KKP Siapkan SDM Berskala Internasional - Konservasi Perairan Laut

NERACA

Tegal - Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Suseno Sukoyono mengatakan pemerintah telah memasang target kawasan konservasi perairan seluas 20 juta hektar di 2020. Hingga 2012 lalu, dari target itu telah tercapai 15,78 hektar.

Selain itu, Suseno juga menjelaskan, solusi yang akan dilakukan selanjutnya untuk memperbaiki kerusakan laut adalah dengan Marine Protected Area (MPA) “Hal ini dapat bantu memelihara sekaligus memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan melalui partisipasi aktif masyarakat,” ujar Suseno pada acara International Training Program on Marine Protected Area Management Planning, di Tegal, Jawa Tengah, Selasa (4/6).

Hal ini, lanjut Suseno, sejalan dengan komitmen KKP untuk melaksanakan pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan dengan konsep blue economy (ekonomi biru). Suseno mengatakan, ini merupakan pembangunan berbasis sumberdaya kelautan dan perikanan yang dilandasi prinsip-prinsip peningkatan dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan, efisiensi alam, tidak merusak lingkungan. “Peningkatkan pendapatan dan perluasan lapangan pekerjaan melalui pengembangan usaha dan investasi inovatif dan kreatif untuk kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial,” imbuhnya.

Pada Kongres Dunia Blue Economy di Madrid, Spanyol, bulan April lalu, Indonesia telah menyampaikan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam kerangka blue economy, yang akan ditindaklanjuti dengan sinergi yang lebih luas bersama negara-negara lain yang juga memiliki komitmen yang kuat dalam mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan berbasis blue economy.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rio+20 Summit Sidelines di Brazil Tahun 2012 berkomitmen untuk memperkuat upaya Indonesia guna membangun blue economy yang akan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di seluruh daerah laut dan pesisir. Ia menegaskan kembali kepemimpinan Indonesia pada The Coral Triangle Initiative (CTI) untuk kehidupan laut, keamanan pangan, dan perubahan iklim.

Pendekatan Sinergi

Lebih lanjut Suseno menjelaskan pendekatan sinergi terkait untuk menghindari tumpang tindih kewenangan dan pengawasan antar lembaga terkait, BPSDM KP bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) adalah dengan KKP Incorporated. “Contoh nyata adalah Pelatihan di Tegal. BPSDMKP juga bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan untuk mencetak SDM kelautan yang unggul dan saat ini bekerja baik di dalam maupun luar negeri sebagai awak maupun nakhoda kapal perikanan,” kata Suseno.

Menurut dia, International Training di Tegal menunjukkan Indonesia siap tampil dan berkontribusi mencetak SDM unggul tidak hanya skala nasional, tetapi sekaligus di kancah internasional. Sementara itu sampai dengan tahun 2014 diperlukan lebih dari 2.544 pengelola kawasan konservasi perairan yang terdiri dari Managerial Level, Middle Level, dan Ranger Level.

Untuk memenuhi target pemenuhan SDM kommpeten tersebut, BPSDM KP telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan pelatihan (MPA 101, EAFM, GIS, Tourism Guidance, Public Consultation, dsb) yang selama tiga tahun terakhir telah mencapai jumlah 981 peserta.

Dia menambahkan, dalam rangka mempersiapkan SDM pengelola kawasan konservasi tersebut, KKP telah menyusun standar kompetensi khusus pada pekerjaan perencanaan pengelolaan kawasan konservasi perairan. Standar ini selanjutnya menjadi sumbangsih kami yang juga dapat menjadi referensi bagi pengembangan kawasan konservasi perairan di kawasan regional.

Suseno berharap pelatihan ini memberikan kesempatan peserta untuk belajar pengalaman Indonesia secara praktek mengenai manajemen fundamental dan perencanaan untuk daerah perlindungan laut. Ia juga berharap bahwa pelatihan ini akan memainkan peran penting sebagai forum untuk bertukar ide antara Indonesia dan peserta dari negara-negara sahabat untuk membangun sinergi dan kerjasama dalam pembangunan kelautan dan perikanan.

“Saya percaya bahwa melalui fasilitas pelatihan yang tersedia serta fasilitator dan narasumber yang berpengalaman, para peserta akan memperoleh keterampilan dan pengalaman yang sangat berharga, jejaring yang kuat, serta dapat menerapkannya di negara masing-masing dan menularkan ilmunya pada masyarakat setempat” tambah Suseno.

Sementara itu, Duta Besar Papua Nugini Peter Illou menyampaikan apresiasi pada Pemerintah Indonesia terkait pelatihan konservasi kawasan perairan untuk negara Asia Pasifik. “Pemerintah Papua Nugini berterima kasih dengan terselenggarannya kegiatan pelatihan konservasi ini karena hal ini pertama kali kami mengikuti di Tegal,” Ujarnya.

Peter mengatakan bahwa pelatihan konservasi itu akan bermanfaat untuk Papua Nugini dan peserta berasal dari negara lainnya karena kegiatan tersebut tidak hanya membahas masalah ekonomi melainkan juga bidang kelautan dan perikanan.

Related posts