Penerapan Teknologi Dongkrak Pendapatan Petambak - Sektor Perikanan Budidaya

NERACA

Bandung – Penerapan teknologi budidaya tambak dapat mendongkrak pendapatan para petambaknya. Salah satunya penerapan bibit unggul yang dapat tingkatkan hingga 15 ton perhektar. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto di Bandung, Senin malam (3/6).

Menurut Slamet, teknologi yang diterapkan dalam produksi perikanan budidaya dapat meningkatkan nilai tambah seperti dengan induk unggul yang dapat menaikan pendapatan hingga 90%. “Dulunya 1 ha hanya mencapai 100 kg tiap panen, namun dengan teknologi yang telah diterapkan bisa mencapai 15 ton per hektar,” ujar dia.

Dia juga menyatakan bahwa demfarm (demonstration farm-tambak percontohan) yang sebelumnya tidak ada sekarang sudah ada menjadi salah satu kemajuan dalam budidaya perikanan. Dalam 1 ha lahan demfarm sekali panen 1000 ton. Dengan kata lain demfarm dapat menyumbang 14 ribu ton hasil budidaya perikanan. Selain demfarm yang sudah ada, ada penambahan demfarm lagi di Jawa Barat yaitu di Subang dan Indramayu. “Investor juga sudah menjajaki dari China untuk nilai investasinya masih dihitung oleh mereka. Saat ini kami masih akan mengembangkan lagi komoditas lainnya seperti komoditas nila,” ungkap Slamet.

Selain komoditas Nila, komoditas lain yang juga tengah dijajaki KKP adalah komoditas rumput laut. Komoditas ini dinilai dapat menaikan pendapatan ekspor karerna ternyata komoditas ini banyak peminatnya. Seperti jenis Sargasum (rumput laut) yang digunakan untuk tekstil. Diakui Slamet bahwa jenis ini banyak diminta oleh pengusaha asal China.

“Satu pengusaha meminta untuk dikirimkan 20 ribu ton pertahun untuk Sargasum ini. Selain itu ada juga jenis Glaciraria yang akan dikembangkan di laut dan juga jenis Lawi-lawi yang dikonsumsi langsung oleh orang Jepang. Ini beberapa jenis rumput laut yang akan kita kembangkan,” jelas dia.

Kendala yang tengah dihadapi adalah pihaknya, menurut Slamet, adalah ketidaktahuan akan permintaan pasar untuk komoditas-komoditas tersebut. Sehingga belum mengeksplor banyak komoditas lainnya. Untuk dana, KKP tidak menyiapkan khusus, hal ini dikarenakan yang dilakukan DJPB (Direktoran Jenderal Perikanan Budidaya) adalah bantuan untuk bibit awal saja. Karena nantinya yang diharapkan adalah kemandirian para petani tambak.

Sementara itu, untuk komposisi antara ekspor dan pasar domestik, dinyatakan bahwa yang paling utama adalah ketahanan pangan atau domestik dulu. “Yang utama tentunya untuk ketahanan pangan, komoditas air tawar 90% untuk ketahanan pangan, perikanan payau 50% ekspor dan setengah lagi lokal. Sementara dari laut 90% ekspor seperti kerapu dan kakap. Target ekspor sendiri memang ada tapi diranah P2HP. Produksi 13 juta ton semua komoditas tahun ini,” ujar dia.

Mengenai penghematan anggaran kementerian yang akan dilaksanakan, dipastikan pihak KKP tidak akan mempengaruhi program revitalisasi tambak yang sudah direncanakan. Slamet memastikan bahwa pemotongan anggaran DJPB KKP, yang rencananya sebesar Rp 114 miliar tidak akan pengaruhi program yang telah direncanakan.

Dana Revitalisasi

Saat ini, total anggaran revitalisasi tambak dari pemerintah pusat sebesar Rp 225 miliar dan setelah didukung dana APBN Perubahan menjadi Rp 398,92 miliar. Jika ada pemotongan Rp 114 miliar, nantinya akan menjadi Rp 284,92 miliar. Namun, menurut dia sebaiknya anggaran KKP jangan dipotong karena dalam pelaksanaannya langsung bersinggungan dengan masyarakat seperti percontohan-percontohan tambak.

“Kegiatannya langsung menyentuh masyarakat, kalau bisa jangan dipotong, karena kita ingin meningkatkan produktivitas yang nantinya akan ada peningkatan taraf hidup masyarakat. Kalaupun sampai dipotong, yang akan dikurangi nantinya adalah anggaran-anggaran yang tidak bersinggungan dengan sosialisasi ke masyarakat antara lain perjalanan lokal, perjalanan ke luar negeri, rapat-rapat di luar kantor, forum-forum,” cetus Slamet.

Namun dia tidak menampik kemungkinan pengurangan sebagian kecil dana untuk kegiatan penguatan kelembagaan, dan kelompok. Namun pengurangan ini tidak akan mengurangi revitalisasi tambak sesuai rencana.

Seperti diketahui pemerintah tengah menggenjot produksi perikanan budidaya. Salah satu upayanya adalah dengan program revitalisasi tambak. Revitalisasi dilakukan di beberapa daerah di Indonesia antara lain Kabupaten Serang dan Tangerang di Provinsi Banten serta Kabupaten Subang, Indramayu, Karawang, dan Cirebon di Jawa Barat.

“Serapan yang masih rendah, sekitar 8,5% dari pagu Rp 1,3 triliun, ada beberapa kendala. Salah satunya rencana pemotongan anggaran mengakibatkan perubahan rencana program yang sedang berjalan, tender lelang yang belum cair, serta PUM (pemberdayaan usaha mina) yang masih dalam tahap verifikasi. Tapi sekarang ini sudah ada perkembangan, serapannya di atas 9. Kita prediksikan PUM Juli nanti sudah mulai berjalan, sehingga serapannya lebih optimal,” tandasnya.

Related posts