Akuisisi Lahan, Summarecon Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

NERACA

Jakarta – Guna mendanai akuisisi lahan, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) berencana melakukan penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi senilai total Rp 2 triliun. Untuk tahap awal, perseroan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1 triliun.\\\"Mudah-mudahan untuk tahap pertama kami bisa terbitkan di semester dua tahun ini,\\\" kata Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johannes Mardjuki di Jakarta kemarin.

Untuk melancarkan aksi korporasi tersebut, perseroan sudah menunjuk tiga penjamim emisi (underwriter). Mereka adalah PT Indopremier Securities, PT Andalan Artha Advisindo (AAA) Sekuritas dan PT Makinta Securities.

Dia menambahkan, dana hasil obligasi akan digunakan untuk mengakuisisi cadangan tanah (land bank) guna memperkuat kinerja usaha. Tanah yang dibidik berada di Selatan Jakarta dan Bandung. Sayangnya dia tidak menyebutkan detil lokasi dan luas tanah yang diincar perusahaan dengan alasan masih dalam tahap due delligence. Adapun saat ini, total land bank Summarecon mencapai 1.300 ha. \\\"Land bank kami di Serpong sekitar 560 ha, sementara di Bekasi hingga tahap II mencapai 500 ha,\\\" kata Johanes.

Nantinya, tanah yang akan diakuisisi mencapai ratusan hektar (ha). Khusus untuk di lahan di Bandung, Summarecon akan mengambil dengan cara akuisisi langsung. Sementara untuk lahan di Selatan Jakarta dilakukan dengan membentuk perusahan patungan (joint venture/JV). \\\"Tentunya kita akan menjadi mayoritas kalau bentuk perusahaan patungan,\\\"ujarnya.

Asal tahu saja, kebutuhan dana Rp 2 triilun untuk akuisisi land bank tersebut, di luar dana belanja modal (capital expenditure/capex) yang dianggarkan Rp 1,5 triliun pada tahun ini. Rencananya, perseroan akan membelanjakan capex tersebut untuk menggenjot pendapatan berkelanjutan (recuiring income) melalui pembangunan sejumalh hotel. Adapun sumber pendanaan capex 2013 akan dibiayais sekitar 30% dari kas internal dan sisanya pinjaman perbankan.

Bagikan Dividen

Kemudian hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) juga menyetujui untuk membagikan dividen sebesar Rp 43 per saham atau senilai Rp 308,8 miliar. Disebutkan, pembagian dividen tersebut setara dengan 39% dari laba bersih sepanjang 2012 yang tercatat Rp 792 miliar, “Pembagian dividen sebagai bentuk apresiasi perseroan kepada pemegang saham,\\\" kata Johannes Mardjuki.

Dia mengatakan, sebesar Rp 7,9 miliar dari laba bersih digunakan sebagai cadangan. Rencananya, recording date akan dilakuka pada 1 Juli, cum dividen 26 Juni dan pembayaran dividen pada 15 juli. Selain membagikan dividen, lanjutnya, para pemegang saham juga menyepakati saham bonus dengan rasio 1 banding 1. Dimana setiap pemegang saham lama mendapat satu lembar saham bonus. \\\"Tidak ada efek dalam pembagian saham bonus ini, tujuannya meningkatkan likuiditas saham Summarecon,”ujarnya.

Disamping itu, hasil RUPS juga melalukan penggantian direksi dengan menunjuk dua direksi baru yakni Adrianto Pitoyo Adhi dan Sharif Benyamin dalam jajaran direksi periode yang akan datang. Keduanya menggantikan Lilies Yamin dan Yong King Chong.

Tahun ini, perseroan menargetkan penjualan marketing sales sebesar Rp 4,5 triliun atau tumbuh 16% dibanding 2012 sebesar Rp 3,87 triliun. Disebutkan, naiknya target tersebut tak lepas dari kondisi perekonomian Indonesia yang tumbuh 6,23%. Ditambah, daya beli masyarakat juga yang sangat kuat di tengah rendahnya inflasi yang pada tahun 2012 tercatat sebesar 4,3%, “Tingginya permintaan properti juga didukung rendahnya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang berkisarn 7-9%,\\\" kata Johanes.

Selain itu, pada tahun ini juga Summarecon akan membangun tiga hotel yakni Pop Hotel di Kelapa Gading, harris Hotel di Bekasi serta hotel dan resort bintang lima di Jimbaran, Bali. Sebagai informasi, sepanjang 2012 Summarecon mencatat pendapatan tumbuh 47% mencapai Rp 3,5 triliun, sedangkan laba bersih tumbuh 104% mencapai Rp 792 miliar.

Laba kotor naik 52% dari Rp 1,05 triliun menjadi Rp 1,59 triliun. Sementara laba usaha naik 79% Rp 1,010 triliun. Sementara aset naik 34% dari Rp 8,1 menjadi Rp 10,9 triliun. Adapun utang hanya naik 26% dari Rp 5,6 triliun menjadi Rp 7,2 triliun. Sementara ekuitas naik 54% dari Rp 2,5 menjadi Rp 3,8 triliun. (bani)

Related posts