Sekolah Alam BIS, Solusi Mahalnya Biaya Sekolah

Benar-benar unik, ketika biaya pendidikan cukup mahal, sekolah alam BIS memberikan alternatif jalan keluar yang luar biasa. Jika konsep ini muncul di tiap kota, persoalan mahalnya biaya pendidikan tidak akan terjadi lagi. Tiap warga bisa mengenyam pendidikan gratis seperti yang diharapkan pemerintah

NERACA

Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas serta berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Namun dalam perjalanan panjangnya, dunia pendidikan di Indonesia diwarnai dengan dinamika yang begitu kompleks.

Salah satunya adalah biaya yang terkesan mahal sehingga membuat beberapa kalangan kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan. Tak ayal, argumen “Benarkah anak-anak dari keluarga pra sejahtera tak boleh sekolah?” pun menghantui kalangan dengan finansial terbatas.

Kepada Neraca, Pendiri sekolah alam Banyuwangi Islamic School (BIS), Muhammad Farid menuturkan bahwa selama ini pendidikan di Indonesia mahal dari segi finansial. Hal itu membuat segelintir anak sulit untuk mendapatkan akses pendidikan. Parahnya lagi, tingginya biaya pendidikan tidak diikuti dengan mutu pendidikan yang baik, dimana kesan kaku dan monoton mengakibatkan siswa malas belajar. Untuk itu, sekolah dengan konsep alam yang memprioritaskan anak-anak tidak mampu didirikan.

“Sayangnya selama ini pendidikan mahal dari sistem finansial yang mengakibatkan tidak semua anak dapat mengenyam bangku sekolah. Lain halnya dengan sekolah alam BIS. Tidak hanya cerdas dari kalangan mampu saja, tetapi anak cerdas dari kalangan tidak mampu pun dapat mengenyam bangku pendidikan,” kata Farid.

Sekolah alam BIS berada di Puncak Fila Alam Asri, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur. Dulu area atau lokasi tempat sekolah meminjam tanah di dekat sungai. Sekarang telah berdiri diatas tanah wakaf 2500 m2. Dengan konsep belajar Boarding School (asrama), nuansa perpaduan antara pondok pesantren dan sekolah formal sangat kental terasa di sekolah ini.

Ruang sekolah di desain layaknya gubuk sawah, tanpa sekat dan kursi. Saat belajar para murid lesehan di lantai bambu. Suasana santai penuh semangat kebersamaan, itulah yang tercipta. Kegiatan belajar mengajar sekolah ini sama seperti sekolah-sekolah umum dengan kurikulum nasional. Hanya saja BIS memiliki kurikulum tambahan, seperti belajar bahasa Arab, Ingris, dan Mandarin.

\"Bahasa Arab dan Inggris menjadi bahasa sehari-hari di tempat kami. Sedangkan Mandarin akan menyusul,\" jelas dia.

Sedangkan untuk evaluasi pendidikan, sekolah ini tetap mengikuti standar Departemen Pendidikan. Namun, sekolah memberi ujian tambahan berupa tugas membuat buku rangkuman mata pelajaran pada setiap akhir semester. Sekolah juga tidak membebani siswanya dengan target memperoleh nilai tinggi dalam ujian nasional.

Uniknya, bila di sekolah umum lainnya proes belajar mengajar dimulai tiap tahun ajaran baru, sekolah yang terbuka bagi siapapun itu, justru membuka pendaftaran siswa baru kapan saja tanpa menentukan batas waktu. Jumlah siswa saat ini 108 siswa. Siswa yang belajar pun tidak hanya berasal dari banyuwangi saja. Tetapi juga dari luar Jawa seperti Papua, Lampung, Bali, dan Kalimantan.

\"Untuk tahun ini daftar inden dari Sumbawa banyak, sekitar 60 siswa,\" ungkap alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi\'iyah, Situbondo ini.

Tak hanya itu, pengelola sekolah berkonsep lingkungan ini tak menetapkan biaya seperti SPP atau uang gedung untuk para siswanya. Bagi orang tua dari kalangan pra diberikan keringanan. Iuran sesuai dengan kemampuan. Sedangkan bagi yang mampu, iuran sekolah dilakukan dengan subsidi silang.

\"Kalau mereka mampunya membayar dengan sayur, ya bayar dengan sayur. Atau kalau tidak mampu, dengan doa pun akan kami terima,\" imbuh dia.

Saat pertama didirikan, tak sedikit yang mencibir karena sekolah alam BIS lantaran tidak mempunyai kelas dan bangku. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perjuangan yang gigih, pada akhirnya sekolah ini diakui dan menerima bantuan dana operasional sekolah (BOS) dari pemerintah. Berbagai prestasi dan penghargaan pun diraih. Sedangkan para siswa sendiri sering diundang dan dikontrak untuk mengisi training ke sekolah-sekolah lain. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang pernah atau sekolah di sekolah alam BIS.

“Dulu awalnya aneh dan malu belajar di sekolah alam, bayar dengan sayur. Tapi setelah dikenal dan diakui kami bangga juga. Dengan disiplin ketat, dimana para guru mengevaluasi kami 24 jam, ternyata hasil didikan itu dapat dirasakan hingga kini. Rasanya tak ingin pisah dari Sekolah alam. Untuk itu, disamping rutinitas kuliah, saya juga kembali mengabdikan diri mengajar membagikan ilmu di sekolah ini,” ujar Mahasiswi IKIP Budi Utomo Malang (Alumni sekolah alam BIS), Diana Luckyta Sari kepada Neraca.

Minat masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah alam mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tak pelak, daya tampung asrama pun tidak mencukupi. Untuk itu, Farid berharap agar pemerintah dan para pelaku bisnis dapat turut berkontribusi dengan memberikan bantuan fasilitas demi meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah alam BIS.

“Belum lama ini kami mendapat tawaran tanah 2 Ha dengan harga Rp350 juta. Namun kami belum bisa membelinya lantaran terbentur dengan dana. Jika ada pihak swasta mau membantu, alhamdulillah. Dengan fasilitas apa adanya saja anak-anak dapat dicetak, yang pada akhirnya dikontrak untuk memberikan pelatihan disekolah lain. Apa lagi jika proses belajar mengajar ditopang dengan fasilitas yang mumpuni,” kata dia.

Related posts