Defisit Neraca Perdagangan Capai US$3 Miliar - Tanpa Kenaikan Harga BBM

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan memperkirakan jika pemerintah tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tahun ini, maka diperkirakan defisit neraca perdagangan akan mencapai US$2-3 miliar. \"Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM, maka neraca perdagangan di 2013 akan kembali defisit. Saya perkirakan defisit di akhir tahun bisa mencapai US$2-3 miliar,\" ungkap Gita saat ditemui dikantornya, Selasa (4/6).

Ia menjelaskan bahwa beberapa tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia selalu dihantui dafisit. Hal itu dikarenakan importasi migas yang begitu banyak namun tidak dimbangi dengan ekspor produk Indonesia. \"Tahun lalu (2012), neraca perdagangan kita defisit US$1,5 miliar. Tahun ini bisa US$2-3 miliar kalau pemerintah belum juga menaikkan harga bbm. Akan tetapi kalau dinaikkan maka justru akan mengecil,\" ucapnya.

Hingga saat ini, pemerintah masih berdiskusi dengan DPR terkait dengan kenaikan harga BBM beserta bantuan yang akan diterima oleh masyarakat dalam bentuk uang tunai yang dinamakan Bantuan Langsung Sementara Masyrakat (BLSM). Menurut Gita, manajemen perlu dilakukan dalam rangka menyelamatkan neraca perdagangan dari jurang defisit. Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah segera memberikan jawaban atas kenaikan BBM. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan RI pada April 2013 masih mengalami defisit US$1,62 miliar. Hal ini disebabkan impor Indonesia lebih besar dibanding ekspornya.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, total ekspor Indonesia pada April 2013 sebesar US$14,7 miliar. Sementara total impornya sebesar 16,31 miliar dollar AS. \"Sehingga pada April ini mengalami defisit US$1,62 miliar,\" kata Suryamin. Dia menambahkan, neraca perdagangan untuk periode Januari hingga April 2013 juga masih mengalami defisit US$1,85 miliar. Untuk ekspor mencapai US$60,11 miliar dan impornya mencapai US$61,96 miliar. Menurut Suryamin, penyebab neraca perdagangan mengalami defisit karena impor migas yang belum kunjung turun.

Pada periode April 2013, migas masih mengalami defisit US$1,209 miliar dan untuk periode Januari hingga April 2013 juga mengalami defisit US$4,57 miliar. Minyak mentah mengalami defisit pada April 2013 mencapai US$687,1 juta dan periode Januari-April juga defisit US$1,62 miliar. Untuk hasil minyak juga defisit sebesar US$1,68 miliar pada April 2013 dan untuk periode Januari-April juga defisit US$7,87 miliar. \"Namun untuk gas mengalami surplus US$1,162 miliar (April 2013). Begitu juga untuk periode Januari-April surplus sebesar US$4,92 miliar,\" tambahnya.

Sementara neraca perdagangan non migas untuk periode April 2013 masih defisit US$407,4 juta. Tapi untuk periode Januari-April 2013 masih mencatatkan surplus sebesar US$2,71 miliar. \"Memang impor migas kita lebih besar dibanding ekspor non migas, jadi mengalami defisit. Ini buat bahan pemikiran bagi pemerintah ke depan,\" jelasnya.

Bahayakan Perekonomian

Direktur Eksekutif Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengungkapkan apabila pemerintah tidak segera memperbaiki defisit neraca perdagangan tersebut bisa membahayakan perekonomian Indonesia. \\\"Ini menunjukan beberapa aspek ekonomi Indonesia menunjukkan masalah,\\\" ujarnya.

Guru Besar Univ. Brawijaya ini memaparkan, hal paling krusial yang mendorong membesarnya defisit neraca perdagangan adalah impor bahan bakar minyak (BBM). “Sebenarnya, pemerintah sudah mengetahui tindakan yang seharusnya dilakukan untuk mencegah defisit terulang kembali. Yakni, tinggal melakukan penghematan BBM, karena hanya itu salah satu cara untuk mencegah terjadinya defisit neraca perdagangan dalam jangka waktu pendek, jika pemerintah tidak mau menaikan harga BBM,” lanjutnya.

Celakanya, menyangkut defisit neraca perdagangan, menurut dia, pemerintah selalu menyalahkan krisis global. Padahal, krisis global hanyalah faktor pemicu. Namun pemerintah menganggapnya sebagai penyebab utama merupakan sebuah kesalahan. “Di luar itu, faktor lain yang perlu dicermati adalah ketergesaan Indonesia untuk meliberalisasi perekonomian secara masif sehingga mematikan insentif produksi domestik, termasuk di sektor pertanian. Impor komoditas bak air bah tanpa bisa dibendung, sehingga makin menyulitkan upaya mencetak surplus perdagangan,” tegas Erani.

Karena itu, Erani mendesak pemerintah untuk menerapkan beberapa strategi yang jelas untuk mengatasi masalah tersebut. “Pertama dengan mengintensifkan promosi dan diplomasi perdagangan internasional. Strategi diplomasi ini ditempuh melalui pendekatan komoditas dan negara tujuan dari beberapa tahun lalu. Kedua, adalah memperbanyak ekspor produk-produk bernilai tambah untuk mengantisipasi penurunan harga komoditas di pasar internasional. Ketiga, pemerintah fokus untuk ekspor ke pasar-pasar non-konvensional yang masih tumbuh tinggi,” usulnya. [bari]

Related posts