Intikeramik Naikkan Harga Jual Sebesar 5% - Antisipasi Kenaikan BBM

NERACA

Jakarta – Dampak kenaikan upah buruh, gas dan rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi memaksa produsen keramik Essenza, PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk (IKAI) untuk menaikkan harga jual di pasar.

Direktur PT Intikeramik Alamsari Industri Tbk (IKAI), Rudy Hartawan mengatakan, perseroan akan menaikkan harga jual sebesar 5%, “Dalam waktu dekat, kita berencana menaikkan harga jual sebesar 5% dari kenaikan biaya produksi sebesar 20%,”katanya di Jakarta, Senin (3/6).

Menurutnya, kenaikan harga ini sudah dipertimbangkan dengan kenaikan biaya produksi dan distribusi. Namun untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, rencana perseroan akan melakukan inovasi produk baru berupa ragam atau varian baru dan jenisnya.

Maka untuk melakukan inovasi produk tersebut, perseroan bakal mendatangkan mesin baru dari Itali dengan nilai investasi sekitar Rp 4 miliar. Disebutkan, sumber pembiayaan tersebut berasa dari dana belanja modal tahun ini yang dianggarkan sebesar Rp 10 miliar, “Tahun ini belanja modal masih dibiayai dari kas internal, “tuturnya.

Tahun ini, perseroan bakal membuka pasar ekspor di Timur Tengah untuk menambah pasar ekspor yang sudah di buka yaitu negara Korea, Italia,Jepang, Thailand, Rusia, Amerika dan Jerman. Selain itu, dirinya juga mengungkapkan, target laba tahun ini masih konservatif hanya sebesar Rp 20 miliar dengan alasan masih mengejar kerugian dari tahun lalu.

Sedangkan target penjualan, sebanyak 3 juta meter persegi atau tumbuh dibandingkan tahun lalu sebanyak 2 juta meter persegi. Sebagai informasi, hingga Maret 2013, perseroan membukukan laba bersih Rp 6,891 miliar dan penjualan Rp 49, 264 miliar atau tumbuh dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp 40, 222 miliar. Sedangkan margin kotor 9,2%.

Tahun lalu, penjualan produk ubin porselen dengan merek dagang Essenza tumbuh 1,6% menjadi Rp 179,9 miliar dibandingkan tahun 2011 sebesar Rp 177 miliar. Tipisnya pertumbuhan penjualan domestik perseroan pada 2012, disebabkan penjualan lokal pada bulan awal tahun 2012 tersendat sebagai dampak dari berbagai kendala produksi yang dihadapi perseroan.

Kemudian perlambatan pertumbuhan ekonomi global mengakibatkan penurunan permintaan konsumen keramik 2012. Hal ini terlihat dari penurunan tajam penjualan ekspor perseroan tahun lalu sebesar 37,17% menjadi Rp 21,3 miliar dari Rp 33, 9 miliar di tahun 2011. Selain itu, porsi penjualan ekspor perseroan pada tahun 2012 juga turun menjadi hanya 11% dari penjualan konsolidasinya dibandingkan tahun 2011. Dimana porsi penjualan ekspor masih mencapai 16% dari penjualan konsolidasinya. (bani)

Related posts