Malaysia, Penadah Barang Selundupan Asal Indonesia

Jakarta – Malaysia memang telah lama dikenal sebagai penadah barang-barang selundupan dari Indonesia. Yang paling anyar, sebagaimana diungkapkan Menteri Pertanian Suswono adalah maraknya penyelundupan sarang burung walet ke Negeri Jiran untuk kemudian diekspor ke China. Atas penyelundupan ini, Malaysia telah merugikan perdagangan luar negeri Indonesia.

NERACA

\"Selama ini, ekspor sarang burung walet asal Indonesia harus melalui Malaysia. Artinya produk kita, ada yang diselundupkan lalu masuk ke perdagangan Malaysia pada akhirnya Malaysia yang masuk ke China padahal itu dari Indonesia,\" ungkap Suswono ketika ditemui usai rapat dengan DPR, Jakarta, Senin (3/6).

Suswono menjelaskan bahwa potensi ekspor sarang burung walet ke China bisa mencapai Rp7 triliun. \"Kalau bisa langsung ke China, kenapa mesti harus ke Malaysia terlebih dahulu ke Malaysia. Kalau langsung, artinya kita akan mendapatkan keuntungan lebih,\" tambahnya.

Terkait hal ini, pengamat pertanian HS Dillon mengatakan bahwa penyelundupan produk Indonesia ke Malaysia adalah hal yang sudah lama dan biasa terjadi. “Puluhan tahun lalu, semua kayu di Kalimantan yang ditebang di daerah kita, jalurnya langsung ke arah perbatasan dengan Malaysia, seperti Sabah,” kata Dillon kepada Neraca, kemarin.

Dillon berbagi pengalamannya ketika masih di Departemen Pertanian. Betul bahwa pembalakan itu dilakukan oleh masyarakat, tapi masyarakat itu dicukongi oleh orang yang berkedudukan di luar. Penambangan liar juga melakukan modus yang sama dengan pembalakan kayu.

Mudah sekali mendeteksinya, kata Dillon. Lihat saja data yang ada. Bagaimana bisa ekspor Malaysia begitu besar, sementara hutan di Malaysia masih bagus-bagus. “Peyelundupan ini sudah menahun, kronis. Kebijakan-kebijakan yang kita susun di departemen teknis tidak efektif karena tidak berkenaan dengan pelaksaan di lapangan,” kata Dillon.

Efek buruk dari penyelundupan tersebut, lanjut Dillon, adalah mental masyarakat yang terdidik menjadi koruptor. Masalahnya, penyelundupan tetap saja kuat dan terus terjadi. “Ini karena semua yang terlibat dapat bagian,” ujar dia.

Lebih lanjut, Dillon menjelaskan bahwa penyelundupan semacam ini sudah terjadi sejak zaman Belanda. Operator perkebunan-perkebunan Belanda mencuri hasil kebun yang diolahnya sendiri. Mereka tidak peduli dengan pendapatan kebun yang berkurang karena bukan mereka yang memiliki kebun itu. Para pemegang saham berposisi di Eropa sehingga tidak tahu praktik curang yang terjadi.

“Operator yang di sini sering menipu, sebagian tidak dicatat dalam pembukuan. Sebagian itulah yang ditadah oleh agen-agen dari Singapura dan Malaya (sekarang Malaysia). Ini terjadi di perkebunan karet,” jelas Dillon.

Ulah Pengusaha Nakal

Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi sektor perdagangan dan perindustrian, Ferrari Romawi mengungkapkan produk Indonesia yaitu sarang burung walet yang diselundupkan ke Malaysia dan dipergunakan untuk ekspor ke China merupakan ulah dari pengusaha nakal dari Malaysia yang menggunakan kesempatan ini. Peristiwa ini menguntungkan Malaysia dikarenakan adanya celah untuk melakukan hal seperti itu.

“Pemerintah Indonesia harus menutup celah atas peristiwa ini dengan melakukan kerjasama dengan negara Malaysia dalam permasalahan penegakan hukumnya. Penegakan hukum harus dijalankan dengan kerjasama dengan pihak bea cukai, polisi, kemudian Kementerian terkait,” katanya.

Dijelaskan Ferrari, mungkin tidak hanya produk sarang burung walet saja yang diselundupkan dan diekspor oleh Malaysia. Dengan adanya kasus penyelundupan sarang burung walet ini, sambungnya, maka pemerintah harus memiliki data produk-produk ekspor yang bernasib sama dengan produk tersebut. “Hal ini akan merugikan pemerintah Indonesia sehingga dibutuhkan kerjasama khusus kepada negara Malaysia untuk mencegah kejadian seperti ini,” ujarnya.

Dengan adanya kejadian ini, lanjut Ferrari, maka bisa digambarkan bahwa pemerintah Malaysia tidak teliti dalam hal pencatatan data produk yang diselundupkan dan diekspor itu. Ketidaktelitian ini harus diperbaiki oleh pemerintah Malaysia sehingga tidak merugikan negara lain, khususnya Indonesia.

“Begitu pula Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan harus mendapatkan data-data yang tepat mengenai produk Indonesia apa saja yang mengalami nasibnya seperti produk burung walet itu. Dengan berpatokan dengan data inilah maka akan bisa menindak secara hukum, jika terjadi penyelewengan,” lanjut Ferrari.

Dia juga menuturkan apapun bentuk penyelundupan produk Indonesia kemudian jadi sasaran ekspor negara lain maka harus ditangani serius oleh pemerintah Indonesia sehingga tidak menimbulkan kerugian negara yang besar. Begitupula dengan pemerintah harus mempunyai data dan informasi yang akurat terkait produk Indoenesia yang diselundupkan sehingga bisa melakukan tindakan antisipatif terhadap pelanggaran ekspor barang selundupan.

“Memang dibutuhkan keseriusan dari pemerintah untuk menangani permasalahan ini dan kita harus mencegah negara lain menikmati produk Indonesia dengan mudah serta menguntungkan negara tersebut,” ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kadin Indonesia Chris Kanter mengungkap kalau di daerah perbatasan itu sudah tidak asing lagi dengan penyelundupan.Pasalnya banyak keuntungan yang didapat dari hasil penyelundupan tersebut. \"Di daerah perbatasan, penyelundupan bagaikan jamur di musim pengujan,Sangat ramai sekali.Oleh karena itu,aparat di minta lebih proaktif lagi untuk menjaga perbatasan,\" ujarnya.

Chris juga memaparkan kalau selama ini banyak barang dari Indonesia ke Malaysia seperti, kayu, gula, beras serta bahan berkomoditas tinggi lainnya. “Hal tersebut mereka lalukan untuk menghindari pajak,menghindari pelarangan barang-barang tertentu yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

Related posts