Perbankan Syariah Siap Kelola Dana Haji Rp23 Triliun

NERACA

Jakarta - Kalangan industri perbankan syariah tengah memperebutkan dana haji sebesar Rp23 triliun, dari total Rp50 triliun pada akhir tahun lalu, untuk digunakan sebagai pembiayaan syariah. Anggota Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Djoko Nugroho, mengaku optimistis dalam waktu dekat akan memperoleh dana tersebut. “Saya optimis dan dalam waktu dekat (dana haji) berhasil masuk. Hal ini diharapkan menjadi pelaksana pembiayaan haji untuk kemaslahatan umat,” kata dia di Jakarta, Rabu (5/6).

Lebih lanjut Direktur Kepatuhan Bank Victoria Syariah ini menjelaskan, pangsa pasar bank syariah di Indonesia masih berada di kisaran 4,9%. Indonesia sendiri, lanjut Djoko, masih membutuhkan pembelajaran panjang untuk menjawab tantangan tersebut. “Seperti Menteri BUMN (Dahlan Iskan) yang mau mendirikan bank BUMN syariah. Itu kan wacana lama yang hingga kini belum terealisasi. Lalu ada juga yang menginginkan merger bank BUMN syariah. Jadi kita lihat sajalah nanti seperti apa,” paparnya.

Saat ini, posisi perbankan syariah tumbuh 35%. Hal ini merupakan pertumbuhan yang luar biasa dari sesuatu yang kecil. Pasalnya, pangsa pasar perbankan syariah 5% dari perbankan nasional. Namun demikian, semuanya tumbuh diatas rata-rata. Djoko juga menuturkan, posisi kekuatan perbankan syariah di Indonesia masih kecil untuk menjadi besar atau kecil lantaran pilihannya ada di masyarakatnya sendiri.

Senada, Direktur Utama PT Bank Muamalat Tbk, Arviyan Arifin, sangat mengharapkan dana haji untuk segera diinvestasikan ke sektor syariah. Dia menuturkan, hal ini merupakan salah satu komitmen yang harus dilakukan Kementerian Agama. “Dana haji itu kan sesuatu yang digunakan oleh nasabah dan untuk ibadah ke tanah suci. Tentu akan lebih baik jika dananya ditempatkan di sektor syariah,” jelas dia.

Untuk perolehan dana pihak ketiga (DPK), Djoko Nugroho mengaku selalu tumbuh, namun khusus dana murah (current and savings account/CASA) masih didominasi oleh bank konvensional, karena mereka telah menguasai sistem dan teknologi perbankan. Terkait menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2020 untuk sektor perbankan, baik Djoko maupun Arviyan, mengaku siap menghadapinya.

“Sebenarnya perbankan Indonesia, khususnya syariah, memiliki keunggulan yakni pemahaman pasar yang baik. Tapi keunggulan yang kita punya seakan hanya takdir karena memiliki penduduk yang cukup banyak. Harusnya ini menjadi peluang bagus karena saingan kita seperti Singapura dan Malaysia industri perbankannya sudah jenuh,” tandasnya. [sylke]

Related posts