.” kata Presiden Komisaris VIVA, Anindya Bakrie di Jakarta, Rabu (5/6).

Menurutnya, saat ini manajemen VIVA tengah fokus untuk meningkatkan kinerja perseroan. Strateginya yaitu dengan mengembangkan televisi digital dan televisi berbayar (pay TV). Selain itu, perseroan juga berupaya untuk melakukan efisiensi dengan mensinergikan program televisi di dua channel dalam grupnya, yaitu ANTV dan tvOne sebagai langkah mengurangi biaya operasional.

Pihaknya optimistis dengan langkah tersebut pertumbuhan pendapatan di tahun ini dapat melebihi tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu pertumbuhan revenue sekitar 25%. Tahun ini harusnya lebih dari tahun lalu.” ujarnya.

Meski demikian, diakui Anindya, tidak menutup kemungkinan bagi perseroan untuk menjalin kemitraan dengan pihak-pihak lainnya ke depan. Namun, dia tidak ingin berkomentar terkait siapa dan apakah perseroan akan melepas 49% saham kepada PT Media Nusantara Citra Tbk (MNC) atau dengan cara lainnya. Yang jelas, apabila hal itu terjadi perseroan baru akan menginformasikannya ke publik.

“Tidak menutup kemungkinan membuka dengan beberapa partner. Semuanya itu melihat bukan hanya dua grup itu (MNC ataupun CT corp, red), kalau ada kinerja bagus tentunya ada daya tarik sendiri. Jadi, belum bisa disampaikan karena perusahaan publik. Kalau sudah waktunya pasti disampaikan.” ucapnya.

Dia menegaskan, hingga kini secara fundamental, kondisi perseroan dalam keadaan sangat baik, di mana pada tahun lalu pendapatan naik sebesar 25,1% atau menjadi Rp1,2 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp992 miliar. Ke depan, perseroan juga akan melakukan pengembangan usaha di lini bisnis free to air yang diharapkan dapat menjaring target awal pelanggan bisa mencapai 300 ribu orang di awal semester 2014.

Presiden Direktur VIVA, Erick Thohir mengatakan, penjualan saham ANTV kepada MNC group hanya rumor pasar sehingga dia pun tidak ingin berkomentar mengenai hal tersebut. Tahun ini, fokus perseroan yaitu melakukan pengembangan dan meningkatkan kinerja perseroan melalui TV digital maupun TV berbayar untuk meningkatkan kontribusi iklan dan penonton.

Untuk melakukan pengembangan usaha ini, kata dia, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/Capex) sebesar US$40 juta. Dari dana tersebut, perseroan menggunakan sekitar US$30 juta untuk membiayai rencana ekspansi televisi berbayar dan sisanya untuk pengembangan televisi digital.

Sumber pendanaan dana belanja modal ini, lanjut dia, sebagian dipenuhi dari kas internal perseroan dan pinjaman perbankan. Salah satunya yaitu pinjaman yang diperoleh dari Deutsch Bank sebesar US$ 80 juta. “Dana capex untuk pengembangan free to air US$10 juta. Kalau untuk investasi pay TV (TV berbayar) sebesar US$30 juta. Jadi, totalnya setahun ini bisa US$40 juta,” jelasnya.

Related posts