Pertumbuhan Pasar Kesehatan Melambat

Perusahaan-perusahaan di industri kesehatan yang tengah memperluas pasarnya ke pasar-pasar negara berkembang seperti Brazil, Rusia, India, dan Cina (BRIC) menyadari kalau tidak adanya jalan pintas untuk menembus pasar kesehatan.

NERACA

Mengacu pada situasi industri kesehatan saat ini, terutama di Amerika Serikat, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar BRIC merupakan sebuah tantangan tersendiri. Perusahaan-perusahaan di bidang kesehatan harus segera mengubah wacana pembahasan mengenai BRIC.

“Ketika negara-negara ekonomi maju di penjuru dunia sedang bergulat dengan masalah penghematan biaya, defisit anggaran dan pertumbuhan yang lemah, BRIC justru berkembang pesat dan memimpin ekonomi global,” ungkap Reenita Das, Partner, Frost & Sullivan.

Walaupun pasar-pasar berkembang seringkali dianggap sebagai jalan pintas menuju kemajuan oleh perusahaan-perusahaan industri kesehatan, peraturan-peraturan yang terlalu ketat dan kompetisi yang sengit dari berbagai pihak di negara tersebut justru akan mengurangi daya tarik beberapa negara seperti India dan Cina, dimana sebelumnya kedua negara itu disebut-sebut sebagai pasar yang menjanjikan.

Belakangan ini ditemukan bahwa ada beberapa kebutuhan yang seringkali diabaikan serta investasi di sektor kesehatan yang belum memadai di kawasan ini. “Sebagai contoh, tingkat pendidikan dan pelatihan yang dimiliki oleh para dokter negara-negara BRIC, terutama mereka yang berada di kota-kota yang jauh dari tier 1, lebih rendah jika dibandingkan dengan dokter-dokter di pasar yang telah maju,” tuturnya.

Kelemahan lainnya adalah kurangnya kemitraan dengan pemerintah lokal, organisasi non-pemerintah dan organisasi perdagangan lainnya padahal adanya kemitraan merupakan aspek yang sangat penting dan menunjukkan tingkat keseriusan perusahaan tersebut kepada pemerintah setempat.

Secara umum, pasar kesehatan tengah menghadapi perlambatan pertumbuhan. Selain itu, sikap pemerintah kawasan BRIC yang berubah-ubah justru menambah panjang masalah dan menciptakan kebingungan. Di India, pemangkasan biaya dilakukan agar obat-obatan atau peralatan kesehatan seperti tabung dapat lebih mudah diakses oleh pasien.

Cina berencana untuk meluncurkan jalur cepat untuk memproses perijinan obat-obat baru yang dapat mengeliminasi perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan uji klinis di Cina. Sementara itu, Rusia menginginkan adanya pembatasan pembelian obat-obatan asing oleh negara, dan Brazil kini telah memberlakukan tarif impor yang lebih tinggi untuk mendorong industri dalam negeri. Kebijakan-kebijakan tersebut menandakan adanya campur tangan dan proteksi yang ketat oleh negara bersangkutan, dan Frost & Sullivan memperkirakan akan lebih banyak kebijakan-kebijakan seperti ini kedepannya.

“Sukses atau tidaknya sebuah perusahaan di kawasan ini tidak lagi bertumpu pada murahnya biaya di pasar berkembang, tetapi bergantung pada kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan pertumbuhan pasar-pasar ini kedepannya,” ujar Das.

Ada peluang bagi industri ini untuk berinovasi dalam pasar berkembang, dengan memanfaatkan teknologi baru dan meluncurkan model komersial yang memiliki potensi untuk digunakan baik di negara berkembang maupun maju.

“Kita perlu memikirkan ulang strategi-strategi untuk memasuki pasar berkembang dan mulai mengubah wacana yang ada. Selain itu, kita juga harus mengubah sudut pandang, berhenti melihat pasar ini dari segi volume bisnis dalam hal besarnya jumlah dan demografis pasien dan mulai memikirkan bagaimana caranya kita dapat memberikan nilai yang dapat menciptakan akses yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien,” ungkapnya.

Related posts