Masyarakat Penjaringan Minim Bantuan Sosial Perusahaan

Keterlibatan dunia bisnis dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial melalui CSR begitu ditunggu masyarakat, sehingga aksi sosial perusahaan tersebut tak hanya menjadi penting, tetapi juga esensial.

NERACA

Sebagai salah satu program rutinitas Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perusahaan untuk mewujudkan kepedulian terhadap perkembangan pendidikan dan kecerdasan masyarakat di Indonesia, Tokio Marine Group meluncurkan program perpustakaan keliling dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua untuk menjangkau masyarakat yang kurangmampu, khususnya anak-anak yang bertempat tinggal di daerah Penjaringan, Jakarta Utara.

Chairman Director Tokio Marine Indonesia (TMI), Josef Gunawan Setyo, mengatakan bahwa Kecamatan Penjaringan dipilih sebagai lokasi penerima bantuan dengan pertimbangan bahwa wilayah ini merupakan salah satu pemukiman padat penduduk yang dihuni hampir 5 ribu jiwa per kilometer persegi.

“Melalui perpustakaan keliling ini, kami berupaya untuk meningkatkan pengetahuan dan literasi bagi anak-anak yang kurang mampu. Selain itu, program ini menyediakan berbagai aktifitas lainnya seperti belajar sambil bermain, membaca buku cerita, kegiatan menggambar dan mewarnai,” ujar dia.

Kegiatan ini juga melibatkan partisipasi aktif para karyawan TMI dan Tokio Marine Life Insurance (TMLI) dengan menyumbangkan buku-buku anak ke kotak donasi buku yang tersedia di area kantor. Untuk menjaga kualitas perpustakaan keliling selama 1 tahun mendatang, Tokio Marine Group dan Yayasan World Vision Indonesia (WVI) telah memiliki agenda kegiatan rutin yang mencakup jadwal operasional, kegiatan bersama sukarelawan dari karyawan TMI dan TMLI dan kegiatan menarik lainnya.

\\\"Kami mengapresisasikan kepedulian Tokio Marine Group dalam meningkatkan kesejahteraan anak di Indonesia. Perpustakaan keliling ini dapat menjadi jawaban yang tepat untuk kebutuhan edukasi dan hiburan anak-anak di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, karena lebih fleksibel mengakses gang-gang sempit dan macet,” kata National Director WVI, Tjahjono Soerjodibroto.

Selain Tokio Marine melalui program motor perpustakaan, kemitraan dengan korporasi yang sudah dilakukan bersama WVI di wilayah Penjaringan ini baru Toys kingdom. Toys Kingdom membantu fasilitas kelompok tari berupa sound system, tape dan DVD lagu-lagu pengiring tarian daerah.

Lantas cukupkah permasalahan sosial yang ada ditengah-tengah masyarakat Penjaringan diselesai hanya dengan bantuanCorporate Social Responsibility(CSR) seperti itu?

Seperti diketahui, masalah sosial sudah seperti lingkaran setan. Salah satu masalah sosial yang tidak mudah untuk diatasi adalah kemiskinan. Pasalnya, kemiskinan terjadi karena akumulasi berbagai persoalan dan melibatkan banyak aspek. Bukan hanya semata-mata aspek ekonomi dan sumber daya manusia, kemiskinan juga berkaitan dengan aspek sosial, politik, budaya, dan berbagai aspek lainnya.

Lingkaran setan tersebut menyebabkan upaya pemberantasan kemiskinan seolah-olah terkesan merupakan hal yang sangat sulit. Bagaimana tidak? Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak ditemui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota,seperti di Penjaringan ini misalnya.

Kepada Neraca, Program Manager ADP Penjaringan, Teresa Prananingrum menuturkan bahwa dari hasilassesmenmuncul beberapa isu kondisi masyarakat Penjaringan. Beberapa diantaranya adalahLow family income. Sering terjadinya kasus diare pada anak balita. Lingkungan yang tidak sehat, tumpukan sampah dimana-mana, sulitnya akses air bersih memicu terjadinya diare.

“Rendahnya pendapatan keluarga di penjaringan, termasuk keluarga yang memiliki balita, hal ini juga memicudrop outsekolah dari anak usia sekolah, balita kurang gizi danmalnourished children. Untuk air bersih sendiri masyarakat harus mengeluarkan dana minimal Rp 5.000 per hari, yang pada akhirnya memicu masyarakat mengunakan kualitas air yang rendah,” papar Teresa.

Tak berhenti disitu, sambung Teresa, hal ini diperparah dengan kurangnya pengetahuan para remaja tentang kespro dan HIV dan AIDS, serta tidak tersedianya kegiatan positif bagi mereka. Sehingga mendorong mereka lebih banyak nongkrong dan melakukan hal – hal negatif, yang pada akhirnya memicu perilaku-perilaku beresiko tertularHIV & AIDS.

Ya, bagaimanapun juga, untuk menyelesaikan masalah sosial yang ada tidak semudah membalikkan telapak tangan. Konsep institusi bisnis sosial serta pelaksanaan yang sangat matang mutlak diperlukan dalam mengaplikasikan program CSR agar memberikan dampak yang signifikan. Selain itu, untuk menghasilkan dampak yang signifikan, kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak mutlak diperlukan.

Maka dari itu, Tjahjono berharap agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan WVI bersama Tokio Marine serta Toys Kingdom berkelanjutan dan bisa diikuti oleh perusahaan-perusahaan lainnya. “Masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan dari perusahaan-perusahaan sekitar dalam program CSR mereka,” imbuh dia.

Related posts