Falsafah Sapu Lidi

Falsafah Sapu Lidi

Oleh Bani Saksono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Pohon kelapa atau nyiur banyak tumbuh bertebaran di bumi Indonesia. Baik di bukit-bukit dan lembah-lembah, maupun di sepanjang pantai. Jumlahnya mungkin miliaran batang. Dari ujung akar, batang, bunga, buah, hingga pucuk daunnya memberi manfaat bagi manusia.

Buah kelapa memiliki kandungan gula dan minyak antara 30-50%. Untuk jenis varietas unggul seperti bojong bulat yang banyak ditanam di daerah Kulon Progo, tiap batangnya bisa menghasilkan 100 butir kelapa. Daging buahnya bisa mencapai ketebalan hingga 1,26 cm. Biasa dibuat nata de coco maupun kopra atau minyak goreng (refined bleached deodorized/RBD coconut oil).

Pabrik minyak kelapa PT Mangga Dua yang sudah beroperasi sejak 1949 dan berkapasitas produksi 100 ton per bulan membutuhkan 220 ton bahan baku kopra. Saat ini, harga minyak kepala mencapai Rp 13 ribu/kg. Semula sebagian produksi untuk pasar ke Eropa dan AS, namun ekspor itu berkurang karena harus memasok pasar lokal yang terus bertambah.

Batang kayunya yang kuat, banyak dipakai untuk bangunan yang kualitasnya tak kalah dari kayu jati dan kamper. Akibatnya, populasi pohon kelapa acap menurun karena banyak ditebangi untuk bahan bangunan, baik untuk tiang, maupun kaso. Bangunan jenis gazebo, lebih sering memakai batang kelapa utuh.

Bagaimana dengan daunnya? Daunnya yang masih muda atau disebut janur yang berwarna kuning sering dipakai untuk merangkai bunga jika ada pesta perkawinan. Atau banyak dipakai untuk membuat ketupat. Sedangkan daun yang sudah tua banyak dirajut untuk membuat rumbai-rumbai bahan atap rumah-rumah tradisional.

Urat daun kepala yang tua dan kuat juga dapat dipakai untuk membuat sapu, sapu lidi. Lidi yang dipotong pendek-pendek dan lancip juga bisa dipakai untuk mengikat bungkus dari daun pisang. Biasanya, daun pisang dipakai untuk membungkus makanan tradisional seperti nogosari, lemper, maupun pincuk sebagai pengganti piring. Pincuk masih banyak dipakai untuk tempat makan gudeg dan pecel.

Jika sendiri-sendiri, batang lidi mudah dipatahkan. Sebaliknya, jika disatukan dan diikat, jelas tak bisa dipatahkan karena telah berubah menjadi lentur. Sudah seharusnya, pemerintah menerapkan falsafah sapu lidi dalam membangun perekonomian nasional menyongsong era globalisasi. Salah satu era globalisasi di bidang ekonomi itu adalah akan dideklarasikannya Masyarakat Ekonomi Asean 2015.

Pemerintah diharapkan menjadi pemersatu para pemangku kepentingan (stake holder) perekonomian nasional, bersama pengusaha, politisi, tenaga kerja, juga masyarakat konsumen. Dengan demikian, potensi produk dan jasa yang dihasilkan para pengusaha nasional tidak akan bangkrut karena tak disukai konsumen lokal dan membanjirnya produk dan jasa dari negara lain. <>

Related posts