Awas, Aksi Tipu-tipu Produsen Mobil - Memilih Kendaraan Irit Bahan Bakar

Isu kenaikan harga BBM bukan penyebab para produsen mobil megeluarkan mobil irit, namun kondisi jalan di ibu kota yang selalu macet membuat masyarakat memilih kendaraan irit bahan bakar, namun yang sangat di sayangkan ada produsen mobil yang bohong mengenai keiritan bahan bakar.

NERACA

Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin langka dan harganya terus melambung, memaksa para pengguna kendaraan harus pintar merespon kondisi pasar. Namun, kecurangan untuk mengakali angka efisiensi bahan bakar ternyata masih terjadi. Data pun dibuat agar kendaraan seolah-olah irit.

Kecurangan menulis tingkat efisiensi bahan bakar menjadi sorotan di Amerika serikat. Dan itu ternyata bukan hanya melibatkan merek-merek Amerika saja. Merek Eropa pun ternyata ikut \\\'mengakali\\\' angka efisiensi bahan bakar ini.

Dalam riset terbaru yang dilakukan oleh lembaga non-profit International Council on Clean Transportation (ICCT) ditemukan fakta kalau merek Eropa mengakali tingkat efisiensi bahan bakar mereka agar seolah irit. Namun kenyataannya lebih boros 25%.

\"Ini berarti bahwa konsumsi bahan bakar yang sebenarnya dialami oleh pengendara rata-rata biasanya 25% lebih tinggi dari apa yang tercetak,\" kata managing director ICCT Eropa Peter Mock.

Dengan kesenjangan data tersebut maka pengendara bisa menghabiskan biaya ekstra sekitar US$ 400 untuk membeli bahan bakar dalam satu tahun.ICCT mengatakan perbedaan telah meningkat hingga 15% dalam 10 tahun terakhir, dan merek-merek premium Jerman yang paling banyak melakukan perbedaan terbesar. Data yang dihimpun berbasis pada informasi konsumsi bahan bakar dari sekitar 500.000 mobil pribadi dan perusahaan.

BMW menunjukkan perbedaan sebesar 30% antara emisi sesungguhnya dengan yang ia klaim dalam brosur. Audi menempati posisi kedua dengan angka perbedaan sekitar 28%, sementara Mercedes-Benz 26%. Perbedaan terkecil dimiliki oleh PSA Peugeot Citroen yang hanya berselisih 16% dan Toyota dengan 15%.

Penelitian ini juga mengindikasikan dengan adanya perbedaan tersebut para pengemudi kendaraan terbebani biaya sekitar US$386 atau sekitar Rp3,75 juta setahun untuk bahan bakar yang seharusnya tidak perlu.

“Banyak produsen mobil saat ini memang mempunyai stategi sendiri, melihat harga BBM kian tiggi para produsen mobil mengeluarkan mobil irit bahan bakar, ini ditambah kondisi jalan di ibu kota yang selalu macet,” ungkap Joko Sumaryanto Pengamat Otomotif.

Namun melihat data ini sanggat merugikan masyarakat, seharusnya para produsen mobil mengetes keiritan bahan bakar sebelum di perkenalkan di pasaran, dengan seolah-olah irit bahan bakar, ini sama saja mencoreng industry otomotif.

Apa lagi kabar bahan bakar bersubsidi bakal dihapus atau dinaikkan untuk kendaraan pribadi semakin terdengar. Beberapa pemilik kendaraan sudah bersiap mengganti kendaraannya yang terkenal boros dengan pilihan mobkas yang memiliki image irit.

Diperkirakan kendaraan dengan kapasitas di bawah 1.800 cc akan menjadi favorit di pasar mobkas karena memiliki image irit,” jelas Pakde Bei Budiono. Lanjut kolektor mobil yang juga sebagai pengamat kendaraan bekas tersebut, selain image irit, faktor pemilihan transmisi juga menjadi pertimbangan.

“Mobil dengan pilihan transmisi otomatis bisa menyerap pasar lebih banyak lagi terutama yang tinggal di kawasan Jabodetabek,” jelasnya.

Melihat kasus ini seharusnya masyarakat harus pintar-pintar memilih kendaraan yang benar-benar irit, jangan mudah tertipu dengan tawaran para produsen mobil yang menglaim kedaraan mereka irit bahan bakar.

Related posts