Deflasi Mei Capai 0,03% - Pertama Dalam Satu Dasawarsa

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,03% pada bulan Mei 2013. “Ini adalah deflasi pertama pada bulan Mei sejak sepuluh tahun terakhir,” kata Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin (3/6). Dengan adanya deflasi di bulan Mei ini, berarti pada tahun ini Indonesia mengalami dua kali deflasi, setelah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada tiga bulan pertama. Suryamin menyimpulkan bahwa dengan adanya deflasi ini berarti pengontrolan harga yang dilakukan Pemerintah dinilai berhasil. Dari 66 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai barometer perhitungan besaran inflasi, 43 kota diantaranya mengalami deflasi, sementara 23 kota sisanya mengalami inflasi. “Deflasi terbesar terjadi di Mataram, yaitu 1,03%, disusul Kupang 0,86%. Ini terutama karena harga cabe rawit, bawang merah, dan bawang putih yang turun,” jelas dia. Pekanbaru dan Tasikmalaya mengalami deflasi terendah, yaitu 0,01%.

Sementara inflasi tertinggi dialami Ambon sebesar 2,25% dan Pontianak 1,4%. Penyebabnya adalah angkutan udara dan pasokan ikan segar yang berkurang, kemungkinan karena iklim yang kurang bersahabat. Komponen terbesar penyebab deflasi adalah harga bawang merah yang harganya turun sebesar 21,55%. Andil deflasinya sebesar 0,23%. Penurunan harga terjadi di 60 kota IHK dengan penurunan tertinggi terjadi di Siantar, yaitu sebesar 65%, lalu disusul Padang Sidempuan yang mengalami penurunan harga sebesar 41%. “Kota-kota lainnya rata-rata mengalami penurunan harga sebesar 10-40%. Ini karena pasokan sudah mulai normal,” kata Suryamin.

Bawang putih memberikan andil kedua terbesar setelah bawang merah, yaitu sebesar 0,13%. Penurunan harga bawang putih secara total adalah sebesar 24,68%. Penurunan harga terjadi di 64 kota IHK dengan penurunan terbesar terjadi di Palopo sebesar 51% dan di Pangkal Pinang sebesar 41%. Rata-rata kota IHK mengalami penurunan harga sebesar 10-39%. Menurut Suryamin, penurunan harga bawang putih terjadi karena datangnya bawang putih impor, sehingga permintaan yang tinggi di pasar dapat diimbangi dengan penawaran yang sesuai.

Emas perhiasan turut menyumbangkan andil besar terhadap deflasi, yaitu 0,1%. Penurunan harga yang terjadi sebesar 4,55%. Turunnya harga emas perhiasan terjadi di 64 kota IHK akibat turunnya harga emas internasional yang mempengaruhi pasar domestik. Tomat sayur ikut andil pada terjadinya deflasi sebesar 0,03% dengan penurunan harga sebesar 17,16%. Sebanyak 34 kota IHK mengalami penurunan harga, dengan penurunan terbesar di Banda Aceh sebesar 53% serta Lhokseumawe dan Tasikmalaya yang mengalami penurunan sebesar 39%. “Pasokannya memang sudah cukup banyak,” kata Suryamin.

Cabe rawit mempunyai kontribusi deflasi yang sama besar dengan tomat sayur, dengan penurunan harga sebesar 16,47%. Penurunan terjadi di 53 kota IHK dengan yang terbesar di Sumenep 48% dan Mataram 45%. Rata-rata penurunan harga terjadi antara 10-42%. Sama halnya dengan tomat sayur, pasokan cabe rawit dari sentra produksi ke pasar sudah cukup banyak sehingga harga turun. Namun begitu, terdapat komponen yang menghambat deflasi, yaitu tarif listrik yang menyumbang andil penghambatan sebesar 0,9%. “Kenaikan harga terjadi di 64 kota IHK, yaitu antara 0,7% sampai 5%. Dua kota lainnya belum mendapat persetujuan Pemerintah Daerah setempat untuk menaikkan tarif listrik,” jelas Suryamin.

Beberapa komoditas lainnya yang menghambat deflasi alias mengalami inflasi adalah cabe merah, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, apel, rokok kretek filter, tarif air minum PAM, mie kering instant, daging ayam ras, ikan diawetkan, bayam, kentang, petai, sawi hijau, wortel, jeruk, pisang, rokok kretek, tarif sewa rumah, upah pembantu rumah tangga, dan tarif angkutan udara.

Perbandingan antarpulau

Sepanjang Mei 2013, dari kota-kota IHK di wilayah Pulau Sumatera yang berjumlah 16 kota, 8 kota di antaranya mengalami deflasi dan 8 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 0,47% dan terendah terjadi di Pekanbaru 0,01%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,88% dan terendah di Tanjung Pinang 0,27%. Sedangkan untuk kota-kota IHK di wilayah Pulau Jawa yang berjumlah 23 kota, 18 kota di antaranya mengalami deflasi dan 5 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Madiun 0,71% dan terendah di Tasikmalaya 0,01%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Bekasi 0,48% dan terendah terjadi di Bogor 0,01 %. Kota-kota IHK di laur Jawa dan Sumatera berjumlah 27 kota. Sebanyak 17 kota mengalami deflasi dan 10 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Mataram 1,03% dan terendah di Manado 0,15%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Ambon 2,25% dan terendah di Balikpapan, yaitu 0,16%. [iqbal]

Related posts