Rangsang Mahasiswa Ketahui Teknologi Roket - Ajang Komurindo 2013

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia (KemDikBudNasRI) mengadakan Kompetisi Muatan Roket Indonesia (Komurindo). Kompetisi yang berjalan tiap tahunnya sejak 2009 ini diselenggarakan sebagai sarana untuk mengajak, mendidik dan menarik minat mahasiswa dalam rangka menyiapkan bibit unggul peneliti dan ahli peroketan di Indonesia pada masa depan.

Komurindo 2013 adalah penyelenggaraan kelima dan Institut Teknologi Telkom sebagai tuan rumah penyelenggaraannya. Sebanyak 55 tim dari 28 perguruan tinggi di Indonesia mengikuti Komurindo 2013 di lapangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Ketua Panitia Pelaksana Komurindo 2013, Uke Kurniawan Usman, mengatakan tim yang ikut kompetisi itu merupakan peserta pada putaran final yang berlangsung mulai 31 Mei hingga 2 Juni 2013 lalu. Pada kompetisi kali ini, temanya berkembang bukan hanya pada payload saja melainkan beserta roketnya. Kompetisi kategori muatan roket (Payload) mengangkat tema High Rate Attitude Data Monitoring and Surveillance Payload. Sedangkan kompetisi kategori roket EDF mengusung tema Autonomous Low Speed EDF Rocket.

\"Pada kompetisi Komurindo 2013 terdapat dua kategori yang diperlombakan, yaitu muatan payload dan kategori roket EDF,\" kata Uke Kurniawan.

Pada kategori muatan roket (Payload) peserta ditantang membuat payload, yakni muatan roket berbentuk tabung silinder. Tabung tersebut berisi rangkaian elektronik yang berfungsi sebagai perangkat telemetri untuk monitoring sikap (attitude) roket mulai dari peluncuran hingga separasi. Pun, sekaligus memiliki sistem kamera untuk melakukan pengamatan dengan kemampuan mengambil gambar bumi dari udara.

Sedangkan di kategori Roket Electric Ducted Fan (EDF), tim peserta ditantang harus membuat roket. Wahana terbang itu berbentuk mirip peluru berukuran panjang tidak lebih dari 1 m dan berat total maksimum 1,5 kg dengan penggerak (motor roket) dari electric ducted fan (EDF) atau fan (kipas angin) yang terbungkus dan tersalurkan dengan pemutar motor listrik. Selain dilengkapi dengan parasut agar mendarat kembali ke bumi ketika telah meluncur pada ketinggian tertentu dan motor dimatikan, roket juga harus memiliki kemampuan terbang secara autonomous atau terkendali.

Pada kompetisi kali ini, juara pertama disabet oleh Tim Graksa Ganesha Institut Teknologi Bandung (ITB). Sementara itu peringkat kedua ditempati Tim Gathotkaca dari Universitas Gadjah Mada. Peringkat ketiga oleh MDP Blue STIMIK Global Informatika MDP Palembang. Harapan I oleh Pasupati dari Unversitas Negeri Yogyakarta.sedangkan untuk pemenang Ide Terbaik diperoleh StarPENSky-X2 Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan untuk Desain Terbaik diperoleh Eagle Three Politeknik Negeri Bandung.

Sementara itu, Rektor Insitute Teknologi Telkom, AT. Hanuranto menuturkan bahwa melalui pemahaman perilaku roket peluncur akan membuat mahasiswa mampu memahami teknologi peroketan dan melahirkan satelit Indonesia yang diciptakan oleh bangsa Indonesia.

\"Melalui kompetisi ini, diharapkan dapat menumbuh-kembangkan kemampuan mahasiswa dalam hal rancang bangun teknologi peroketan, baik dari sisi roket maupun muatannya mulai dari tahapan desain, membuat, menguji hingga uji terbang. Muatan hasil rancang bangun mahasiswa ini dapat menjadi cikal bakal lahirnya satelit Indonesia hasil karya bangsa sendiri secara mandiri,\" tutup dia.

Related posts