Harga Jengkol Naik Drastis

Masyarakat Indonesia penggemar jengkol kini merasa terkejut. Pasalnya, harga jengkol di sejumlah daerah hingga menyentuh hingga Rp 90.000 per kg, sama dengan harga daging. Lantas apa yang jadi pemicu spekulasi harga jengkol tersebut? Atau gara-gara Indonesia sudah terseret arus globalisasi sehingga semua tidak terkendali lagi?

Ketua Komisi IV DPR M.Romahurmuzy menyesalkan kenaikan harga jengkol dan petai di sejumlah tempat di negeri ini. \"Menyedihkan, untuk komoditas makanan, rakyat harus kehilangan kesempatan untuk mengonsumsi. Untuk itu, kenaikan ini harus diusut siapa yang bermain,\" ujarnya di Jakarta, pekan ini.

Seperti diketahui, harga jengkol di pasar-pasar tradisional di Jawa mulai merangkak naik. Di Magelang, Jawa Tengah, misalnya, harga jengkol per kg melonjak hingga Rp 60.000. Di daerah lain mencapai Rp 70.000-Rp 90.000. Padahal, harga normal jengkol sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 per kg.

Tak hanya jengkol, harga petai di Malang, Jawa Timur, juga ikut naik akibat kelangkaan. Harga petai kini bahkan sampai Rp 100.000 per kg atau melebihi harga daging ayam Rp 90.000. Akibat fenomena ini, beberapa penjual makanan pun mengeluh karena hal tersebut bisa mempengaruhi kelangsungan bisnisnya.

Menurut hemat kami, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian dan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan seharusnya segera turun tangan mendeteksi penyebab meroketnya harga jengkol dan petai di pasar lokal. Bila ternyata terjadi serangan hama luar biasa, pemerintah dapat segera turun tangan menggunakan anggaran pemberantasan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang sudah dianggarkan oleh Komisi IV dalam APBN 2013.

Namun, bila penyebabnya bukan serangan hama. Jelas, kenaikan harga jengkol dan petai merupakan permainan mafia yang sengaja membuat kerepotan sebagian besar masyarakat penggemar makanan jengkol dan petai. Ataukah para mafia berdalih, bahwa mekanisme pasar tradisional Indonesia sekarang sudah mengandung virus globalisasi?

Bagaimanapun, secara umum globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah tatanan sistem global yang saling berjaringan dan berhubungan berkat dukungan teknologi informasi, perdagangan, budaya, politik dan ekonomi. Sehingga muncul dugaan makna globalisasi sebagai sebuah konsep yang mengacu kepada tindakan yang mendunia dan secara intens, mampu mempengaruhi kondisi masyarakat hingga ke pasar tradisional di dalam negeri?

Kita khawatir pandangan globalisasi seperti ini kemudian merasuk di kalangan birokrat pemerintahan untuk mengikuti ritme dari perjanjian internasional itu dengan mengakomodir kepentingan investor luar negeri yang menjanjikan dan menguntungkan. Padahal, kondisi masyarakat Indonesia terutama yang berada di tataran pasar tradisional belum sepenuhnya memahami makna globalisasi, sehingga hanya kelompok mafia yang akhirnya memetik keuntungan besar dari kenaikan harga jengkol dan petai belakangan ini.

Sebagai sebuah sistem yang berlaku dan berjalan tanpa batas teritorial negara yang implementasinya dapat berupa ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya, globalisasi telah menjadi fenomena abad ini dengan berbagai makna interpretasi. Tetapi, apakah kenaikan harga jengkol dan petai yang melesat luar biasa itu pengaruh dari globalisasi pasar? Kita tunggu jawaban dari pemerintah.

Related posts