BI Keukeh Ingin Asas Resiprokal - Akuisisi Danamon

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, bersikap tegas mengenai tarik-ulur proses akuisisi saham mayoritas PT Bank Danamon Indonesia Tbk oleh Development Bank of Singapore (DBS) Group Holding Limited asal Singapura. Menurut Agus Marto, bank sentral tetap bersikukuh menerapkan asas resiprokal, khususnya dalam hubungan perbankan antardua negara, supaya tidak menguntungkan salah satu pihak saja.

“Kita belum ada sikap lain yang bisa disampaikan. Sebelumnya sudah disampaikan (penerapan asas resiprokal), dan itu menjadi pegangan. Itu intinya,” ungkap Agus Marto di Jakarta, Senin (3/6). Terlebih, lanjut dia bila salah satu pihak, dalam hal ini investor asing, ingin mengakuisisi saham bank lokal di atas 40%. Hal itu karena BI telah mengeluarkan aturan tentang Kepemilikan Saham Bank Umum, di mana lembaga keuangan bank hanya boleh memiliki maksimal 40% dari saham bank yang mau diakuisisi tersebut.

Sebagai informasi, investor asing tidak diperbolehkan memiliki 100% saham bank di Indonesia, melainkan maksimal hanya 40% dari saham. Akan tetapi, bila bank tersebut memiliki tingkat kesehatan yang bagus, tentunya melalui beberapa kriteria ketat, maka diperbolehkan membeli saham di atas 50% dengan persetujuan dari otoritas keuangan (bank sentral) negara asal.

Kalangan akademisi maupun legislatif sepakat tidak mendukung langkah aksi korporasi besar ini. Bahkan, Dosen FEUI, Aris Yunanto, menilai secara hukum, model akuisisi ini melanggar Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14 Tahun 2012 tentang Kepemilikan Saham Bank yang menyebut investor asing boleh menguasai saham bank maksimal 40%. Pasalnya, pemegang saham hanya dibolehkan menambah kepemilikan saham mereka apabila memenuhi penilaian BI selama tiga periode berturut-turut dalam kurun lima tahun.

\"Mereka yang berusaha memuluskan jalan bagi akuisisi Bank Danamon oleh DBS ini mesti berpikir ulang soal kepentingan negara dan bangsa, khususnya, industri keuangan nasional. Jika akuisisi ini diloloskan tanpa ada pembatasan yang jelas dan tegas, dipastikan mengancam industri perbankan nasional. Kekuatan modal yang luar biasa dari DBS akan dengan leluasa memasuki berbagai sektor,\" tegas Aris, belum lama ini. Lebih lanjut dia mencontohkan, Danamon yang cukup kuat di sektor ritel, telah masuk hingga ke tingkat kecamatan melalui unit pembiayaan mikro. Jika sahamnya dimiliki DBS otomatis mereka masuk dan melakukan intensifikasi dan ekspansi di tingkat mikro. Hal itu akan mematikan bank nasional.

Ketidaksetaraan perlakuan

Aris juga menyoroti soal ketidaksetaraan perlakuan antara bank asing dan bank nasional. Bank asal Indonesia, misalnya, sangat sulit untuk membuka cabang operasional dan menjalankan layanan ATM di negara lain seperti Singapura, sementara bank seperti DBS bisa leluasa melakukan aksi korporasi terhadap bank nasional. \"(Akuisisi) harus dengan sangat terbatas dan memperhatikan juga asas resiprokal,\" tegasnya.

Sementara anggota Komisi VI DPR, Lili Asdjudiredja, mengungkapkan akuisisi Danamon semakin menunjukkan penguasaan asing dalam perbankan nasional sehingga intervensi asing dalam berbagai kebijakan ekonomi moneter dan perbankan akan sangat besar. “Saya ngeri melihat situasi seperti ini. Mestinya, otoritas moneter menyadari soal ini dan mengubah pola pikir agar kita lebih mandiri, bukan sebaliknya menyerahkan banyak urusan pada asing tanpa pembatasan yang ketat,” ungkap Lili.

Menurut dia, sudah saatnya ada pembatasan yang jelas dan ketat terhadap kepemilikan asing di bank-bank nasional. Untuk kasus Danamon, Lili juga mempertanyakan mengapa tidak dijual sahamnya ke publik (tapi publik orang Indonesia) sehingga akses pengusaha Indonesia juga makin besar. “Pembatasan harus dengan regulasi yang jelas dan ketat,” tukas dia.

Seperti diketahui, DBS Group menginginkan 67,73% saham Bank Danamon yang dimiliki Asia Financial Indonesia (AFI), dengan membeli 100% saham Fullerton Financial Holding (FFH). AFI sendiri 100% sahamnya dimiliki oleh FFH. Melalui transaksi yang akan dilakukan di bursa Singapura ini, maka sebesar 67,37% saham Bank Danamon yang dimiliki AFI akan beralih ke DBS Grup.[ardi]

Related posts